Won - Rupiah Pimpin Asia Tendang Dolar, Ringgit Malah Menangis
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang Asia mayoritas menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (21/8/2026). Pelemahan dolar AS di pasar global memberi ruang bagi sebagian besar mata uang kawasan untuk bergerak positif.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.40 WIB, sebanyak tujuh dari 10 mata uang Asia terpantau menguat terhadap dolar AS. Sementara tiga mata uang lainnya melemah.
Won Korea Selatan masih menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pagi ini. Won melonjak 0,92% ke posisi KRW 1.381,1/US$.
Rupiah turut bergerak positif dengan penguatan 0,25% ke posisi Rp17.700/US$. Penguatan juga dicatatkan dolar Singapura yang terapresiasi 0,19% ke SGD 1,27/US$.
Baht Thailand menguat 0,12% ke posisi THB 32,80/US$. Yen Jepang dan dolar Taiwan sama-sama naik 0,08%, masing-masing ke JPY 158,91/US$ dan TWD 31,832/US$.
Dong Vietnam juga bergerak positif dengan penguatan 0,07% ke VND 26.080/US$.
Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan tekanan terdalam di Asia pagi ini. Ringgit melemah 0,07% ke posisi MYR 4,043/US$.
Yuan China dan peso Filipina sama-sama terkoreksi tipis 0,01%, masing-masing ke CNY 6,723/US$ dan PHP 61,671/US$.
Penguatan mayoritas mata uang Asia pagi ini te
rjadi seiring dengan pelemahan pada dolar AS di pasar global. Terlihat dari pergerakan Indeks dolar AS (DXY) yang pada pagi ini terpantau melemah 0,11% ke posisi 98,783 dan berpotensi mencatat pelemahan mingguan. Tekanan terhadap greenback muncul setelah investor menilai langkah pembelian kembali obligasi oleh Departemen Keuangan AS hanya menjadi solusi sementara untuk meredam gejolak di pasar obligasi.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan pemerintah dapat kembali meningkatkan pembelian kembali surat utang AS. Pernyataan itu muncul setelah Departemen Keuangan AS sebelumnya mengumumkan rencana menggandakan pembelian kembali obligasi bertenor panjang untuk meredam lonjakan imbal hasil.
Namun, langkah tersebut belum cukup menenangkan pasar. Investor masih mencermati kondisi fiskal AS, terutama di tengah kekhawatiran terhadap defisit dan utang pemerintah yang terus membesar.
Carol Kong, currency strategist Commonwealth Bank of Australia, menilai kebijakan tersebut menunjukkan pemerintah AS menggunakan instrumen yang tidak biasa untuk mengelola biaya pinjaman.
"Pembelian kembali obligasi jangka panjang oleh Treasury pada dasarnya merupakan contoh lain dari pemerintah AS menggunakan alat yang tidak konvensional untuk mengelola biaya pinjaman, dan ini terjadi di tengah tingginya utang pemerintah, defisit fiskal yang membesar, serta ketidakpastian kebijakan," ujar Kong, dikutip dari Reuters.
Menurut Kong, kondisi tersebut dapat menjadi tekanan tambahan bagi sentimen investor terhadap aset dolar AS.
"Saya bisa memahami mengapa orang khawatir operasi ini menjadi hambatan lain bagi sentimen investor terhadap aset dolar AS. Berpotensi kita bisa melihat langkah seperti ini mendorong lebih banyak lindung nilai dolar dan diversifikasi," ujar Kong.
Sementara itu, imbal hasil Treasury AS tenor panjang masih tetap tinggi setelah dorongan awal dari rencana pembelian kembali obligasi mulai memudar. Yield Treasury AS tenor 30 tahun berada di sekitar 5,2508%, sedangkan yield tenor 10 tahun berada di kisaran 4,7041%.
Goldman Sachs menilai persoalan yang dihadapi pasar obligasi AS saat ini lebih bersifat fiskal daripada teknis.
"Keraguan kami bukan karena pembuat kebijakan tidak memiliki alat untuk memengaruhi tenor panjang. Sejarah menunjukkan mereka memilikinya, setidaknya sementara. Keraguan kami adalah masalah hari ini tampaknya semakin bersifat fiskal, bukan teknis," tulis Vitali Meschoulam, strategist Goldman Sachs, dikutip dari Reuters.
CNCB INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)