MARKET DATA
Newsletter

Dolar Jatuh, BI Tahan Suku Bunga: Ada Harapan IHSG - Rupiah Berpesta

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia
20 August 2026 06:26
Pasar bullish vs bearish
Foto: Pixabay
  • Pasar keuangan Indonesia lagi-lagi ditutup beragam, bursa saham melemah sementara rupiah perkasa
  • Wall Street bangkit dari keterpurukan
  • Keputusan BI serta risalah FOMC dan data ekonomi akan menjadi penggerak pasar hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan Rabu kemarin. Bursa saham melemah sementara Rupiah menunjukan keperkasaannya. 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tertekan pada perdagangan Rabu (19/8/2026). Pelemahan terjadi setelah saham PT Bayan Resources Tbk (BYAN) melemah signifikan usai memberikan klarifikasi terkait rumor aksi korporasi.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG pada penutupan perdagangan Rabu turun 55,70 poin atau 0,86% ke level 6.394,12. IHSG dibuka di level 6.408,18 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.490 serta terendah 6.373.

Total transaksi kemarin mencapai Rp 14,27 triliun, yang melibatkan 36,01 miliar saham yang berpindah tangan 2,20 juta kali. Sebanyak 238 saham menguat, 363 melemah dan 188 stagnan.

Investor asing akhirnya mencatat net buy sebesar Rp 933,53 miliar.

Salah satu penekan utama indeks datang dari saham BYAN yang anjlok 9,41% ke level Rp 15.650. Padahal, pada perdagangan Selasa (18/8/2026), saham produsen batu bara tersebut ditutup melesat 19,97% ke Rp17.275 dan menjadi salah satu motor utama penguatan IHSG.

Beralih ke pasar valas, mata uang Garuda ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS), setelah Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuannya dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026.

Melansir Refinitiv, pada perdagangan Rabu (19/8/2026), rupiah ditutup menguat 0,14% ke posisi Rp17.825/US$. Penguatan ini membuat mata uang Garuda berhasil bertahan di zona hijau hingga akhir perdagangan.



Keputusan BI menjadi salah satu sentimen yang dicermati pasar sepanjang perdagangan kemarin. RDG Bank Indonesia pada 18-19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%.

"Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 18-19 Agustus 2026 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate sebesar 5,75%," ujar Pejabat Sementara (Pjs) Gubernur BI Destry Damayanti dalam konferensi pers online, Rabu (19/8/2026).

Sejalan dengan itu, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,75% dan suku bunga Lending Facility tetap sebesar 6,50%.

Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun melandai ke 7,04% pada Rabu kemarin, dari 7,1% pada Selasa. Melandainya imbal hasil menandai harga SBN yang tengah naik karena diburu investor.

Dari bursa saham AS, burs Wall Street akhirnya bangkit pada perdagangan Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia.

Indeks S&P 500 mengakhiri penurunan selama tiga hari berturut-turut setelah imbal hasil obligasi turun menyusul pengumuman Departemen Keuangan AS mengenai peningkatan program pembelian kembali (buyback) surat utang pemerintah berjangka panjang.

Indeks S&P naik 0,21% dan ditutup di level 7.707,98, sementara Nasdaq Composite menguat 0,16% menjadi 26.331,09. Indeks Dow Jones Industrial Average, yang terdiri dari 30 saham, terapresiasi 119,65 poin atau 0,22% dan berakhir di level 53.463,05.

Namun, penguatan saham mulai kehilangan momentum sepanjang sesi perdagangan. Pada awal perdagangan, Dow sempat melonjak lebih dari 360 poin atau 0,7%, yang menjadi level tertinggi hari itu. S&P 500 juga sempat naik 0,7%, sementara Nasdaq menguat 0,6%.

 

Kenaikan awal saham terjadi ketika imbal hasil obligasi Treasury AS tenor panjang turun setelah Departemen Keuangan AS mengatakan akan setidaknya menggandakan jumlah pembelian kembali surat utangnya.

Peningkatan buyback tersebut ditujukan untuk obligasi dengan tenor 10 hingga 30 tahun, termasuk obligasi tenor 20 tahun.

Imbal hasil Treasury 30 tahun yang pada sesi perdagangan sebelumnya mencatat level tertinggi baru dalam 19 tahun, yakni di atas 5,33% turun lebih dari 10 basis poin menjadi 5,184%. Sementara itu, imbal hasil Treasury 10 tahun turun lebih dari 6 basis poin menjadi 4,637%.

Saham-saham yang dipandang mendapat keuntungan dari penurunan suku bunga turut menguat. Saham Lowe's dan Home Depot masing-masing naik sekitar 2%.

"Saham-saham berbasis value, misalnya, berkinerja sangat baik hari ini. Ini menunjukkan bahwa perekonomian dan siklus laba perusahaan masih sangat kuat," kata Massimo Santicchia, Kepala Ekuitas AS di Procyon, dikutip dari CNBC International.

 

Namun, menurutnya, saat ini terdapat "ketegangan di pasar", karena di satu sisi fundamental ekonomi masih solid, tetapi di sisi lain biaya modal meningkat akibat tingginya imbal hasil obligasi.

Secara keseluruhan, Santicchia menilai kondisi saat ini masih merupakan "lingkungan yang sangat, sangat baik bagi saham" karena prospek laba perusahaan tetap kuat.

Saham Moderna melonjak lebih dari dua kali lipat, dengan kenaikan sekitar 177%, mencatatkan kinerja harian terbaik sepanjang sejarah perusahaan.

Lonjakan tersebut terjadi setelah vaksin eksperimental kanker kulit yang dikembangkan bersama Merck menunjukkan hasil positif dalam uji klinis tahap akhir. Saham Merck juga melonjak lebih dari 12%, sehingga turut menopang indeks Dow.

Saham Marvell Technology naik hampir 10% setelah perusahaan mengumumkan kesepakatan dengan Google terkait tensor processing unit (TPU) milik Google. Marvell juga memberikan waran kepada Alphabet untuk membeli saham biasa Marvell senilai hingga US$12,2 miliar.

Namun, sejumlah saham teknologi lainnya justru melemah setelah The Wall Street Journal melaporkan, mengutip sejumlah sumber, bahwa OpenAI mengungkap hasil kuartal II yang mengecewakan investor. Meskipun pendapatan meningkat 18% antara kuartal pertama dan kedua, kerugian perusahaan juga membesar.

 

Saham Broadcom turun lebih dari 4%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) merosot hampir 4%. ETF iShares AI Innovation and Tech Active (BAI) juga turun sekitar 2%.

Sebelumnya, rata-rata indeks saham utama AS melemah pada Selasa setelah imbal hasil obligasi pemerintah di berbagai negara mencapai level tertinggi dalam beberapa tahun, salah satunya akibat kekhawatiran terhadap inflasi.

Selain imbal hasil Treasury 30 tahun AS yang mencapai level tertinggi dalam 19 tahun, imbal hasil obligasi pemerintah Jepang tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi dalam tiga dekade. Imbal hasil obligasi Prancis tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2008, sementara imbal hasil obligasi pemerintah Jerman tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2011.

Risiko suku bunga yang lebih tinggi juga masih membayangi. Risalah rapat terbaru Federal Reserve yang dirilis pada Rabu menunjukkan bahwa pejabat The Fed melihat kemungkinan kenaikan suku bunga jika inflasi tidak mereda.

Dalam rapat The Fed pada Juli lalu, terdapat tiga pejabat yang berbeda pendapat (dissenters) dan memilih untuk menaikkan suku bunga.

Pasar keuangan Indonesia hari ini akan dibayangi sejumlah sentimen baik dari dalam ataupun luar negeri. Sentimen luar negeri datang dari risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) sementara dari dalam negeri adalah keputusan moneter BI serta data ekonomi.

1. BI Mempertahankan Suku Bunga

Bank Indonesia (BI) kembali mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang berlangsung pada 18-19 Agustus 2026.

Keputusan tersebut membuat BI telah menahan suku bunga acuan selama tiga bulan berturut-turut sejak Juni 2026, di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan tekanan terhadap pasar keuangan internasional.

Pejabat Sementara Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan keputusan mempertahankan BI-Rate sebesar 5,75% tetap sejalan dengan arah kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sekaligus memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran 2,5±1% pada 2026 dan 2027.

Menurutnya, kebijakan tersebut juga diarahkan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi domestik di tengah tingginya gejolak global yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Selain mempertahankan BI-Rate, BI juga tidak mengubah suku bunga Deposit Facility di level 5,00% dan Lending Facility sebesar 6,50%. Bank sentral menegaskan bauran kebijakan akan terus diperkuat melalui kombinasi instrumen moneter, makroprudensial, dan sistem pembayaran guna menjaga stabilitas sekaligus mendorong aktivitas ekonomi.

Dari sisi moneter, BI akan terus mengoptimalkan strategi stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar valuta asing, baik menggunakan instrumen Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar luar negeri maupun transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik. BI juga memastikan kecukupan likuiditas di pasar uang dengan menjaga pertumbuhan uang primer tetap berada di atas 10% sejalan dengan ekspansi moneter.

Bank sentral juga memperluas kebijakan insentif bagi transaksi lindung nilai. Insentif pengurangan premi swap jual lindung nilai sebesar 12,5% kini tidak lagi hanya berlaku untuk aliran dana portofolio asing, tetapi juga mencakup pinjaman luar negeri perbankan dan investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI). Kebijakan tersebut mulai berlaku efektif pada pekan kedua September 2026 untuk dana yang masuk sejak 1 Juli 2026.

 

Di sisi makroprudensial, BI mempercepat implementasi dua instrumen baru. Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial Pendalaman Pasar Uang (KLM PPU) akan mulai berlaku pada 1 September 2026 untuk memperkuat distribusi likuiditas dan mendorong penyaluran kredit ke sektor prioritas. Sementara itu, Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) akan diterapkan mulai 1 Oktober 2026 guna meningkatkan pembiayaan ke sektor-sektor inklusif dan berkelanjutan.

Pada sektor sistem pembayaran, BI melanjutkan agenda digitalisasi melalui implementasi Blueprint Sistem Pembayaran Indonesia (BSPI) 2030. F

okus kebijakan diarahkan pada percepatan penggunaan Kartu Kredit Indonesia (KKI), perluasan kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) QRIS sebesar 0% untuk transaksi hingga Rp100.000 yang efektif mulai 1 Oktober 2026, serta penyelenggaraan Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) dan Indonesia Fintech Summit & Expo (IFSE) pada 24-26 September 2026.

Ke depan, BI menegaskan akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah, Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.

Langkah tersebut ditempuh untuk menjaga stabilitas sistem keuangan, memperkuat ketahanan nilai tukar rupiah, meningkatkan aliran modal asing, serta memastikan bauran kebijakan tetap mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

2. Imbal Hasil Surat Utang Melandai, Dolar Melemah

Pasar keuangan global kembali bergairah setelah Departemen Keuangan AS menggandakan program buyback obligasi tenor panjang menjadi sedikitnya US$4 miliar per operasi dari sebelumnya US$2 miliar.

Langkah ini mendorong imbal hasil Treasury AS tenor panjang turun hingga 10 basis poin. US Treasury 30 tahun yang sebelumnya menyentuh 5,34%, level tertinggi hampir 20 tahun, kembali turun.

Penurunan yield menjadi angin segar bagi saham. Namun, dolar AS justru tertekan. Indeks dolar turun 0,84%, sementara emas melonjak 4,05% menjadi US$4.508,64 per troy ounce. Bitcoin juga melesat 6,06%.

Kekhawatiran terhadap utang pemerintah AS dan inflasi membuat investor memburu aset lindung nilai seperti emas.

Di pasar energi, harga minyak naik setelah ketegangan Timur Tengah meningkat. WTI naik 0,77% menjadi US$85,59 per barel, sedangkan Brent menguat 0,44% menjadi US$91,42.

Bagi Indonesia, pelemahan  yield obligasi AS juga menekan lonjakan imbal hasil SBN pada Rabu kemarin. Jika imbal hasil US Treasury terus melandai maka tekanan terhadap SBN akan berkurang sehingga rupiah bisa ikut menguat.

Melandainya imbal hasil juga berimbas pada dolar AS. Indeks dolar terjun ke 98,83 atau posisi terlemahnya sejak akhir Mei 2026 atau dua bulan terakhir. Pelemahan ini menjadi kabar baik buat rupiah.

Indeks dolar yang melemah menandai investor tengah menjual instrumen berdenominasi dolar sehingga ada harapan investor membeli instrumen non-denominasi dolar seperti rupiah.

3. Neraca perdagangan Jepang

Jepang hari ini akan mengumumkan neraca perdagangan periode Juli 2026

Juni kembali mencatat defisit sebesar 406,9 miliar yen. Angka tersebut berbalik dari surplus 122,3 miliar yen pada periode yang sama tahun lalu dan jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi pasar yang memperkirakan defisit sekitar 120 miliar yen.

Defisit ini menjadi yang kedua secara beruntun seiring laju impor yang kembali melampaui pertumbuhan ekspor. Nilai impor melonjak 25,4% secara tahunan menjadi rekor tertinggi 11,34 triliun yen. Kenaikan tersebut lebih cepat dibandingkan pertumbuhan 12,5% pada bulan sebelumnya, sekaligus melampaui proyeksi pasar sebesar 21%.

Lonjakan impor mencerminkan kuatnya permintaan domestik yang didorong paket stimulus pemerintah sejak akhir 2025. Selain itu, impor minyak mentah melonjak 59,3% seiring upaya Jepang mendiversifikasi sumber pasokan energi di tengah ketegangan yang masih berlangsung di sekitar Selat Hormuz.

 

Di sisi lain, ekspor Jepang tetap menunjukkan kinerja solid dengan naik 19,3% secara tahunan menjadi 10,93 triliun yen, tertinggi dalam tiga bulan terakhir. Pertumbuhan tersebut juga melampaui perkiraan konsensus sebesar 18,6% dan menjadi yang terkuat sejak November 2022.

Kinerja ekspor telah mencatat pertumbuhan selama 10 bulan berturut-turut. Pelemahan nilai tukar yen serta tingginya permintaan global terhadap chip untuk kecerdasan buatan (AI) menjadi faktor utama yang menopang ekspor, meski rantai pasok masih menghadapi gangguan akibat konflik di Iran.

Bagi Indonesia data perdagangan Jepang ditunggu karena mencerminkan tinggi lemahnya permintaan barang dari luar negeri. Jepang adalah salah satu mitra dagang terbesar Indonesia.

Jika impor Jepang naik maka ini menjadi kabar baik buat Indonesia karena ada harapan permintaan kiriman dari Indonesia ke Jepang naik.

4. China akan mengumumkan Loan Prime Rate (LPR) 

China akan mengumumkan keputusan mengenai Loan Prime rate (LPR).

Untuk Agustus, pasar memperkirakan LPR 1 tahun tetap 3,00% dan LPR 5 tahun tetap 3,50%. Jika sesuai ekspektasi, ini berarti China kembali mempertahankan suku bunga acuannya tanpa perubahan.

Bulan lalu, LPR 1 tahun yang menjadi acuan utama pinjaman korporasi dan rumah tangga tetap di 3,0%, sementara LPR 5 tahun yang menjadi referensi kredit properti dan KPR bertahan di 3,5%.

Keputusan ini menarik karena ekonomi China menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Penyaluran kredit baru yuan pada Juli bahkan mengalami kontraksi rekor, sementara permintaan domestik masih lemah. Namun, bank sentral China (PBOC) tampaknya lebih memilih menggunakan stimulus fiskal dan kebijakan yang lebih terarah ketimbang langsung memangkas LPR.

Pengumuman LPR ini menjadi salah satu agenda penting pasar Asia karena investor menunggu apakah PBOC akan memberikan stimulus moneter baru atau tetap mempertahankan LPR.

4. Risalah FOMC, Trump Geram ke The Fed

Bank sentral AS The Fed merilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada Rabu atau Kamis dini hari waktu Indonesia (20/8/2026).

Dokumen terbaru menunjukkan inflasi AS masih tinggi, sementara pasar tenaga kerja relatif stabil dan ekonomi terus tumbuh.

Meski mayoritas pejabat mendukung mempertahankan suku bunga, sejumlah pejabat justru mendukung kenaikan suku bunga. Banyak pejabat menilai suku bunga yang lebih tinggi kemungkinan diperlukan jika inflasi gagal turun. Namun, beberapa lainnya memilih kenaikan segera karena dinilai dapat mencegah kebutuhan kenaikan yang lebih besar di kemudian hari.

The Fed mencatat kenaikan harga dalam setahun terakhir terjadi secara luas, baik pada barang maupun jasa. Proyeksi inflasi dinilai relatif sama dengan perkiraan pada Juni, sementara prospek ekonomi sedikit lebih lemah.

Meski demikian, para pejabat secara umum masih memperkirakan pertumbuhan ekonomi tetap solid dalam jangka pendek. Investasi terkait kecerdasan buatan (AI) dan belanja rumah tangga menjadi sejumlah faktor yang menopang pertumbuhan.

The Fed juga menilai ketidakpastian ekonomi masih tinggi, salah satunya akibat konflik di Timur Tengah.

Sementara itu, Ketua The Fed Kevin Warsh mengusulkan agar rapat FOMC digelar enam kali setahun, atau sekitar setiap dua bulan. Menurutnya, jadwal tersebut memberikan lebih banyak waktu bagi pejabat untuk mengumpulkan data dan membahas strategi kebijakan moneter.

Namun, belum ada keputusan terkait perubahan jadwal tersebut dan agenda rapat The Fed sepanjang 2026 masih tetap sama.

Dalam perkembangan terbaru, Presiden AS Donald Trump kembali mendesak The Fed memangkas suku bunga. Ia menilai data ekonomi yang kuat justru seharusnya menjadi alasan untuk melonggarkan kebijakan moneter.

Trump juga menuding sejumlah pejabat The Fed bermotif politik, tetapi memuji Ketua The Fed Kevin Warsh yang disebutnya telah bekerja dengan baik.

Trump menilai suku bunga rendah diperlukan untuk menopang pertumbuhan sekaligus meringankan beban pembiayaan utang AS yang hampir US$40 triliun.

Desakan ini muncul setelah risalah FOMC Juli menunjukkan banyak pejabat The Fed masih membuka peluang suku bunga lebih tinggi jika inflasi tak kunjung turun menuju target 2%.

Sementara itu, ekonomi AS hanya tumbuh 1,5% pada kuartal II 2026, melambat dari 2,1% pada kuartal sebelumnya.
1

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Komisi V DPR menggelar Rapat Kerja bersama mitra (kementerian/lembaga) membahas Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2025 di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung Nusantara, Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat

    Opening Ceremony Karya Kreatif Indonesia 2026 yang akan dibuka oleh Pejabat Gubernur Sementara (PGS) Bank Indonesia di Hall B, Jakarta International Convention Center, Jakarta Pusat

  • Peluncuran Indonesia Bullion Market Association di Monas Grand Ballroom BSI Tower, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dan Direktur Utama BSI

  • Kemlu RI mengundang rekan media untuk menghadiri Press Briefing mengenai Rencana Pelaksanaan Comprehensive Strategic Dialog RI-RRT dan Perkembangan Isu Terkini Polugri di Ruang Palapa, kantor Kementerian Luar Negeri, Jakarta Pusat

  • Jepang akan mengumumkan data neraca dagang Juni 2026
  • Bank sentral China mengumumkan kebijakan suku bunga



Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

RUPS PT Krom Bank Indonesia Tbk
RUPS PT Organon Pharma Indonesia Tbk
Tanggal cum Dividen Tunai Interim Indonesian Paradise Property Tbk


Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:



Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH


(emb/emb) Next Article Minyak Membara, BI Tahan Suku Bunga: Bagaimana Nasib IHSG & Rupiah?


Most Popular
Features