Jejak Konflik Paling Berdarah Sepanjang Sejarah Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik bersenjata kembali menjadi perhatian dunia setelah ketegangan di Timur Tengah meningkat. Eskalasi yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat kembali mengangkat risiko geopolitik global, terutama terhadap pasar energi karena kawasan tersebut merupakan pusat produksi minyak dunia.
Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran menolak pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump yang menyebut Selat Hormuz akan menjadi wilayah AS usai perang. Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi menegaskan selat yang menjadi jalur sekitar seperlima perdagangan minyak dunia itu berada di bawah kedaulatan Iran. Di saat yang sama, pusat pemantauan pelayaran Inggris (UKMTO) melaporkan sebuah kapal curah terkena proyektil tak dikenal saat melintasi Selat Hormuz. Pemerintah Iran juga menegaskan belum ada perundingan baru dengan AS untuk mengakhiri konflik, sehingga ketegangan di kawasan masih berlangsung.
Perkembangan tersebut kembali mengingatkan bahwa perang selalu membawa dampak yang meluas, jauh melampaui medan tempur.
Pengalaman selama beberapa dekade memperlihatkan setiap perang besar selalu diikuti gangguan terhadap rantai pasok, lonjakan harga komoditas, serta meningkatnya ketidakpastian ekonomi. Harga minyak mentah umumnya menjadi aset yang paling cepat merespons perkembangan konflik karena pelaku pasar memperhitungkan potensi gangguan produksi maupun distribusi.
Namun dampak perang jauh melampaui persoalan ekonomi. Sepanjang sejarah, konflik bersenjata telah merenggut puluhan hingga ratusan juta nyawa. Sebagian besar korban berasal dari warga sipil yang terjebak di tengah pertempuran, kelaparan, wabah penyakit, hingga pengungsian massal.
Berbagai penelitian sejarah juga memperlihatkan korban terbesar perang sering kali muncul setelah pertempuran berakhir. Infrastruktur hancur, produksi pangan terganggu, layanan kesehatan lumpuh, sementara proses pemulihan dapat berlangsung selama puluhan tahun.
Perang dengan Korban Terbesar
Berikut rangkuman sejumlah perang dan rezim dengan korban terbesar dalam sejarah modern berdasarkan berbagai catatan sejarah.
1. Perang Dunia II (1939-1945)
Perang Dunia II merupakan konflik paling mematikan dalam sejarah modern. Perang dimulai ketika Jerman Nazi menginvasi Polandia pada 1 September 1939. Invasi tersebut mendorong Inggris dan Prancis menyatakan perang terhadap Jerman, kemudian berkembang menjadi konflik global yang melibatkan hampir seluruh kekuatan besar dunia.
Front pertempuran terbentang dari Eropa hingga Asia Pasifik. Uni Soviet berhasil membalikkan keadaan melalui Pertempuran Stalingrad, sementara Amerika Serikat masuk ke perang setelah Jepang menyerang Pearl Harbor pada Desember 1941.
Perang ini juga mencatat sejumlah tragedi kemanusiaan terbesar, termasuk Holocaust yang menewaskan lebih dari enam juta warga Yahudi, Pembantaian Nanjing oleh tentara Jepang, serta pengeboman atom di Hiroshima dan Nagasaki pada Agustus 1945.
Berbagai estimasi sejarah menyebut total korban jiwa Perang Dunia II mencapai sekitar 66 juta orang.
2. Era Mao Zedong
Setelah berdirinya Republik Rakyat China pada 1949, Mao Zedong menjalankan transformasi ekonomi melalui program Great Leap Forward pada 1958-1962. Kebijakan kolektivisasi pertanian dan industrialisasi cepat justru memicu penurunan produksi pangan secara drastis.
Laporan produksi yang tidak sesuai kondisi lapangan membuat pemerintah pusat tetap menarik hasil panen dalam jumlah besar. Krisis pangan kemudian berkembang menjadi salah satu bencana kelaparan terbesar dalam sejarah.
Pada 1966 Mao kembali meluncurkan Revolusi Kebudayaan. Kampanye tersebut menyasar pejabat, akademisi, guru, pelajar, hingga tokoh masyarakat yang dianggap berseberangan secara politik.
Sejumlah penelitian memperkirakan keseluruhan kebijakan pada era Mao menyebabkan sekitar 40 juta kematian.
3. Era Joseph Stalin
Joseph Stalin memimpin Uni Soviet sejak akhir 1920-an setelah mengonsolidasikan kekuasaan di Partai Komunis.
Program kolektivisasi pertanian memaksa jutaan petani menyerahkan lahan kepada negara. Penolakan terhadap kebijakan tersebut berujung pada penangkapan, deportasi, hingga eksekusi.
Dampaknya paling besar terlihat pada bencana kelaparan di Ukraina atau Holodomor pada awal 1930-an. Setelah itu Stalin menjalankan Great Purge pada 1936 melalui pembersihan politik secara besar-besaran.
Berbagai catatan sejarah memperkirakan rezim Stalin menyebabkan sekitar 20 juta korban jiwa.
4. Perang Dunia I (1914-1918)
Perang Dunia I dipicu pembunuhan Archduke Franz Ferdinand di Sarajevo. Sistem aliansi militer di Eropa membuat konflik tersebut berkembang menjadi perang berskala global.
Pertempuran berlangsung dalam sistem parit dengan penggunaan artileri berat, senapan mesin, dan gas beracun. Pertempuran Somme maupun Verdun menjadi simbol besarnya korban akibat perang modern.
Korban jiwa Perang Dunia I diperkirakan mencapai 15 juta orang.
5. Perang Saudara Rusia (1917-1922)
Revolusi Bolshevik tidak langsung mengakhiri konflik di Rusia. Tentara Merah berhadapan dengan Tentara Putih yang mendapat dukungan sejumlah negara Barat.
Selain pertempuran, korban terbesar berasal dari kelaparan, tifus, influenza, dan runtuhnya distribusi pangan.
Perang tersebut diperkirakan menyebabkan sekitar 9 juta kematian.
6. Perang Saudara China
Konflik panjang antara Kuomintang dan Partai Komunis berlangsung selama beberapa dekade. Pertempuran sempat berhenti ketika Jepang menginvasi China pada Perang Dunia II, kemudian kembali berlanjut setelah Jepang menyerah.
Perang berakhir dengan kemenangan Partai Komunis pada 1949, sementara pemerintahan Kuomintang berpindah ke Taiwan.
Korban jiwa diperkirakan mencapai 7 juta orang.
7. Perang Vietnam
Perang Vietnam menjadi salah satu konflik utama selama era Perang Dingin. Vietnam Utara memperoleh dukungan Uni Soviet dan China, sedangkan Vietnam Selatan didukung Amerika Serikat.
Konflik berlangsung melalui perang gerilya, operasi udara besar-besaran, serta berbagai tragedi kemanusiaan yang melibatkan warga sipil.
Jumlah korban diperkirakan mencapai lebih dari 4,2 juta orang.
8. Perang Kongo II
Konflik yang berlangsung pada 1998-2003 sering disebut sebagai Great African War karena melibatkan sembilan negara Afrika.
Perebutan sumber daya mineral menjadi salah satu pemicu utama konflik. Sebagian besar korban meninggal akibat kelaparan, penyakit, dan krisis kemanusiaan.
Perang ini diperkirakan menewaskan sekitar 3,8 juta orang.
9. Kelaparan Besar Korea Utara
Pada dekade 1990-an, Korea Utara mengalami krisis pangan berkepanjangan setelah kegagalan produksi pertanian, runtuhnya dukungan ekonomi Uni Soviet, serta bencana alam.
Berbagai penelitian memperkirakan sekitar 3 juta orang meninggal akibat kelaparan dan dampak kebijakan negara.
10. Perang Korea (1950-1953)
Perang Korea dimulai ketika Korea Utara menyerbu Korea Selatan pada 1950. Amerika Serikat dan pasukan Perserikatan Bangsa-Bangsa mendukung Seoul, sedangkan China membantu Pyongyang.
Konflik berakhir melalui gencatan senjata pada 1953 tanpa perjanjian damai permanen. Hingga kini kedua negara secara teknis masih berada dalam status perang.
Korban jiwa diperkirakan mencapai 3 juta orang.
Perang Terlama dalam Sejarah
Selain menelan korban besar, sejarah juga mencatat sejumlah konflik yang berlangsung selama puluhan hingga ratusan tahun karena perebutan wilayah, pengaruh politik, maupun agama.
Reconquista (711-1492)
Konflik berlangsung selama 781 tahun di Semenanjung Iberia antara kerajaan-kerajaan Kristen dan pemerintahan Muslim Moor.
Rangkaian peperangan berakhir setelah Granada, wilayah Muslim terakhir di Spanyol, jatuh pada 1492.
Perang Roma-Persia (54 SM-628 M)
Konflik antara Kekaisaran Roma dan Kekaisaran Parthia yang kemudian dilanjutkan Kekaisaran Sasaniyah berlangsung sekitar 682 tahun.
Perebutan Mesopotamia, Armenia, serta jalur perdagangan menjadi sumber utama konflik. Perang berkepanjangan melemahkan kedua kekaisaran sebelum ekspansi Kekhalifahan Islam.
Perang Inggris-Wales (800-1283)
Rangkaian perang selama 483 tahun terjadi akibat ekspansi Kerajaan Inggris ke wilayah Wales.
Konflik berakhir ketika Raja Edward I berhasil menaklukkan Wales pada 1283, meskipun pemberontakan masih berlanjut pada periode berikutnya.
Perang 335 Tahun (1651-1986)
Perang antara Kepulauan Scilly dan Belanda berlangsung selama 335 tahun, tetapi tidak pernah menghasilkan satu pun pertempuran.
Deklarasi perang pada 1651 tidak pernah diikuti perjanjian damai. Kesalahan administratif tersebut baru diselesaikan secara resmi pada 1986 setelah ditemukan oleh seorang sejarawan.
Perang Seratus Tahun (1337-1453)
Konflik antara Inggris dan Prancis berlangsung selama 116 tahun akibat sengketa hak suksesi Kerajaan Prancis.
Perang ini menjadi titik penting perkembangan teknologi militer Eropa, termasuk penggunaan busur panjang dan munculnya tokoh Joan of Arc. Prancis akhirnya keluar sebagai pemenang.
Perang Belanda-Portugis (1601-1661)
Perang berlangsung selama 60 tahun dan meluas ke Afrika, Asia, serta Amerika Selatan.
Persaingan menguasai jalur perdagangan internasional dan wilayah kolonial menjadi inti konflik. Belanda memperoleh sejumlah wilayah strategis, sementara kedua negara menanggung kerugian ekonomi yang besar.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(emb/emb)