HUT 81 RI, Segini Perbandingan Harta Orang Terkaya RI 2025 vs 2026
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia genap berusia 81 tahun pada Senin (17/8/2026). Selama lebih dari delapan dekade, peta kekayaan dan konglomerasi nasional terus berubah mengikuti krisis ekonomi, perkembangan teknologi, pergerakan pasar, serta naik-turunnya berbagai sektor usaha.
Perjalanan tersebut terlihat dari perubahan wajah orang-orang terkaya Indonesia. Dari konglomerat era Orde Baru yang tumbuh melalui perbankan, manufaktur, perdagangan, dan sumber daya alam, peta kekayaan berubah setelah krisis 1997/1998. Memasuki era Reformasi, muncul sumber kekayaan baru dari batu bara, petrokimia, pasar modal, hingga infrastruktur digital.
Setahun terakhir juga membawa perubahan besar. Komposisi lima orang terkaya Indonesia pada HUT ke-81 RI berbeda dibandingkan saat Indonesia merayakan 80 tahun kemerdekaan pada 2025.
Pergerakan harga saham, perubahan valuasi perusahaan, serta dinamika kepemilikan membuat posisi dua orang terkaya bertukar. Dua nama juga keluar dan digantikan konglomerat mapan dalam jajaran lima besar.
Perbandingan dilakukan menggunakan data Forbes Real-Time Billionaires pada momentum HUT ke-80 dan HUT ke-81 RI. Agar nilainya dapat dibandingkan secara konsisten, seluruh kekayaan dalam dolar AS dikonversi menggunakan asumsi kurs yang sama, yakni Rp17.845 per dolar AS.
Wajah Top 5 Saat HUT ke-81 RI
Berdasarkan Forbes Real-Time Billionaires yang diakses pada Senin pukul 10.00 WIB, Low Tuck Kwong menjadi orang terkaya Indonesia. Kekayaan pendiri Bayan Resources tersebut mencapai US$19,6 miliar atau sekitar Rp349,76 triliun.
Low disusul Prajogo Pangestu dengan kekayaan US$17,3 miliar atau sekitar Rp308,72 triliun. Pemilik Barito Pacific dan Chandra Asri tersebut menempati posisi kedua.
R. Budi Hartono dari Grup Djarum dan Bank Central Asia berada di posisi ketiga dengan kekayaan US$16,1 miliar atau setara Rp287,30 triliun.
Dua posisi terakhir ditempati Anthoni Salim serta Tahir dan keluarga. Kekayaan Anthoni mencapai US$10,9 miliar atau sekitar Rp194,51 triliun, sedangkan Tahir dan keluarga memiliki US$10,4 miliar atau sekitar Rp185,59 triliun.
Komposisi tersebut membuat lima besar pada HUT ke-81 RI didominasi konglomerat mapan dari sektor batu bara, petrokimia, energi, perbankan, tembakau, pangan, dan bisnis terdiversifikasi.
Anthoni mengendalikan Salim Group yang memiliki bisnis dari makanan hingga pertambangan. Sementara itu, Tahir dikenal melalui Mayapada Group yang bergerak di sektor perbankan, layanan kesehatan, media, dan properti.
Wajah Top 5 Saat HUT ke-80 RI
Komposisi orang terkaya Indonesia terlihat berbeda saat Indonesia memperingati HUT ke-80 RI pada 2025.
Prajogo saat itu berada di posisi pertama dengan kekayaan US$34,3 miliar. Dengan menggunakan asumsi kurs yang sama, nilainya mencapai sekitar Rp612,08 triliun atau hampir dua kali lipat dibandingkan kekayaannya pada HUT ke-81 RI.
Low berada di urutan kedua dengan kekayaan US$25,6 miliar atau sekitar Rp456,83 triliun. R. Budi Hartono menempati posisi ketiga dengan US$22 miliar atau Rp392,59 triliun.
Posisi keempat ditempati Michael Hartono dengan kekayaan US$21,1 miliar atau sekitar Rp376,53 triliun. Pendiri DCI Indonesia, Otto Toto Sugiri, berada di posisi kelima dengan US$16 miliar atau Rp285,52 triliun.
Dalam setahun, total kekayaan lima besar turun dari Rp2.123,56 triliun pada HUT ke-80 RI menjadi Rp1.325,88 triliun pada HUT ke-81 RI. Penurunannya mencapai sekitar Rp797,67 triliun atau 37,56%.
Tiga nama tetap bertahan di tiga posisi teratas, yakni Low, Prajogo, dan R. Budi Hartono. Namun, urutannya berubah. Low naik dari posisi kedua menjadi pertama, sedangkan Prajogo turun ke urutan kedua. R. Budi tetap berada di posisi ketiga.
Kekayaan Prajogo berkurang sekitar Rp303,37 triliun atau 49,56%. Kekayaan Low turun Rp107,07 triliun atau 23,44%, sedangkan kekayaan R. Budi menyusut sekitar Rp105,29 triliun atau 26,82%.
Penurunan tersebut tidak selalu berarti para konglomerat kehilangan uang secara tunai. Sebagian besar kekayaan mereka berasal dari estimasi nilai saham dan kepemilikan bisnis.
Ketika harga saham turun, estimasi kekayaan ikut menyusut meskipun sahamnya belum dijual. Sebaliknya, kenaikan harga saham dapat membuat nilai kekayaan melonjak dalam waktu singkat.
Bos Data Center Turun dari Top 5
Perubahan terjadi pada posisi keempat dan kelima. Michael Hartono tidak lagi tercatat dalam daftar real-time setelah wafat pada Maret 2026.
Sementara itu, Otto Toto Sugiri turun ke posisi keenam dengan kekayaan sekitar US$8,4 miliar atau Rp149,90 triliun. Meski keluar dari lima besar, Otto hanya terpaut sekitar Rp35,69 triliun dari Tahir dan keluarga.
Marina Budiman juga tetap berada di papan atas dengan kekayaan sekitar US$6 miliar atau Rp107,07 triliun. Kehadiran Otto dan Marina menunjukkan bahwa pusat data masih menjadi salah satu sumber kekayaan baru, meskipun para pelakunya kini berada di bawah konglomerat lama.
Perubahan tersebut juga menunjukkan persaingan antara kelompok usaha lama dan pengusaha dari industri baru. Ketika Indonesia memperingati HUT ke-80 RI, Otto berhasil menembus lima besar berkat lonjakan valuasi DCI Indonesia.
Setahun kemudian, posisinya digantikan Anthoni dan Tahir. Dua konglomerat tersebut mewakili kelompok usaha yang telah berkembang selama puluhan tahun dan memiliki bisnis terdiversifikasi.
Persaingan di posisi pertama juga tetap dinamis. Selisih kekayaan Low dan Prajogo mencapai US$2,3 miliar atau sekitar Rp41,04 triliun. Pergerakan saham Bayan Resources maupun emiten Grup Barito dapat kembali mengubah posisi orang terkaya Indonesia dalam waktu singkat.
Artikel mengenai HUT ke-80 RI sebelumnya menggabungkan kekayaan R. Budi dan Michael Hartono sebagai satu kelompok. Jika digabungkan, kekayaan Hartono bersaudara saat itu mencapai sekitar Rp769,12 triliun.
Perbandingan kali ini menggunakan setiap nama atau entri sebagaimana ditampilkan secara terpisah oleh Forbes. Dengan demikian, kekayaan R. Budi dan Michael Hartono tidak digabungkan.
Hasilnya, tiga nama bertahan di kelompok teratas, tetapi Low mengambil alih posisi pertama dari Prajogo. Sementara itu, dua kursi terakhir beralih dari Michael Hartono dan Otto Toto Sugiri kepada Anthoni Salim serta Tahir dan keluarga.
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls)