Harga Emas Terpenjara, Benarkah Tak Bisa Naik ke Level US$ 4.500?
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak turun setelah investor mengambil keuntungan usai harga sempat naik ke level tertinggi dalam dua bulan. Data inflasi Amerika Serikat (AS) yang sesuai ekspektasi juga membuat harapan kenaikan suku bunga The Fed bulan depan mereda.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (13/8/2026) ditutup di US$ 4350,16. Harganya jatuh 1,29%.
Pelemahan ini terjadi setelah emas menyentuh rekor tertinggi dua bulan pada Rabu.
Harga emas sedikit membaik pada hari ini. Pada Jumat (14/8/2026) pukul 06.50 WIB, harga emas menguat 0,22% ke US$ 4359,66 per troy ons.
"US$4.500 merupakan level resistance besar bagi emas. Kami sudah menyentuhnya dua kali dan harga kembali anjlok dari level tersebut," kata Bob Haberkorn, analis strategi pasar senior StoneX, dikutip dari Refinitiv.
Indeks Harga Produsen (PPI) AS untuk Juli tidak mengalami perubahan alias 0% secara bulanan.
Angka tersebut lebih rendah dari ekspektasi ekonom yang disurvei Dow Jones, yang memperkirakan PPI naik 0,2%.
Tidak termasuk harga pangan dan energi yang volatil, core PPI naik 0,2%, sedikit di bawah ekspektasi ekonom sebesar 0,3%.
Â
Data PPI yang lebih rendah dari perkiraan tersebut muncul sehari setelah rilis Indeks Harga Konsumen (CPI).
Penurunan harga barang mengimbangi kenaikan biaya jasa, menunjukkan tekanan inflasi masih berpotensi bertahan.
Sebelumnya, data inflasi AS menunjukkan inflasi tahunan Juli mencapai 3,4%, turun dari 3,5% pada Juni dan sesuai ekspektasi ekonom.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada September hanya 35%, turun dari 40% setelah data PPI dirilis.
Â
Suku bunga yang lebih rendah biasanya mendukung emas karena mengurangi biaya peluang memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil.
Analis independen Tai Wong mengatakan emas sebelumnya melonjak sekitar 9% dalam sepekan, didorong pembelian dari China dan investor ritel, sehingga aksi ambil untung mulai terjadi.
Emas telah melonjak cukup kuat, sekitar 9% dalam sepekan, didorong pembelian dari investor China dan investor ritel. Kini terlihat aksi ambil untung di sekitar rata-rata pergerakan 100 hari," kata analis independen Tai Wong.
Harga perak juga ikut jatuh.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Kamis (13/8/2026) ditutup di US$ 64,46. Harganya melemah 1,3%.
Harga perak mulai menguat pada hari ini. Pada Jumat (14/8/2026) pukul 06.50 WIB, harga perak menanjak 0,3% ke US$ 64,62 per troy ons.
(mae/mae) Next Article Harga Emas Jatuh & Membeku Jelang Pengumuman Penting dari Amerika