MARKET DATA

Peta Kekuatan Militer 15 Negara Timur Tengah 2026, Siapa Terkuat?

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
01 August 2026 19:00
Awas RI! Dihantam Konflik Iran VS Israel
Foto: Infografis/Awas RI! Dihantam Konflik Iran VS Israel/Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Timur Tengah memasuki Agustus 2026 dengan perang yang semakin melebar. Pertempuran tidak lagi hanya berlangsung di Gaza dan Lebanon, tetapi telah menjalar ke Iran, Irak, negara-negara Teluk, hingga jalur pelayaran utama dunia.

Pada Sabtu (1/8/2026), sebuah kapal tanker dilaporkan terkena proyektil tak dikenal sekitar 11 mil laut di timur laut Lima, Oman. Serangan tersebut merusak ruang mesin dan membuat kapal tidak dapat dikendalikan. Tidak ada korban jiwa maupun dampak lingkungan yang dilaporkan.

Lokasi serangan berada di dekat pintu masuk Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman. Selat ini menjadi salah satu jalur energi terpenting karena dalam kondisi normal dilalui sekitar seperlima pengiriman energi dunia.

Insiden itu terjadi sehari setelah Iran mengaku menghentikan dua kapal yang hendak keluar dari Selat Hormuz dan memaksa empat kapal tanker lainnya berbalik arah. Klaim tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Ketegangan di laut merupakan bagian dari perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Iran yang telah berlangsung sejak 28 Februari 2026. AS dan Israel menyerang Iran, sementara Teheran membalas dengan menargetkan Israel serta pangkalan militer AS di negara-negara Teluk.

Konflik kembali memanas pada Juli setelah kesepakatan gencatan senjata sementara gugur.

Pada 29 Juli 2026, militer AS melancarkan serangan selama dua jam terhadap puluhan fasilitas Korps Garda Revolusi Iran (IRGC), termasuk pusat komando, fasilitas rudal dan drone, pertahanan pesisir, serta kemampuan maritim Iran.

Iran kemudian menyerang fasilitas militer AS di Kuwait dan Bahrain pada Jumat (31/7/2026). Kuwait menyatakan berhasil menghancurkan sejumlah drone, meski puing-puingnya menimbulkan kerusakan.

Perang juga melebar ke Arab Saudi dan Irak. Kelompok Houthi di Yaman mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada 20 Juli 2026 serta menyerang kapal tanker dan infrastruktur Saudi.

Pada akhir Juli, AS dan Arab Saudi melancarkan serangan bersama terhadap lokasi kelompok bersenjata pro-Iran di Irak. Serangan dilakukan setelah fasilitas minyak di wilayah timur Arab Saudi menjadi sasaran.

Daftar Perang Besar di Timur Tengah

Konflik yang terjadi pada 2026 merupakan kelanjutan dari sejarah panjang perang dan perebutan pengaruh di Timur Tengah. Berikut sejumlah perang besar yang pernah dan masih berlangsung di kawasan tersebut:

1. Perang Arab-Israel

Perang Arab-Israel berlangsung dalam beberapa periode, yakni 1948, 1956, 1967, dan 1973.

Perang 1948 pecah setelah berdirinya Israel dan berakhir dengan penguasaan wilayah yang lebih luas oleh Israel. Konflik kembali terjadi dalam Krisis Suez 1956.

Dalam Perang Enam Hari 1967, Israel merebut Tepi Barat, Jalur Gaza, Dataran Tinggi Golan, dan Semenanjung Sinai. Mesir dan Suriah kemudian menyerang Israel pada Perang Yom Kippur 1973.

2. Perang Iran-Irak

Iran dan Irak berperang pada 1980-1988. Konflik dipicu sengketa wilayah, persaingan kekuasaan regional, serta kekhawatiran Irak terhadap penyebaran Revolusi Iran 1979.

Perang berlangsung selama delapan tahun dan menewaskan ratusan ribu orang tanpa menghasilkan perubahan wilayah yang berarti.

3. Perang Teluk

Perang Teluk bermula ketika Irak di bawah Saddam Hussein menginvasi Kuwait pada Agustus 1990.

AS dan koalisi internasional kemudian menjalankan Operasi Desert Storm pada Januari 1991. Pasukan Irak berhasil dipukul mundur dari Kuwait.

4. Perang Irak

AS dan sekutunya menyerbu Irak pada Maret 2003 dengan alasan pemerintahan Saddam Hussein memiliki senjata pemusnah massal.

Saddam berhasil digulingkan, tetapi senjata tersebut tidak ditemukan. Kekosongan kekuasaan setelah perang memperbesar konflik sektarian dan turut membuka jalan bagi kemunculan ISIS.

5. Perang Saudara Suriah

Perang Suriah bermula dari demonstrasi pada 2011 yang kemudian berkembang menjadi konflik antara pemerintahan Bashar al-Assad, kelompok pemberontak, ISIS, pasukan Kurdi, dan berbagai kekuatan asing.

Perang utama berakhir setelah rezim Assad jatuh pada Desember 2024. Namun, Suriah masih menghadapi kekerasan sektarian, konflik bersenjata lokal, serta serangan Israel.

Israel juga menguasai sejumlah wilayah strategis setelah kejatuhan Assad. Pemerintahan Presiden Ahmed al-Sharaa kini berusaha mencapai kesepakatan keamanan dengan Israel tanpa melepaskan klaim Suriah atas Dataran Tinggi Golan.

6. Perang Yaman

Perang Yaman dimulai pada 2014 ketika kelompok Houthi menguasai Sanaa. Arab Saudi dan sejumlah negara Arab kemudian melakukan intervensi militer pada 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman.

Garis pertempuran utama relatif membeku dalam beberapa tahun terakhir. Namun, serangan Houthi terhadap Arab Saudi dan kapal-kapal di Laut Merah sepanjang Juli 2026 meningkatkan risiko perang kembali meluas.

7. Perang Israel-Hamas di Gaza

Perang terbaru di Gaza dimulai setelah serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023. Israel membalas dengan operasi militer besar yang menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.

Pada akhir Juli 2026, Presiden AS Donald Trump mengumumkan peta jalan baru untuk mengakhiri perang. Namun, Israel dan Hamas masih berbeda pendapat mengenai urutan penarikan pasukan dan pelucutan senjata.

Serangan di Gaza masih terjadi setelah peta jalan tersebut diumumkan.

8. Perang Israel-Hezbollah di Lebanon

Perang terbaru Israel dan Hezbollah pecah pada 2 Maret 2026, dua hari setelah AS dan Israel menyerang Iran. Hezbollah menembakkan roket ke Israel sebagai bentuk dukungan terhadap Teheran.

Israel membalas dengan serangan udara hingga Beirut dan operasi darat yang menguasai sebagian wilayah Lebanon selatan.

Kesepakatan pada Juni 2026 mengatur penarikan bertahap pasukan Israel dengan syarat Hezbollah dilucuti. Namun, Hezbollah menolak menyerahkan senjata dan pasukan Israel masih bertahan di sejumlah wilayah.

9. Perang AS-Israel dan Iran

Konflik langsung AS-Israel dengan Iran dimulai pada 28 Februari 2026. Perang ini berbeda dari konflik sebelumnya karena melibatkan serangan terbuka terhadap wilayah Iran dan serangan balasan ke Israel serta pangkalan AS di kawasan Teluk.

Pertempuran turut mengganggu pelayaran di Selat Hormuz dan menyeret kelompok-kelompok pro-Iran di Lebanon, Irak, serta Yaman. Perang ini menjadi konflik paling luas di Timur Tengah pada 2026.

Kekuatan Militer Timur Tengah 2026

Turki menjadi negara dengan militer terkuat di Timur Tengah pada 2026 berdasarkan indeks Global Firepower. Negara tersebut mencatatkan Power Index sebesar 0,1975, terendah dibandingkan negara lain di kawasan.

Sebagai catatan, semakin rendah nilai Power Index (PwrIndx), semakin kuat kemampuan tempur konvensional suatu negara. Penilaian dilakukan menggunakan lebih dari 60 faktor, termasuk jumlah personel, kekuatan udara, armada darat dan laut, anggaran pertahanan, logistik, sumber daya alam, serta kondisi geografis.

Israel menempati urutan kedua di Timur Tengah dengan skor 0,2707, disusul Iran sebesar 0,3199. Keduanya juga memiliki posisi yang berdekatan dalam peringkat dunia. Israel berada di urutan ke-15, sementara Iran menyusul di posisi ke-16.

Mesir berada di urutan keempat kawasan dengan skor 0,3651. Selanjutnya, Arab Saudi menempati posisi kelima dengan skor 0,4473, Irak berada di urutan keenam dengan skor 0,8115, sedangkan Yordania menempati posisi kesembilan dengan skor 1,5581.

Secara keseluruhan, GFP memasukkan 15 negara ke dalam daftar kekuatan militer Timur Tengah 2026. Turki tidak hanya memimpin kawasan, tetapi juga menempati peringkat kesembilan dunia. Negara tersebut menjadi satu-satunya kekuatan di Timur Tengah yang memiliki peringkat lebih tinggi daripada Israel.

Persaingan terdekat terlihat antara Israel dan Iran. Israel unggul dalam Power Index, jumlah pesawat tempur, serta anggaran pertahanan. Sebaliknya, Iran memiliki tentara aktif, tank, kendaraan militer, peluncur roket, dan kapal selam yang lebih banyak.

Arab Saudi berada dalam kelompok lima besar berkat anggaran pertahanan yang besar dan kekuatan udaranya.

Sementara itu, Irak dan Yordania memiliki kekuatan darat cukup besar, tetapi masih tertinggal dalam sejumlah aspek seperti kekuatan udara, laut, anggaran, dan logistik.

Meski demikian, peringkat GFP tidak dapat digunakan untuk memastikan pemenang dalam perang. Indeks tersebut terutama mengukur kemampuan tempur diatas kertas dan tidak memperhitungkan dukungan sekutu, kualitas intelijen, pengalaman tempur, kesiapan pasukan, maupun penggunaan senjata nuklir.

Israel selama ini diyakini memiliki senjata nuklir meskipun tidak pernah mengakuinya secara resmi. GFP juga mengategorikan Israel sebagai kekuatan nuklir yang tidak dideklarasikan.

Posisi Turki di atas Israel dalam indeks pun tidak otomatis menunjukkan Ankara akan menang jika kedua negara terlibat pertempuran langsung.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)



Most Popular