MARKET DATA

Ledakan AI Berbalik Jadi Ancaman, Mengapa Bursa Korea-Taiwan Rentan?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
30 July 2026 08:41
Korea Composite Stock Price Index (KOSPI). (Tangkapan Layar Reuters/)
Foto: Korea Composite Stock Price Index (KOSPI). (Tangkapan Layar Reuters/)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar saham Korea Selatan dan Taiwan kembali mengalami volatilitas ekstrem. Pemantiknya datang dari Wall Street setelah saham Nvidia ditutup turun hampir 5% pada Senin (27/7/2026), disusul aksi jual besar-besaran pada saham semikonduktor Asia.

Pada Selasa (28/7/2026), indeks Kospi Korea Selatan ditutup anjlok 10,84%.

Samsung Electronics jatuh sekitar 14%, sedangkan SK hynix merosot 14,7%. Tekanan berlanjut pada Rabu (29/7/2026), ketika Kospi sempat kehilangan 12,6% dan memicu penghentian perdagangan sementara sebelum akhirnya ditutup turun 5,98% ke 5.663,24.

Taiwan juga tidak kebal. Indeks Taiex pada Rabu ditutup melemah 3,76% ke 40.039,18, dengan TSMC ikut turun sekitar 3,5%. Pergerakan tersebut memperlihatkan bahwa ketika sentimen terhadap Nvidia dan investasi artificial intelligence (AI) berubah, dampaknya dapat membesar dengan cepat di Korea Selatan dan Taiwan.

Nvidia Jadi Pemantik

Penurunan Nvidia terjadi setelah muncul laporan bahwa perusahaan tersebut sedang membahas pemberian jaminan pembiayaan sekitar US$250 miliar untuk proyek pusat data yang akan digunakan OpenAI di Ohio. Nvidia juga disebut membicarakan dukungan pembiayaan pembelian chip dalam jumlah yang jauh lebih besar.

Informasi itu berasal dari laporan The Wall Street Journal yang dikutip Reuters dan belum diverifikasi secara independen oleh Reuters. Namun, pasar langsung merespons karena skema tersebut menghidupkan kembali kekhawatiran mengenai circular financing dalam industri AI.

 

Investor mempertanyakan apakah permintaan chip AI sepenuhnya ditopang oleh kebutuhan ekonomi pelanggan atau sebagian bergantung pada pembiayaan dari perusahaan yang juga berkepentingan menjual chip.

Model tersebut tidak otomatis bermasalah, tetapi meningkatkan risiko apabila pendapatan yang dihasilkan pusat data AI tidak sebanding dengan utang dan modal yang dikeluarkan.

Karena Nvidia menjadi barometer utama perdagangan AI global, penurunannya dibaca sebagai sinyal untuk mengurangi eksposur terhadap seluruh rantai pasok semikonduktor.

Kospi Terlalu Bergantung pada Dua Saham

Dampak di Korea Selatan jauh lebih besar karena struktur Kospi sangat terkonsentrasi. Berdasarkan perhitungan CNBC Indonesia menggunakan kapitalisasi pasar penutupan 29 Juli 2026, Samsung Electronics diperkirakan mewakili sekitar 28,3% kapitalisasi pasar Kospi, sedangkan SK hynix sekitar 22,8%.

Secara gabungan, kedua produsen chip tersebut menguasai sekitar 51,1% kapitalisasi pasar Kospi. Artinya, lebih dari separuh arah pasar Korea Selatan sangat dipengaruhi oleh hanya dua saham.

 

Perhitungan ini menggunakan harga penutupan Samsung Electronics sebesar 208.500 won, harga SK hynix sebesar 1.401.000 won, jumlah saham biasa masing-masing perusahaan, serta total kapitalisasi pasar Kospi sekitar 4.365,6 triliun won. Angkanya bersifat estimasi dan tidak memasukkan saham preferen Samsung sebagai bagian dari Samsung Electronics dalam grafik.

Konsentrasi tersebut menjelaskan mengapa penurunan Nvidia sebesar hampir 5% dapat diterjemahkan menjadi koreksi Kospi yang jauh lebih dalam. Ketika Samsung dan SK hynix turun bersamaan, saham-saham sektor lain tidak memiliki bobot yang cukup besar untuk menahan indeks.

Korea Selatan juga menjadi proxy perdagangan AI karena SK hynix merupakan pemasok utama high-bandwidth memory (HBM) untuk akselerator AI. Samsung Electronics pun memperbesar investasi di chip memori AI. Dengan demikian, setiap keraguan terhadap belanja pusat data global langsung memengaruhi ekspektasi pendapatan keduanya.

Taiwan Menghadapi Risiko Serupa

Taiwan memiliki masalah konsentrasi yang mirip. TSMC mewakili lebih dari 40% kapitalisasi pasar saham Taiwan dan menjadi produsen chip canggih bagi Nvidia serta perusahaan teknologi global lainnya.

Ketika investor mengurangi posisi pada saham AI, pelemahan TSMC hampir otomatis menyeret Taiex. Namun, tekanan di Taiwan pada periode ini masih lebih kecil dibandingkan Korea karena pasar Korea menghadapi tambahan risiko dari leverage investor ritel dan produk ETF saham tunggal berleverage.

Laba Besar Tidak Lagi Cukup

Volatilitas juga muncul karena ekspektasi terhadap perusahaan semikonduktor sudah terlalu tinggi. SK hynix melaporkan laba operasional kuartal II-2026 sebesar 60,5 triliun won, melonjak 557% secara tahunan dan mencetak rekor.

Meski demikian, hasil tersebut masih berada di bawah perkiraan pasar sekitar 64 triliun won. Pendapatannya juga tidak memenuhi estimasi, antara lain karena pengiriman HBM4 berjalan lebih lambat dari yang diharapkan.

 

Reaksi pasar memperlihatkan perubahan rezim. Investor tidak lagi hanya bertanya apakah laba perusahaan tumbuh, tetapi apakah pertumbuhan itu cukup besar untuk membenarkan lonjakan harga saham sebelumnya. Ketika hasil yang sangat kuat sekalipun sedikit di bawah ekspektasi, aksi ambil untung dapat berubah menjadi penjualan besar.

Leverage Memperbesar Kejatuhan

Reli Kospi sebelumnya juga ditopang penggunaan dana pinjaman dan ETF berleverage oleh investor ritel. Nilai investasi dengan pembiayaan margin di saham-saham Kospi sempat mendekati 30 triliun won pada akhir Juni 2026.

Leverage memperbesar keuntungan ketika harga naik. Sebaliknya, ketika harga jatuh, investor harus menambah jaminan atau menghadapi penjualan paksa. Penjualan tersebut menekan harga lebih dalam, memicu margin call baru, lalu menciptakan lingkaran penurunan.

 

Pemerintah dan regulator Korea Selatan akhirnya mengevaluasi pengawasan terhadap ETF saham tunggal berleverage yang banyak terkait dengan Samsung dan SK hynix. Faktor teknis ini menjelaskan mengapa koreksi fundamental dapat berkembang menjadi pergerakan indeks dua digit dalam satu sesi.

Ancaman China Mengubah Narasi

Tekanan juga datang dari kemajuan industri semikonduktor China. Investor mencermati perkembangan produsen memori CXMT serta laporan mengenai kemajuan peralatan litografi domestik China.

Perusahaan Korea masih memimpin teknologi HBM, tetapi pasar mulai memperhitungkan risiko persaingan, ekspansi kapasitas, dan kemungkinan kelebihan pasokan. Selain itu, kemunculan model AI yang lebih efisien menimbulkan pertanyaan apakah kebutuhan komputasi akan terus tumbuh seagresif perkiraan sebelumnya.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular