MARKET DATA

Rupiah Loyo Hari Ini, Gagal Bersaing dengan Ringgit - Yen

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 July 2026 09:55
Mata uang asia. (Dok. Pexels)
Foto: Mata uang asia. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan awal pekan, Senin (27/7/2026). Pelemahan indeks dolar AS memberi ruang bagi sejumlah mata uang kawasan untuk bergerak positif.

Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia yang dipantau, sebanyak enam mata uang menguat terhadap dolar AS, sementara empat lainnya melemah.

Baht Thailand menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia pada pagi ini. Baht naik 0,39% ke posisi THB 33,54/US$.

Ringgit Malaysia dan yen Jepang juga menguat cukup solid, masing-masing naik 0,20%. Ringgit berada di posisi MYR 4,080/US$, sementara yen Jepang berada di JPY 163,53/US$.

Dolar Singapura turut bergerak positif dengan penguatan 0,09% ke posisi SGD 1,289/US$. Yuan China naik 0,06% ke CNY 6,7675/US$, sementara dong Vietnam menguat 0,04% ke VND 26.314/US$.

Namun sayangnya, rupiah belum mampu mengikuti penguatan mayoritas mata uang Asia. Mata uang Garuda melemah 0,14% ke posisi Rp17.960/US$. Posisi ini membuat rupiah masih bergerak dekat dengan level psikologis Rp18.000/US$.

Rupiah melemah di tengah kabar mengejutkan yang datang dari Bank Indonesia (BI). Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Gubernur BI pada Sabtu (25/7/2026).

Tekanan terdalam pagi ini dialami won Korea Selatan yang melemah 0,54% ke posisi KRW 1.467,2/US$. Dolar Taiwan juga turun 0,11% ke TWD 32,363/US$, sementara peso Filipina terkoreksi 0,06% ke PHP 61,702/US$.

Pergerakan mata uang Asia pagi ini terjadi di tengah pelemahan dolar AS di pasar global. Dolar AS melemah pada awal pekan yang padat agenda bank sentral, termasuk rapat Federal Open Market Committee (FOMC) bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed).

Pasar masih menimbang peluang kenaikan suku bunga AS dalam waktu dekat. Hal ini terlihat dari pergerakan indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia.

DXY terpantau melemah 0,33% ke posisi 101,132. Pelemahan dolar AS ini menjadi salah satu sentimen positif bagi mata uang kawasan pada awal pekan ini.

Meski begitu, ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed belum sepenuhnya hilang. Fed funds futures memperhitungkan peluang 36,3% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat dua hari yang berakhir Rabu, menurut CME Group FedWatch Tool.

Di sisi lain, sentimen pasar global membaik setelah AS menghentikan sementara kampanye serangan terhadap Iran pada akhir pekan. Langkah tersebut membuat harga minyak turun dan mendorong kepercayaan investor global.

Harga minyak turun tajam pada awal perdagangan Asia. Brent melemah 4,7% ke US$92,19 per barel setelah militer AS untuk sementara menghentikan serangan yang telah berlangsung selama dua pekan.

Seorang pejabat senior Iran mengatakan kepada Reuters pada Minggu bahwa Iran juga akan menghentikan serangannya selama AS melakukan hal yang sama. Hal ini terjadi setelah dorongan diplomatik yang dipimpin China untuk melanjutkan upaya perdamaian di Pakistan.

Analis Westpac menilai sentimen pasar mendapat dukungan dari kabar pembicaraan damai baru.

"Sentimen pasar didukung oleh laporan bahwa Pakistan dan Iran sedang menjajaki pembicaraan damai baru dengan AS dan ekspor minyak dari Timur Tengah tetap mengalir," tulis analis Westpac dalam risetnya, dikutip dari Reuters.

Westpac juga mencatat bahwa AS menghentikan sementara serangan terhadap Iran sepanjang akhir pekan, meski ketegangan di kawasan masih belum sepenuhnya mereda.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular