MARKET DATA

Deretan Kegagalan Messi, Piala Dunia 2026 Bukan Paling Menyakitkan

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
20 July 2026 14:20
Lionel Messi bereaksi dalam pertandingan final Piala Dunia FIFA 2026 antara Argentina dan Spanyol di New York/New Jersey Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026). (REUTERS/Lee Smith)
Foto: Lionel Messi bereaksi dalam pertandingan final Piala Dunia FIFA 2026 antara Argentina dan Spanyol di New York/New Jersey Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026). (REUTERS/Lee Smith)

Jakarta, CNBC Indonesia - Argentina gagal mempertahankan gelar juara Piala Dunia setelah kalah 0-1 dari Spanyol pada laga final Piala Dunia 2026 di New York New Jersey Stadium, East Rutherford, Minggu (19/7/2026) waktu setempat atau Senin dini hari WIB.

Pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan setelah kedua tim bermain tanpa gol selama 90 menit. Spanyol akhirnya memastikan kemenangan melalui gol Ferran Torres pada menit ke-106.

Kegagalan tersebut meninggalkan kesedihan mendalam bagi Lionel Messi. Bintang Argentina itu terlihat meneteskan air mata setelah pertandingan berakhir. Pada usianya yang sudah tidak muda lagi, yakni 39 tahun, laga tersebut sangat mungkin menjadi penampilan terakhir Messi di Piala Dunia.

Argentina bukan hanya gagal mempertahankan gelar yang diraih di Qatar pada 2022, tetapi juga kehilangan kesempatan memberikan akhir sempurna bagi perjalanan Messi bersama tim nasional.

Pemain depan Argentina # 10 Lionel Messi memegang penghargaan Bola Emas untuk pemain terbaik saat ia melihat Trofi Piala Dunia FIFA selama upacara trofi pada akhir pertandingan sepak bola final Piala Dunia Qatar 2022 antara Argentina dan Prancis di Stadion Lusail di Lusail, utara Doha, Qatar, Minggu (18/12/2022).  Argentina menjadi juara Piala Dunia 2022 setelah menang adu penalti atas Prancis 4-2. (Photo by ANNE-CHRISTINE POUJOULAT/AFP via Getty Images)Pemain depan Argentina # 10 Lionel Messi memegang penghargaan Bola Emas untuk pemain terbaik saat ia melihat Trofi Piala Dunia FIFA selama upacara trofi pada akhir pertandingan sepak bola final Piala Dunia Qatar 2022 antara Argentina dan Prancis di Stadion Lusail di Lusail, utara Doha, Qatar, Minggu (18/12/2022). Argentina menjadi juara Piala Dunia 2022 setelah menang adu penalti atas Prancis 4-2. (Photo by ANNE-CHRISTINE POUJOULAT/AFP via Getty Images) Foto: Pemain depan Argentina # 10 Lionel Messi memegang penghargaan Bola Emas untuk pemain terbaik saat ia melihat Trofi Piala Dunia FIFA selama upacara trofi pada akhir pertandingan sepak bola final Piala Dunia Qatar 2022 antara Argentina dan Prancis di Stadion Lusail di Lusail, utara Doha, Qatar, Minggu (18/12/2022). Argentina menjadi juara Piala Dunia 2022 setelah menang adu penalti atas Prancis 4-2. (Photo by ANNE-CHRISTINE POUJOULAT/AFP via Getty Images)

Meski terasa pedih, kekalahan dari Spanyol bukan satu-satunya pengalaman pahit Messi bersama Tim Tango. Sebelum meraih berbagai gelar bersama negaranya, Messi pernah melewati masa yang dipenuhi kegagalan dalam pertandingan penting.

Dari seluruh kekalahan tersebut, final Piala Dunia 2014 dan final Copa America 2016 menjadi dua momen yang paling menyakitkan dalam perjalanan Messi bersama Argentina.

Final Piala Dunia 2014

Kekalahan dari Jerman pada final Piala Dunia 2014 layak disebut sebagai kegagalan paling menyakitkan bagi Messi. Ketika itu, Messi berusia 27 tahun dan sedang berada dalam puncak karirnya sebagai pesepak bola.

Messi datang ke Brasil setelah melewati masa keemasan bersama Barcelona. Ia telah meraih berbagai gelar di level klub, termasuk Liga Champions, La Liga, dan sejumlah penghargaan Ballon d'Or. Namun, satu gelar besar yang belum dimilikinya adalah trofi bersama tim nasional senior Argentina.

Pada Piala Dunia 2014, Messi menjadi pemain kunci yang membawa Argentina menuju final untuk pertama kalinya sejak 1990. Ia pun mencetak empat gol dan beberapa kali menjadi penentu kemenangan, terutama pada fase grup.

Argentina kemudian berhadapan dengan Jerman di Stadion Maracana, Rio de Janeiro. Albiceleste sebenarnya memperoleh sejumlah peluang untuk mencetak gol melalui Gonzalo Higuain, Rodrigo Palacio, dan Messi.

Lionel Messi tampak tertunduk usai Argentina kalah dari Spanyol pada final Piala Dunia FIFA 2026 di New York/New Jersey Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026). (REUTERS/Hannah Mckay)Lionel Messi tampak tertunduk usai Argentina kalah dari Spanyol pada final Piala Dunia FIFA 2026 di New York/New Jersey Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026). (REUTERS/Hannah Mckay) Foto: Lionel Messi tampak tertunduk usai Argentina kalah dari Spanyol pada final Piala Dunia FIFA 2026 di New York/New Jersey Stadium, East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026). (REUTERS/Hannah McKay)

Namun, tidak satu pun kesempatan tersebut berhasil diselesaikan.

Pertandingan tanpa gol selama 90 menit dan harus dilanjutkan ke babak tambahan. Harapan Argentina akhirnya runtuh setelah Mario Gotze mencetak gol pada menit ke-113 dan membawa Jerman menang 1-0.

Messi kemudian menerima Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen. Namun, wajahnya ketika melewati trofi Piala Dunia sebelum menerima penghargaan menjadi salah satu gambar paling dikenang dari laga final itu.

Final Copa America 2016: Bikin Messi Pensiun dari Timnas

Jika final Piala Dunia 2014 menjadi kegagalan yang menyedihkan, kekalahan pada final Copa America 2016 merupakan titik terendah Messi secara emosional.

Argentina menghadapi Chile dalam pertandingan final di MetLife Stadium, East Rutherford, Amerika Serikat pada 26 Juni 2016. Stadion tersebut juga menjadi lokasi kekalahan Argentina dari Spanyol pada final Piala Dunia 2026, sepuluh tahun kemudian.

Laga Argentina melawan Chile berakhir tanpa gol hingga babak tambahan. Pemenang akhirnya harus ditentukan melalui adu penalti.

Messi maju sebagai penendang pertama Argentina. Namun, tendangannya melambung di atas mistar gawang. Chile kemudian memenangkan adu penalti dengan skor 4-2 dan mempertahankan gelar Copa America.

Kegagalan tersebut terasa semakin berat karena Argentina untuk ketiga kalinya secara beruntun kalah dalam final turnamen besar. Sebelumnya, mereka takluk dari Jerman pada final Piala Dunia 2014 dan kalah dari Chile juga pada final Copa America 2015.

Selepas pertandingan, Messi terlihat menangis di bangku cadangan. Ia kemudian secara mengejutkan mengumumkan keputusannya untuk mundur dari tim nasional Argentina.

Hal ini terjadi lantara Messi merasa sudah berulang kali mencoba, tetapi selalu gagal mempersembahkan gelar.

Meskipun, keputusan tersebut tak berlangsung lama. Hanya berselang beberapa minggu setelahnya, Messi kembali memperkuat Argentina dan perlahan mengubah perjalanan pahitnya bersama tim nasional. Ia kemudian berhasil membawa Argentina menjuarai Copa America 2021, Piala Dunia 2022, dan Copa America 2024.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular