MARKET DATA

"Dihukum" Dunia, Israel Jadi Negara yang Paling Banyak Ditinggal Turis

Aisha Mayra,  CNBC Indonesia
20 July 2026 15:25
Israeli model May Tager, left, covers herself with an Israeli flag next to Anastasia Bandarenka, a Dubai-based model who covers herself in a UAE flag on the set of a photo shoot in Dubai, United Arab Emirates, Sunday, Sept. 8, 2020. (AP Photo/Kamran
Foto: AP/Kamran Jebreili

Jakarta, CNBC Indonesia - Lima tahun setelah pandemi Covid-19, peta pariwisata global belum kembali ke titik semula.

Sejumlah negara justru mencatat lonjakan kunjungan wisatawan internasional jauh melampaui level sebelum pandemi, sementara destinasi lain masih tertinggal, bahkan kehilangan lebih dari separuh wisatawannya.

Perubahan itu tergambar dalam laporan OECD Tourism Trends and Policies 2026 yang membandingkan jumlah kedatangan wisatawan internasional pada 2025 dengan 2019. Hasilnya menunjukkan pusat pertumbuhan pariwisata mulai bergeser ke sejumlah negara di Timur Tengah, Afrika Utara, dan Amerika Selatan.

Saudi Arabia Pimpin Lonjakan Wisatawan

Saudi Arabia menjadi negara dengan pertumbuhan wisatawan internasional tertinggi dalam data OECD. Jumlah kunjungan ke negara tersebut melonjak 67% dibandingkan 2019, jauh melampaui negara lain dalam daftar.

Kenaikan itu sejalan dengan strategi Vision 2030 yang mendorong diversifikasi ekonomi melalui kemudahan visa wisata, perluasan kapasitas maskapai, hingga investasi besar pada destinasi budaya dan hiburan.

Timur Tengah dan Afrika Utara Jadi Motor Pertumbuhan

Saudi Arabia bukan satu-satunya negara yang menikmati lonjakan wisatawan. Maroko mencatat kenaikan 53%, disusul Mesir sebesar 47%.

Ketiga negara tersebut menjadi kelompok dengan pemulihan tercepat dalam data OECD. Hasil ini menunjukkan pertumbuhan pariwisata global kini semakin banyak ditopang kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara, bukan hanya destinasi tradisional di Eropa.

Amerika Selatan Ikut Melesat

Pola serupa juga terlihat di Amerika Selatan.

Brasil mencatat kenaikan kunjungan wisatawan internasional sebesar 46%, Kolombia naik 45%, sementara Chile bertambah 33% dibandingkan sebelum pandemi.

Ketiganya telah melampaui capaian 2019, menandakan kawasan tersebut berhasil memulihkan sektor pariwisata lebih cepat dibanding banyak negara lain.

Eropa Nyaris Pulih Sepenuhnya

Sebagian besar destinasi di Eropa juga telah kembali ke level sebelum pandemi, meski laju pertumbuhannya tidak setinggi Timur Tengah maupun Afrika Utara.

Norwegia mencatat kenaikan 28%, Serbia 27%, Denmark 22%, Portugal 20%, Spanyol 16%, dan Prancis 12%.

Namun pemulihan belum merata. Jerman masih mencatat penurunan 6% dibandingkan 2019, Italia turun 5%, sedangkan Irlandia menjadi salah satu negara dengan penurunan terdalam di Eropa setelah jumlah wisatawan menyusut 32%.

Konflik dan Dampak Pandemi Masih Terlihat

Di sisi lain, sejumlah negara masih menghadapi tekanan besar terhadap sektor pariwisata.

Israel mencatat penurunan paling tajam dalam data OECD. Jumlah wisatawan internasional turun 71% dibandingkan 2019 setelah pecahnya perang pada Oktober 2023.

 

Beberapa negara Asia Pasifik juga belum sepenuhnya pulih. Thailand masih mencatat penurunan 17%, Selandia Baru turun 9%, Australia berkurang 6%, sementara Indonesia masih berada 4% di bawah level sebelum pandemi. OECD mengaitkan kondisi tersebut dengan pembukaan perbatasan yang relatif lebih lambat dibanding kawasan lain.

Amerika Utara juga belum kembali ke level 2019. Amerika Serikat mencatat penurunan 14% dalam jumlah wisatawan internasional, sedangkan Kanada turun 11%.

Secara keseluruhan, data OECD menunjukkan pemulihan pariwisata global tidak berjalan seragam. Sebagian negara berhasil memanfaatkan momentum pascapandemi untuk menarik lebih banyak wisatawan, sementara negara lain masih dibayangi dampak konflik maupun proses pemulihan yang berlangsung lebih lambat.

 

(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular