Harga Emas di Titik Kritis, Jebol Level Ini Bisa Ambles ke US$3.000
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas relative stagnan di tengah derasnya rilis data ekonomi Amerika Serikat (AS).
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (15/7/2026) ditutup di US$ 4057,81 per troy ons. Harganya menguat tipis 0,096%.
Penguatan ini memperpanjang tren positifnya dengan menguat 1,4% dalam dua hari beruntun.
Pada hari ini, Kamis (16/7/2026) pukul 06.42 WIB, harga emas melemah 0,03% ke US$ 4056,77 per troy ons.
Harga emas memangkas penurunannya pada Rabu setelah data menunjukkan harga produsen (Producer Price Index/PPI) AS secara tak terduga turun pada Juni. Namun, kekhawatiran terhadap inflasi dan suku bunga yang tetap tinggi masih membayangi di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.
"Emas berhasil memangkas penurunan pada pagi ini setelah data PPI lebih rendah dari perkiraan, sehingga meredakan sebagian kekhawatiran bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga beberapa kali lagi tahun ini," kata Phillip Streible, Chief Market Strategist di Blue Line Futures, dikutip dari Reuters.
Harga produsen di Amerika Serikat turun atau deflasi 0,3% secara bulanan (month-to-month/mtm) pada Juni 2026, setelah sebelumnya naik 0,6% pada Mei (angka yang telah direvisi turun). Angka ini lebih rendah dari perkiraan pasar yang memperkirakan tidak ada perubahan. Ini merupakan penurunan pertama Indeks Harga Produsen (Producer Price Index/PPI) sejak Agustus 2025 sekaligus yang terbesar sejak April tahun lalu.
Secara tahunan (year-on-year/yoy), harga produsen naik 5,5%, lebih rendah dibandingkan 6% pada Mei maupun perkiraan pasar sebesar 6,2%.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Federal Reserve bulan Juli turun menjadi sekitar 10,2%, dari sebelumnya 16,6% setelah data tersebut dirilis.
Â
Sehari sebelumnya, data juga menunjukkan inflasi konsumen AS melambat lebih besar dari perkiraan pada Juni.
Di sisi lain, Amerika Serikat mengumumkan telah memulai gelombang baru serangan terhadap Iran setelah kembali memberlakukan blokade laut terhadap pelabuhan-pelabuhan negara itu.
Sebagai balasan, Iran mengancam akan menghentikan lebih banyak ekspor energi regional. Harga minyak pun melanjutkan penguatannya pada Rabu.
"Perkembangan terbaru terkait Selat Hormuz kembali memicu kekhawatiran terhadap tekanan harga yang sulit dikendalikan. Jika ketegangan terus meningkat dan mendorong harga minyak lebih tinggi, kondisi ini justru dapat menjadi risiko negatif bagi emas," kata Lukman Otunuga, Senior Research Analyst di FXTM.
Â
Ia menambahkan, jika harga emas menembus kuat di bawah level tersebut, maka harga berpotensi turun menuju US$3.950 hingga US$3.000 per ons. Sebaliknya, jika level US$4.000 mampu menjadi area penopang yang kuat, harga emas berpeluang kembali naik menuju US$4.100 per ons.
Kenaikan harga energi berpotensi mempertahankan tekanan inflasi, sehingga bank-bank sentral mungkin akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini dapat mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).
Harga perak masih tersungkur.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Rabu (15/7/2026) ditutup di US$ 57,77 per troy ons.
Harganya anjlok 1,46%.
Pada hari ini, Kamis (16/7/2026) pukul 06.50 WIB, harga perak nyaris tak bergerak dengan menguat 0,005% ke US$ 57,77 per troy ons.
(mae/mae) Add
source on Google Next Article Mayday! Mayday! Harga Emas Ambruk 4%, Jatuh ke Level US$ 4.000