Fakta 26 Tahun Bicara: Cuan Perak Lebih Ganas Dibanding Emas
Jakarta, CNBC Indonesia - Sama-sama berstatus logam mulia tetapi emas dan perak memiliki karakter yang berbeda. Saat ketidakpastian meningkat, emas umumnya menjadi pilihan utama investor karena lebih stabil. Sebaliknya, harga perak cenderung lebih fluktuatif karena tidak hanya dipengaruhi sentimen pasar, tetapi juga kebutuhan industri.
Secara historis, perbedaan itu bukan hanya terjadi sekali. Pola yang sama berulang dalam berbagai periode resesi maupun gejolak pasar.
Pada 2025, harga perak melonjak 148,1%. Dalam periode yang sama, harga emas naik 64,7%.
Tidak Selalu Bergerak Bersama
Orang sering menempatkan emas dan perak dalam kategori investasi yang sama.
Namun data tahunan sejak 2000 menunjukkan perilaku keduanya berbeda ketika pasar memasuki fase krisis maupun pemulihan.
Pada 2025 misalnya, perak membukukan kenaikan tahunan 148,1%, lebih dari dua kali lipat dibanding emas yang naik 64,7%. Sebaliknya, ada periode ketika emas mampu bertahan lebih baik sementara perak justru tertekan.
Perbedaan itu menunjukkan bahwa status sebagai logam mulia tidak selalu menghasilkan respons pasar yang sama.
Ketika Pasar Berbalik Arah
Krisis keuangan global 2008 menjadi salah satu contoh paling jelas.
Saat banyak aset berisiko mengalami tekanan, harga emas masih naik 3,4%. Perak justru turun 26,9%.
Namun ini berubah begitu pasar mulai pulih.
Pada 2009, harga perak melonjak 57,5%, sementara emas naik 27,6%. Setahun kemudian, perak kembali mencatat kenaikan 80,3%, jauh di atas emas yang menguat 27,7%.
Tiga tahun itu memperlihatkan karakter yang berbeda. Emas cenderung lebih mampu mempertahankan nilainya ketika ketidakpastian meningkat, sedangkan perak bereaksi lebih ekstrem, baik saat pasar melemah maupun ketika sentimen kembali membaik.
Mengapa Pergerakannya Lebih Tajam?
Perbedaan itu tidak lepas dari peran perak di pasar.
Emas hampir seluruhnya dipandang sebagai aset lindung nilai (safe haven). Perak juga memiliki fungsi tersebut, tetapi sekaligus menjadi bahan baku penting bagi berbagai industri.
Peran ganda itu membuat perak lebih sensitif terhadap siklus ekonomi.
Ketika aktivitas ekonomi melambat atau pasar memasuki masa penuh ketidakpastian, permintaan industri cenderung melemah sehingga harga perak bisa turun lebih dalam dibanding emas. Sebaliknya, ketika sentimen membaik, permintaan investasi dan aktivitas industri sering meningkat secara bersamaan.
Itulah mengapa perak kerap mencatat kenaikan yang jauh lebih besar saat pemulihan ekonomi berlangsung.
Ini sebabnya, meski sering disebut dalam satu kategori, kedua logam ini pada dasarnya menawarkan karakter risiko yang berbeda. Perbedaan tersebut justru menjadi salah satu alasan mengapa investor terus memantau keduanya, terutama ketika pasar mengalami perubahan besar.
(mae/mae) Add
source on Google