Prospek Harga Emas Berubah, Ini Ramalan Terbaru dari 4 Lembaga Dunia
Jakarta, CNBC Indonesia - Prospek harga emas dalam jangka pendek masih dibayangi ketidakpastian.
Di satu sisi, logam mulia mendapat dorongan dari memanasnya konflik geopolitik dan meningkatnya permintaan aset safe haven. Namun di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat (AS), kenaikan imbal hasil (yield) obligasi AS, serta sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat (The Fed) menjadi penghambat utama reli emas.
Pada hari ini, Senin (13/7/2026) pukul 06.37 WIB, harga emas ambruk 1,23% ke US$ 4069,26 per troy ons. Pelemahan ini memperpanjang tren negatifnya.
Pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (10/7/2026), harga emas ditutup melemah 0,03% ke posisi US$ 4120,08 per troy ons.
Secara keseluruhan, harga emas melemah 1,31% pada pekan lalu. Pelemahan pekan lalu juga menjadi kabar buruk setelah harganya naik 2,12% pada pekan lalu.
Pekan lalu, harga emas dunia sempat menembus US$4.200 per ons setelah konflik AS-Iran memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi melalui Selat Hormuz.
Namun reli tersebut tak bertahan lama. Harga berbalik turun hingga mendekati US$4.020 per ons setelah pasar kembali mencermati risalah rapat The Fed menunjukkan sejumlah pejabat The Fed masih membuka peluang kenaikan suku bunga jika inflasi belum terkendali.
Pandangan pelaku pasar pun masih terbelah. Sebagian analis memperkirakan harga emas naik, sebagian memprediksi bergerak mendatar, dan sebagian memperkirakan turun.
Sementara itu, mayoritas investor ritel masih optimistis harga emas akan menguat.
Bagi investor ritel maupun profesional, alasan memasukkan emas ke dalam portofolio bukan hanya untuk melindungi diri dari risiko geopolitik, meskipun secara historis emas terbukti cukup efektif menjalankan fungsi tersebut.
Â
Meski prospek jangka pendek masih dibayangi tekanan, fundamental emas dalam jangka panjang tetap dinilai solid.
World Gold Council (WGC) mencatat bank sentral membeli bersih 41 ton emas pada Mei, sementara 45% bank sentral yang disurvei berencana menambah cadangan emas dalam 12 bulan ke depan atau tertinggi sepanjang sejarah survei.
Kondisi ini menunjukkan emas masih menjadi aset lindung nilai utama di tengah ketidakpastian ekonomi global, risiko geopolitik, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas sistem keuangan dunia.
Lembaga Pangkas Proyeksi Emas
Sejumlah bank investasi mulai memangkas proyeksi harga emas jangka pendek seiring meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, kekhawatiran inflasi, serta penguatan dolar AS dan harga minyak.
1. Bank of America (BofA)
BoFA mengumumkan memangkas proyeksi rata-rata harga emas tahun 2026 sebesar 14% menjadi US$4.360 per ons, dengan alasan Federal Reserve (The Fed) diperkirakan akan mempertahankan sikap kebijakan moneter yang lebih hawkish.
Meski demikian, BofA tetap meyakini harga emas masih berpeluang mencapai US$5.000 per ons setelah siklus pengetatan suku bunga The Fed berakhir.
2. JP MOfgan
JPMorgan memproyeksikan harga emas rata-rata berada di US$4.300 per ons pada kuartal III 2026 sebelum naik menjadi US$4.500 per ons pada kuartal IV.
Secara keseluruhan, JPMorgan menetapkan target harga emas di level US$4.545 per ons.
3. LBMAÂ (London Bullion Market Association)
Konsensus analis London Bullion Market Association (LBMA) memproyeksikan harga emas rata-rata pada 2026 berada di US$4.742 per ons. Namun, rentang proyeksi para analis sangat lebar, yakni US$4.000 hingga US$6.050 per ons, mencerminkan beragam skenario ekonomi makro yang saat ini masih membayangi pasar.
4. HSBC
HSBC memangkas proyeksi rata-rata harga emas pada 2026 menjadi US$4.560 per ons, dengan mempertimbangkan dampak penguatan dolar AS dan kebijakan moneter yang lebih ketat.
Sejumlah faktor masih menjadi pendorong emas seperti pembelian bank sentra. Berikut beberapa faktor pendorong emas:
Faktor Pendukung Kenaikan Harga Emas
- Kebijakan The Fed dan Imbal Hasil Riil
Ekspektasi penurunan suku bunga Federal Reserve (The Fed) pada 2026 diperkirakan menjadi sentimen positif bagi emas. Saat imbal hasil riil turun, biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga ikut menurun, sehingga logam mulia menjadi lebih menarik sebagai aset investasi. - Pembelian Bank Sentral
Pembelian emas oleh bank sentral terus menjadi penopang utama harga. Menurut World Gold Council (WGC), pembelian bersih bank sentral telah melampaui 1.000 ton per tahun sejak 2022. Permintaan yang kuat ini menciptakan "lantai" bagi harga emas sehingga membatasi potensi penurunan. - Risiko Geopolitik
Ketegangan geopolitik meningkatkan permintaan emas sebagai aset safe haven. Semakin tinggi konflik global, semakin besar kecenderungan bank sentral menambah cadangan emas. Dalam kondisi seperti ini, sejumlah analis menilai target harga US$6.000 per ons, atau sekitar 15-30% di atas level saat ini, masih realistis.
Sebaliknya, sejumlah faktor akan membebani emas mulai dari kenaikan harga minyak, penguatan dolar AS dan US Treasury, serta kenaikan inflasi AS.
Sejak perang Iran pecah pada akhir Februari, harga emas telah turun lebih dari 20%, seiring aksi ambil untung yang mengakhiri reli selama tiga tahun dan sempat menyeret harga emas ke bawah US$4.000 per ons untuk pertama kalinya sejak November.
Lalu seperti apa proyeksi harga emas dalam proyeksi paling bullish dan bearish? berikut ramalan terbaru harga emas dari survei LBMA:
Harga perak juga jatuh. Pada hari ini, Senin (13/7/2026), harga perak dibanderol US$ 58,67 per troy ons atau ambruk 1,98%.
Pada perdagangan Jumat (10/7/2026) tercatat di US$59,62 per onz, atau melemah 0,29% dari perdagangan sebelumnya atau anjlok 4,3% secara mingguan.
Harga perak dunia mengalami kinerja negatif sepanjang pekan setelah harga minyak melonjak dan kekhawatiran terhadap inflasi meningkat. Kekhawatiran menguat menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik dengan Iran telah berakhir.
(mae/mae) Add
source on Google Next Article Harga Emas Tiba-Tiba Melejit Lagi, Melonjak 2% Lebih dalam 24 Jam