Harga Perak Ambyar Seminggu Ambles 4% Lebih, Ini Biang Keroknya
Jakarta, CNBC Indonesia - Kinerja harga perak dunia secara mingguan melemah di tengah kembali menegangnya hubungan antara Amerika Serikat dan Iran yang memicu pandangan lebih hawkish dari bank sentral.
Berdasarkan data Refinitiv harga perak dunia pada perdagangan Jumat (10/7/2026) tercatat di US$59,62 per onz, atau melemah 0,29% dari perdagangan sebelumnya atau anjlok 4,3% secara mingguan.
Harga perak dunia mengalami kinerja negatif sepanjang pekan setelah harga minyak melonjak dan kekhawatiran terhadap inflasi meningkat. Kekhawatiran menguat menyusul pernyataan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump bahwa kesepakatan sementara untuk mengakhiri konflik dengan Iran telah berakhir.
Ketegangan kembali meningkat setelah Iran mengklaim menyerang pangkalan militer AS di Bahrain dan Kuwait sebagai balasan atas serangan Washington terhadap sejumlah target Iran menyusul insiden penyerangan kapal tanker di Selat Hormuz. Situasi tersebut mendorong harga minyak melonjak lebih dari 5%.
Lonjakan harga energi berpotensi memicu inflasi yang lebih tinggi dan mendorong bank sentral mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga.
Meski emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, logam mulia ini cenderung kurang diminati ketika suku bunga tinggi karena tidak memberikan imbal hasil.
Di sisi lain, risalah rapat Federal Reserve pada 16-17 Juni menunjukkan kekhawatiran pejabat bank sentral AS terhadap inflasi semakin meningkat. Sejumlah anggota bahkan menilai terdapat alasan untuk segera menaikkan suku bunga.
Ekspektasi pasar pun bergeser. Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang The Fed menaikkan suku bunga pada September naik menjadi sekitar 69%, dari 62% sehari sebelumnya.
"Semua indikator menunjukkan pasar mengkhawatirkan inflasi, terutama setelah harga minyak kembali menguat dalam beberapa hari terakhir. Kondisi ini akan membuat bank-bank sentral, khususnya Federal Reserve, tetap waspada," ujar Bart Melek, Kepala Strategi Komoditas Global TD Securities, kepada Reuters dikutip Minggu (12/7/2026).
(ras/wur) Addsource on Google