Jeruk Lokal Berlimpah, RI Justru Terus Tambah Impor
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia merupakan salah satu produsen terbesar jeruk di Asia Tenggara tetapi ironisnya angka impor malah naik.
Pada 2025, Indonesia mengimpor sekitar 208 ribu ton jeruk. Di saat yang sama, volume ekspornya hanya sekitar 1.900 ton.
Selisihnya mencapai lebih dari 100 kali lipat.
Padahal Indonesia merupakan salah satu produsen jeruk terbesar di Asia Tenggara. Produksi nasional bahkan kembali meningkat pada 2025. Namun sebagian besar buah itu tidak pernah meninggalkan pasar domestik.
Produksi Terus Bertambah
Produksi jeruk Indonesia menunjukkan tren yang relatif stabil dalam lima tahun terakhir. Berdasarkan Statistik Hortikultura 2025, produksi nasional pada 2025 mencapai sekitar 2,46 juta ton, naik dibanding 2,41 juta ton pada 2024.
Kenaikan tersebut didukung bertambahnya tanaman yang menghasilkan menjadi sekitar 13,65 juta pohon. Produksi tertinggi sepanjang 2025 terjadi pada triwulan II, mencapai 702,41 ribu ton.
Jawa Timur masih menjadi sentra utama jeruk nasional dengan produksi sekitar 1,17 juta ton, atau 47,42% dari total produksi Indonesia. Posisi berikutnya ditempati Sumatera Utara (356,55 ribu ton) dan Kalimantan Barat (131,91 ribu ton).
Produksi yang terus meningkat menunjukkan pasokan domestik tetap kuat. Namun angka tersebut belum otomatis diterjemahkan menjadi ekspor yang lebih besar.
Konsumsi Masih Menjadi Pasar Utama
Data BPS menunjukkan konsumsi jeruk rumah tangga masih berada di kisaran 1,4 juta ton per tahun. Setelah sempat turun pada 2023, konsumsi kembali meningkat menjadi sekitar 1,46 juta ton pada 2025.
Besarnya pasar domestik membuat produsen tidak sepenuhnya bergantung pada ekspor. Namun kondisi itu juga berarti Indonesia tetap harus bersaing dengan buah impor di pasar yang sama.
Neraca Perdagangan Belum Berbalik
Meski produksi meningkat dan konsumsi domestik tetap besar, perdagangan jeruk Indonesia masih menunjukkan ketimpangan yang lebar.
Pada 2025, Indonesia mengimpor sekitar 208,47 ribu ton jeruk. Sebaliknya, volume ekspor hanya mencapai sekitar 1,90 ribu ton. Dengan kata lain, volume impor lebih dari 100 kali lipat ekspor.
Produksi jeruk Foto: BPS |
Perbedaan itu juga terlihat dari nilainya. Nilai ekspor jeruk Indonesia pada 2025 tercatat sekitar US$1,38 juta, turun 1,86% dibanding tahun sebelumnya. Di sisi lain, nilai impor mencapai US$384,80 juta, meningkat 28,71% dari 2024.
Baik ekspor maupun impor masih didominasi oleh jeruk segar. Pada 2025, volume ekspor jeruk segar mencapai sekitar 1.439 ton, sementara produk olahan hanya sekitar 461 ton. Di sisi impor, jeruk segar mencapai 185.761 ton, jauh lebih besar dibanding produk olahan yang sekitar 22.711 ton.
Dalam lima tahun terakhir, volume maupun nilai impor selalu jauh melampaui ekspor.
Produksi yang besar ternyata belum otomatis menjadikan Indonesia sebagai eksportir utama jeruk.
Mitra Dagang
Arah perdagangan jeruk Indonesia juga cukup terkonsentrasi. tiga tujuan utama ekspor jeruk Indonesia pada 2025 adalah:
- Perancis: US$343,55 ribu (61,81 ton)
- Malaysia: US$327 ribu (1,36 ribu ton)
- Australia: US$165,35 ribu (106 ton)
Sementara itu, impor terutama berasal dari:
- Tiongkok: US$271,3 juta (159,21 ribu ton)
- Australia: US$57,94 juta (22,37 ribu ton)
- Pakistan: US$18,47 juta (12,4 ribu ton)
Peta tersebut memperlihatkan bahwa besarnya produksi belum otomatis membuat Indonesia menjadi pemain besar dalam perdagangan jeruk dunia.
Selama impor masih jauh melampaui ekspor, tantangan industri jeruk bukan lagi sekadar meningkatkan hasil panen, melainkan memperkuat daya saing produk di pasar internasional.
Negara tujuan ekspor dan asal impor jeruk Foto: BPS |
source on Google

