Sedih! Punya 5.000 Spesies, RI Malah Doyan Anggrek Impor
Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan anggrek terbesar di dunia. Lebih dari 5.000 spesies tumbuh di Nusantara, sekitar 60% di antaranya merupakan spesies endemik yang tidak ditemukan di negara lain.
Namun keunggulan hayati itu belum tercermin di industrinya. Dalam lima tahun terakhir, produksi anggrek potong nasional merosot dari 11,35 juta tangkai pada 2021 menjadi hanya 1,33 juta tangkai pada 2025. Penurunannya mencapai hampir 90%.
Artinya, Indonesia masih kaya anggrek, tetapi skala budidaya komersialnya justru terus mengecil.
Produksi Terus Menyusut
Produksi anggrek potong belum menunjukkan tanda pemulihan yang berarti. Data Review of Ornamental Crops 2025 menunjukkan tren penurunan berlangsung hampir setiap tahun.
Produksi turun dari 11,35 juta tangkai pada 2021 menjadi 6,79 juta pada 2022. Setahun kemudian kembali merosot menjadi 2,52 juta tangkai, lalu mencapai titik terendah 1,30 juta tangkai pada 2024.
Produksi memang naik tipis menjadi 1,33 juta tangkai pada 2025. Namun kenaikan sekitar 2,3% itu belum mengubah tren besarnya. Dibanding lima tahun lalu, volume produksi nasional masih jauh lebih rendah.
Yang menarik, penurunan produksi berjalan seiring dengan menyusutnya luas panen. Pada periode yang sama, areal budidaya turun dari sekitar 20,98 hektare menjadi 8,50 hektare.
Anggrek Foto: BPS |
Produksi Belum Stabil
Gambaran sepanjang 2025 juga menunjukkan pemulihan yang belum merata.
Produksi tertinggi terjadi pada triwulan I sebesar 400,71 ribu tangkai. Angka itu turun menjadi 254,27 ribu tangkai pada triwulan II sebelum kembali naik menjadi 384,56 ribu tangkai pada triwulan III.
Memasuki triwulan IV, produksi kembali turun menjadi 286,96 ribu tangkai.
Fluktuasi tersebut menunjukkan bahwa kenaikan produksi pada 2025 belum berlangsung konsisten. Produksi masih bergerak naik turun sepanjang tahun.
Perdagangan Berbalik Arah
Pelemahan industri anggrek potong tidak hanya terlihat dari sisi produksi. Perdagangan luar negeri juga menunjukkan perubahan yang cukup tajam.
Sepanjang 2025, volume ekspor anggrek potong Indonesia hanya mencapai 6,61 ton dengan nilai US$40,15 ribu. Dibandingkan 2024, nilai ekspornya anjlok 63,83%.
Pada saat yang sama, arah sebaliknya justru terjadi di impor. Volume impor mencapai 328,06 ton dengan nilai US$4,03 juta, sementara nilai impornya melonjak 1.222,37% dibanding tahun sebelumnya.
Selisihnya tidak lagi tipis. Indonesia kini mengimpor anggrek potong hampir 50 kali lebih banyak daripada yang diekspor berdasarkan volume.
Perubahan ini menunjukkan bahwa tekanan pada industri bukan hanya terjadi di tingkat produksi. Struktur perdagangannya pun ikut bergeser.
Pasar Domestik Makin Bergantung dari Luar
Indonesia masih memiliki pasar ekspor, meski skalanya semakin kecil. Pada 2025, hampir seluruh ekspor anggrek potong dikirim ke Korea Selatan dengan volume 6,61 ton dan nilai US$40,15 ribu.
Di sisi lain, pasokan dari luar negeri justru semakin beragam. Taiwan menjadi pemasok terbesar dengan volume 177,94 ton dan nilai US$3,12 juta, disusul Thailand sebanyak 91,16 ton serta Vietnam sebesar 6,14 ton.
Anggrek Foto: BPS |
Pola ini memberi sinyal yang berbeda dibanding beberapa tahun lalu. Indonesia masih mampu menjual anggrek ke pasar internasional, tetapi kebutuhan di dalam negeri semakin banyak dipenuhi melalui impor.
Dengan kata lain, pasar tetap ada. Namun sebagian nilainya justru dinikmati produsen dari negara lain.
Mengapa Anggrek Layak Diperhatikan?
Perubahan tersebut menjadi menarik karena terjadi pada komoditas yang sebenarnya merupakan salah satu kekayaan hayati Indonesia.
Indonesia memiliki lebih dari 5.000 spesies anggrek, sekitar 60% di antaranya merupakan spesies endemik. Selain bernilai sebagai tanaman hias, berbagai penelitian juga menunjukkan sejumlah jenis anggrek mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, flavonoid, stilbenoid, dan tanin yang berpotensi dimanfaatkan dalam industri kesehatan dan farmasi.
Potensi ekonominya juga tidak kecil. Allied Market Research memproyeksikan nilai pasar tanaman hias global dapat mencapai sekitar US$103 miliar pada 2030, dengan anggrek tetap menjadi salah satu komoditas bernilai tinggi.
Namun besarnya potensi tersebut belum otomatis tercermin pada kinerja industrinya. Data produksi dan perdagangan menunjukkan Indonesia masih menghadapi tantangan untuk mengubah kekayaan biodiversitas menjadi kekuatan ekonomi yang berkelanjutan.
Anggrek Vanda (Image by Joëlle Moreau from Pixabay) Foto: Anggrek Vanda (Image by Joëlle Moreau from Pixabay) |
source on Google


