Kekuatan IRGC Terbongkar, Rudal dan Ranjau Iran Bikin AS Tetap Waspada
Jakarta, CNBC Indonesia -Â Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran patut untuk di perhatikan setelah perang melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel mengguncang Teheran.
IRGC atau Garda Revolusi Iran bukan sekadar pasukan militer biasa. Namun, telah salah satu kekuatan paling berpengaruh di Iran, dengan peran besar dalam pertahanan, program rudal, drone, operasi luar negeri, hingga arah politik negara tersebut.
Perhatian terhadap IRGCÂ makin besar setelah Jenderal Ahmad Vahidi, kepala Garda Revolusi Iran, kembali muncul ke publik menjelang pemakaman mendiang Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei.
Mengutip laporan AP, Vahidi terlihat menghadiri rapat persiapan pemakaman Khamenei dan duduk di dekat peti jenazahnya dalam sebuah prosesi kecil di Teheran. Ini menjadi kali pertama Vahidi tertangkap kamera di publik sejak terakhir kali muncul pada 8 Februari 2026, atau beberapa pekan sebelum perang pecah pada akhir Februari.
Dia kini disebut menjadi salah satu tokoh penting dalam merumuskan sikap keras Iran dalam negosiasi untuk mengakhiri perang dengan AS dan Israel secara permanen.
Menteri Pertahanan Iran Ahmad Vahidi menghadiri ajang Penghargaan Internasional Khwarizmi (Khwarizmi International Award/KIA) ke-24 di pusat konferensi televisi pemerintah Iran di bagian utara Teheran, Iran, pada 5 Februari 2011. REUTERS/Morteza Nikoubazl/File Photo Foto: REUTERS/Morteza Nikoubazl |
Vahidi juga diyakini berada dalam lingkar kecil yang berhubungan langsung dengan Pemimpin Tertinggi Iran yang baru, Mojtaba Khamenei. Sosok Mojtaba sendiri belum muncul ke publik setelah dilaporkan terluka dalam serangan AS-Israel pada awal perang yang menewaskan ayahnya, Ali Khamenei.
Garda Revolusi ikut menentukan posisi Teheran dalam negosiasi, sekaligus menjadi tulang punggung pertahanan Iran jika konflik kembali meletus.
Pertanyaannya kemudian, seberapa kuat IRGC setelah Iran dihantam ribuan serangan AS dan Israel?
Banyak fasilitas rudal, drone, sistem pertahanan udara, komando, radar pesisir, pelabuhan, hingga basis militer dilaporkan menjadi sasaran serangan. Namun, IRGC masih jauh dari kata menyerah.
Kekuatan yang paling sulit dihancurkan justru masih berada pada jaringan asimetrisnya, mulai dari rudal bawah tanah, drone murah, kapal kecil, fast boat, ranjau laut, kapal selam mini, hingga sistem komando tersebar.
Dengan modal inilah IRGC tetap bisa membuat posisi AS di kawasan Teluk wajib untuk waspada. Berikut gambaran kemampuan militer IRGC yang menjadi tulang punggung pertahanan Iran.
1. Kekuatan Laut
Kekuatan IRGCÂ terlihat cukup perkasa di atas laut. Selat Hormuz menjadi titik paling penting karena jalur ini merupakan salah satu urat nadi perdagangan energi dunia.
IRGC Navy menjadi ujung tombak Iran di area ini. Berbeda dari angkatan laut biasa yang mengandalkan kapal besar, IRGC lebih banyak memakai kapal kecil namun berkecepatan tinggi, ranjau laut, kapal selam mini, dan rudal pesisir.
Salah satu ancaman paling besar adalah ranjau laut. Dalam sejumlah sumber, Iran disebut memiliki stok ranjau laut di kisaran 5.000 hingga 6.000 unit.
Ranjau ini tidak harus benar-benar menutup Selat Hormuz sepenuhnya. Cukup dengan menimbulkan dugaan adanya ranjau, kapal dagang bisa melambat, kemudian membuat biaya asuransi naik, dan pada akhirnya AS harus menggelar operasi pembersihan ranjau yang memakan waktu.
IRGC juga dikenal dengan taktik menggunakan kapal cepat. Kapal-kapal kecil ini dapat membawa roket, senapan berat, torpedo, hingga rudal antikapal ringan. Fungsinya bukan untuk duel terbuka melawan kapal perusak AS, melainkan mengganggu, mengepung, dan memaksa kapal perang lawan masuk ke posisi defensif.
Di bawah laut, Iran memiliki kapal selam kelas Kilo atau Tareq yang dilengkapi tabung torpedo 533 milimeter dan bisa membawa torpedo berat maupun ranjau.
Selain itu, kapal selam mini seperti Ghadir dan Nahang yang lebih cocok untuk perairan dangkal seperti di Teluk Persia. Kapal jenis ini dapat digunakan untuk penyergapan jarak dekat, operasi khusus, hingga penebaran ranjau.
2. Kekuatan Rudal & Drone
Lapisan kedua kekuatan IRGC ada pada rudal dan drone. Ini menjadi bagian paling kuat dari strategi Iran karena relatif lebih murah yang bisa disebar di banyak titik dan dapat diluncurkan dari peluncur yang mobile.
Iran memiliki rudal jelajah antikapal seperti Noor dan Qader atau Ghader. Rudal Qader dilaporkan memiliki jangkauan sekitar 200 hingga 300 kilometer dengan hulu ledak sekitar 200 kilogram. Rudal jenis ini terbang rendah di atas permukaan laut sehingga bisa memperpendek waktu respon dari kapal milik lawan.
Iran juga mengembangkan rudal antikapal jarak jauh seperti Ghadr-380 yang diklaim memiliki jangkauan hingga sekitar 1.000 kilometer. Jika kemampuan ini efektif dalam perang sungguhan, kapal perang AS di luar Selat Hormuz pun tetap harus memperhitungkan ancaman dari pesisir Iran.
Selain rudal jelajah, Iran juga memiliki rudal balistik antikapal seperti Khalij Fars.
Rudal ini berasal dari keluarga Fateh-110 dan diperkirakan memiliki jangkauan sekitar 300 kilometer. Sistem ini dirancang untuk menyerang kapal dari arah atas dengan kecepatan tinggi, sehingga waktu respons lawan menjadi sangat singkat.
Ada pula Hormuz-2 yang disebut sebagai rudal radar-homing atau anti-radiasi dengan jangkauan sekitar 300 kilometer. Rudal ini ditujukan untuk memburu kapal perang atau radar yang memancarkan sinyal. Alutsista ini membuat kapal lawan tidak hanya menghadapi ancaman fisik, tetapi juga harus berhitung dalam penggunaan radar dan sistem elektroniknya.
Drone menjadi pelengkap penting dari kekuatan rudal Iran. Drone serang satu arah seperti model Shahed dapat digunakan dalam jumlah besar dengan biaya yang relatif murah. Sementara drone pengintai cukup membantu Iran dalam melakuakn pelacakan pergerakan kapal dan memberi petunjuk untuk serangan rudal Iran selanjutnya.
3. Pertahanan Udara, Radar, dan Komando
Lapisan ketiga adalah pertahanan udara, radar, dan sistem komando. Bagian ini penting karena dalam perang, AS kemungkinan akan lebih dulu menargetkan radar, pangkalan rudal, sistem pertahanan udara, dan pusat komando Iran.
Iran memiliki sistem pertahanan udara jarak jauh seperti S-300PMU2 buatan Rusia dan Bavar-373 buatan dalam negeri. Bavar-373 disebut menggunakan rudal Sayyad-4B dengan jangkauan mendekati 300 kilometer dan kemampuan menjangkau target di ketinggian lebih dari 30 kilometer.
Sistem seperti ini dirancang untuk mengancam pesawat, termasuk pesawat tanker, pesawat pengintai, dan pesawat non-siluman yang beroperasi di sekitar wilayah udara Iran.
Di jarak menengah, Iran memiliki sistem seperti 3rd Khordad atau Khordad-3 dan Khordad-15. Sistem 3rd Khordad pernah dikaitkan dengan peristiwa penembakan drone pengintai milik AS yakni RQ-4 Global Hawk pada 2019 silam. Sementara Khordad-15 dilaporkan mampu mendeteksi dan melacak beberapa target dari jarak lebih dari 100 kilometer.
Iran juga memiliki sistem jarak pendek seperti Tor-M1 dan berbagai sistem buatan lokal untuk melindungi pangkalan militernya, radar, baterai rudal, dan fasilitas strategis dari drone maupun rudal jelajah.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/luc) Addsource on Google