MARKET DATA

Pelan-Pelan Mulai Rebound, Apakah IHSG Sudah Sentuh Bottom?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
06 July 2026 15:22
Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)
Foto: Layar menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (30/6/2026). (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - IHSG mulai rebound dari area bawah, tetapi belum cukup kuat untuk disebut sudah benar-benar bangkit. Kenaikan dari low Juni memang menunjukkan tekanan jual mulai mereda, namun pasar belum mendapat konfirmasi besar dari faktor yang lebih penting: foreign flow, rupiah, BI Rate, neraca dagang, dan momentum teknikal.

Masalah utamanya, asing masih belum pulang. Secara year to date, foreign flow di pasar saham masih net sell sekitar Rp74,42 triliun. Angka ini besar dan menjadi sinyal bahwa investor global belum sepenuhnya nyaman mengambil risiko di Indonesia. Jadi, meskipun valuasi sudah murah, murah saja belum cukup untuk membuat IHSG langsung naik berkelanjutan.

Asing Masih Jualan, Makro Belum Solid

Rebound IHSG saat ini lebih banyak terlihat sebagai technical rebound dan bargain hunting, bukan awal tren naik baru yang sudah solid.

Dalam fase pemulihan yang lebih sehat, biasanya tekanan jual asing mulai mengecil, lalu berbalik menjadi net buy konsisten di saham-saham besar seperti perbankan, telekomunikasi, konsumsi, dan energi. Selama pola ini belum terlihat, kenaikan IHSG masih rentan tertahan.

Kekhawatiran juga bertambah dari neraca dagang. Pada Mei 2026, Indonesia mencatat defisit perdagangan US$1,61 miliar. Ini menjadi defisit pertama sejak April 2020, setelah 72 bulan berturut-turut surplus. Penyebab utamanya datang dari migas, sementara ekspor turun 5,73% yoy dan impor naik 22,16% yoy.

Data ini penting karena selama beberapa tahun terakhir surplus dagang menjadi salah satu bantalan utama rupiah. Jika bantalan eksternal melemah, tekanan ke rupiah bisa bertambah.

Bagi investor asing, pelemahan rupiah bisa menggerus return dari saham dan obligasi Indonesia. Karena itu, defisit dagang bukan sekadar angka ekspor-impor, tetapi sinyal bahwa fondasi eksternal sedang diuji.

BI Rate Tinggi, Ekonomi Riil Masih Tertekan

Dari sisi moneter, Bank Indonesia kemungkinan masih perlu mempertahankan stance defensif. Dengan rupiah yang belum benar-benar stabil dan foreign outflow yang masih besar, ruang pemangkasan BI Rate dalam waktu dekat tampak terbatas. Suku bunga tinggi memang diperlukan untuk menjaga stabilitas, tetapi efeknya ke pasar saham tidak selalu nyaman.

BI Rate yang tinggi membuat likuiditas lebih ketat, biaya dana naik, dan valuasi saham sulit mengalami re-rating cepat. Untuk sektor perbankan, kondisi ini punya dua sisi.

Bank besar masih punya fundamental kuat, profitabilitas relatif solid, dan valuasi mulai murah. Namun, jika ekonomi riil melemah, pasar tetap akan memantau pertumbuhan kredit, kualitas aset, dan potensi kenaikan risiko kredit.

Di luar angka makro headline, tekanan ekonomi riil juga mulai terasa. Isu PHK di sektor padat karya, manufaktur, tekstil, teknologi, dan konsumsi menjadi sinyal bahwa daya beli belum sepenuhnya kuat. Jika PHK berlanjut, dampaknya bisa masuk ke konsumsi rumah tangga, penjualan ritel, kredit konsumsi, hingga kualitas kredit perbankan.

Inilah alasan pasar belum bisa terlalu agresif. Investor tidak hanya melihat ekonomi masih tumbuh, tetapi juga melihat kualitas pertumbuhannya. Jika pertumbuhan lebih banyak ditopang belanja pemerintah, sementara sektor swasta dan konsumsi melemah, pasar cenderung tetap meminta diskon valuasi.

Valuasi Murah, Tapi Butuh Katalis

Dari sisi valuasi, IHSG sebenarnya mulai menarik. Banyak saham blue chip dan emiten berfundamental kuat sudah terkoreksi dalam. Beberapa saham perbankan besar bahkan sudah berada di area valuasi yang jauh di bawah rata-rata historis, mendekati atau berada di bawah -2 standar deviasi.

Ini membuat risk-reward untuk investor jangka panjang mulai lebih menarik. Saham-saham primadona yang sebelumnya mahal kini kembali masuk ke level yang lebih rasional. Untuk horizon panjang, area seperti ini biasanya mulai layak dicermati, terutama untuk akumulasi bertahap di saham berkualitas.

Namun, pasar saham tidak bergerak hanya karena valuasi murah. Valuasi murah bisa tetap murah dalam waktu lama jika makro belum membaik. Agar harga murah berubah menjadi tren naik, pasar butuh katalis.

Katalis itu bisa datang dari foreign flow yang membaik, rupiah yang lebih stabil, BI Rate yang mulai punya ruang turun, neraca dagang yang kembali surplus, atau keputusan S&P yang tidak menambah tekanan.

Arah Besarnya: Sideways Dulu, Akumulasi Bertahap

Secara teknikal, level penting IHSG berada di sekitar 6.450. Selama IHSG belum mampu mencetak weekly close di atas 6.450 dengan candle yang kuat, peluang kenaikan lanjutan belum terkonfirmasi. Area ini menjadi pembeda antara rebound biasa dan perubahan tren yang lebih serius.

Selama belum tembus, skenario paling masuk akal adalah IHSG bergerak sideways dalam beberapa waktu ke depan. Support penting ada di area 5.650, lalu 5.300-5.400. Jika support ini bertahan, IHSG bisa membangun base. Namun jika ditembus, risiko retest low masih terbuka.

Jadi, IHSG saat ini menarik, tetapi belum nyaman. Valuasi murah dan saham blue chip yang sudah diskon menjadi peluang untuk investor jangka panjang.

Namun dari sisi foreign flow, neraca dagang, BI Rate, rupiah, dan ekonomi riil, belum ada konfirmasi kuat bahwa tekanan sudah selesai. Strategi yang lebih rasional adalah akumulasi bertahap, bukan mengejar euforia.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular