Harga CPO Tertekan Permintaan India, Kebijakan Besar RI Jadi Peopang
Jakarta, CNBC Indonesia- Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) masih bergerak dalam tren melemah sepanjang pekan ini. Berdasarkan Refinitiv, kontrak berjangka CPO Malaysia ditutup di level 4.480 ringgit per ton pada Jumat (3/7/2026), turun sekitar 1,5%-1,9% dibandingkan penutupan pekan sebelumnya. Ini menjadi pelemahan mingguan kedua secara beruntun.
Perdagangan selama sepekan berlangsung cukup berhati-hati. Pelaku pasar memilih menunggu sejumlah data fundamental yang akan dirilis pekan depan, terutama laporan produksi, ekspor, dan persediaan minyak sawit Malaysia. Di saat yang sama, penguatan nilai tukar ringgit membuat harga CPO menjadi lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain sehingga minat transaksi ikut terbatas.
Melansir Reuters, tekanan lain datang dari sisi permintaan. India sebagai importir minyak sawit terbesar di dunia tercatat mengurangi pembelian sepanjang Juni hingga mencapai level terendah dalam 14 bulan. Selisih harga CPO dengan minyak nabati pesaing semakin menyempit sehingga sebagian pembeli mulai mengalihkan kebutuhannya ke komoditas lain. Kondisi tersebut menjaga sentimen pasar tetap berhati-hati sepanjang pekan.
Dari sisi pasokan, perhatian pasar mengarah ke Malaysia. Survei Reuters memperkirakan produksi CPO Malaysia pada Juni naik sekitar 8,9% dibandingkan bulan sebelumnya menjadi sekitar 1,65 juta ton. Kenaikan produksi diperkirakan lebih cepat dibanding pertumbuhan permintaan sehingga persediaan minyak sawit berpotensi meningkat menjadi sekitar 2,5 juta ton, level tertinggi untuk bulan Juni sepanjang pencatatan. Jika tren produksi berlanjut sementara permintaan belum pulih, ruang penurunan harga masih terbuka dalam beberapa waktu ke depan.
Meski demikian, koreksi harga tidak berlangsung terlalu dalam. Data dari perusahaan survei kargo memperlihatkan ekspor minyak sawit selama 1-25 Juni meningkat sekitar 10,6%-11,1% dibandingkan Mei. Indonesia juga melaporkan ekspor CPO dan produk turunannya mencapai 8,92 juta ton sepanjang Januari-Mei 2026, naik 7,4% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Angka tersebut memberi sinyal bahwa permintaan dari pasar ekspor mulai membaik.
Faktor lain yang masih menjadi perhatian pelaku pasar berasal dari Indonesia. Program mandatori biodiesel B50 resmi berlaku mulai 1 Juli 2026. Kebijakan tersebut diperkirakan akan meningkatkan konsumsi minyak sawit di dalam negeri karena kebutuhan bahan baku biodiesel bertambah. Harapan terhadap kenaikan serapan domestik menjadi salah satu alasan harga CPO belum mengalami pelemahan yang lebih tajam.
Pergerakan harga minyak mentah dunia juga ikut memberi warna pada pasar CPO. Harga minyak yang relatif bertahan menjaga prospek permintaan biodiesel sehingga minyak sawit tetap memiliki daya tarik sebagai bahan baku energi. Hubungan tersebut membuat tekanan di pasar minyak nabati tidak sepenuhnya diterjemahkan menjadi penurunan harga CPO yang lebih dalam.
Memasuki pekan depan, perhatian pasar akan tertuju pada laporan bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan terbit pada 10 Juli. Data produksi, ekspor, dan persediaan akan menjadi acuan baru bagi pelaku pasar untuk menilai apakah tekanan dari sisi pasokan masih akan mendominasi, atau mulai diimbangi oleh kenaikan permintaan ekspor dan konsumsi domestik Indonesia melalui implementasi B50.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/luc) Addsource on Google