MARKET DATA
AS BERUSIA 250 TAHUN

AS Raksasa Dunia, Simpan Sejarah 10 Krisis Ekonomi Paling Kelam

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
04 July 2026 17:00
FILE PHOTO: A flag flies at the exterior of New York Stock Exchange June 15, 2012. REUTERS/Eric Thayer/File Photo
Foto: REUTERS/Eric Thayer

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) genap berusia 250 tahun pada Sabtu (4/7/2026). Selama seperempat milenium berdiri, negara ini tumbuh menjadi kekuatan ekonomi terbesar dunia, tetapi juga berkali-kali masuk ke pusaran krisis besar.

Dalam ukuran ekonomi global, posisi AS memang sulit diabaikan. Perekonomian AS kini berada di kisaran US$31,8 triliun secara nominal, menjadikannya ekonomi terbesar di dunia. Dengan skala sebesar itu, apa pun yang terjadi di AS bisa cepat menjalar ke negara lain, mulai dari pasar saham, nilai tukar, perdagangan, hingga arus modal global.

Posisi ini membuat AS bukan hanya menjadi pusat kekuatan ekonomi dunia, tetapi juga salah satu sumber guncangan terbesar ketika krisis terjadi. Sejarah menunjukkan, beberapa krisis ekonomi dunia justru bermula dari dalam negeri Paman Sam.

Salah satu contoh paling besar adalah The Great Depression atau Depresi Besar pada 1929-1930-an. Krisis ini menjadi salah satu periode tergelap dalam sejarah ekonomi modern. Contoh yang lebih dekat adalah Krisis Keuangan Global 2008-2009, yang dipicu oleh masalah kredit perumahan berisiko tinggi di AS atau subprime mortgage.

Mengacu pada National Bureau of Economic Research (NBER), AS sudah berulang kali mengalami fase resesi dalam sejarah panjangnya. NBER mencatat siklus ekonomi AS melalui periode ekspansi dan kontraksi, dengan resesi ditandai sebagai masa penurunan aktivitas ekonomi dari puncak menuju titik terendah siklus bisnis.

Dalam perjalanan 250 tahun kemerdekaannya, resesi menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari sejarah ekonomi AS. Krisis datang dari banyak sebab, mulai dari kepanikan pasar keuangan, kejatuhan sektor perbankan, perang, lonjakan inflasi, gelembung aset, hingga pandemi.

Resesi Terparah, The Great Depression

The Great Depression adalah krisis ekonomi paling parah dalam sejarah modern dunia. Krisis ini dimulai pada 1929 dan dampaknya terasa selama lebih dari satu dekade, terutama sepanjang 1930-an.

Krisis ini bermula dari kejatuhan besar bursa saham Wall Street pada 29 Oktober 1929, yang kemudian dikenal sebagai Black Tuesday. Kejatuhan pasar saham tersebut menghancurkan kekayaan banyak investor dan membuat kepercayaan terhadap sistem keuangan runtuh.

Salah satu pemicunya adalah maraknya aksi spekulasi di pasar saham. Banyak investor membeli saham menggunakan utang atau margin trading. Saat harga saham terus naik, optimisme pasar ikut membesar. Tetapi ketika harga berbalik jatuh, kerugiannya menyebar cepat dan memukul banyak pihak.

Sektor perbankan ikut terseret. Banyak bank sebelumnya menyalurkan pinjaman secara agresif, termasuk kepada investor dan pelaku usaha. Ketika pasar runtuh dan kredit macet meningkat, ribuan bank gagal bertahan. Tabungan masyarakat ikut hilang, lalu kepanikan makin meluas karena warga menarik uang secara besar-besaran.

Dampaknya sangat berat. Aktivitas usaha anjlok, investasi berhenti, banyak perusahaan bangkrut, dan pemutusan hubungan kerja terjadi di mana-mana. Federal Reserve Bank of St. Louis mencatat, PDB riil AS turun 29% dari 1929 hingga 1933. Tingkat pengangguran juga melonjak hingga sekitar 25% pada 1933, sementara harga konsumen turun 25%, menandai tekanan deflasi yang sangat dalam.

Krisis ini tidak hanya menghantam kota-kota industri, tetapi juga sektor pertanian. Harga komoditas turun tajam, pendapatan petani merosot, dan banyak keluarga kehilangan sumber penghidupan.

Untuk menghadapi krisis tersebut, Presiden Franklin D. Roosevelt meluncurkan program besar bernama New Deal. Program ini berisi berbagai kebijakan untuk menciptakan lapangan kerja, membangun proyek publik, membantu masyarakat miskin, dan memperbaiki sistem keuangan.

Dari krisis ini pula lahir sejumlah lembaga penting. Pemerintah AS membentuk Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC) untuk menjamin simpanan masyarakat di bank, serta Securities and Exchange Commission (SEC) untuk mengawasi pasar saham.

Dampak The Great Depression tidak berhenti di AS. Krisis ini menjalar ke Eropa, Amerika Latin, dan Asia. Kondisi ekonomi yang memburuk ikut memperparah ketidakstabilan politik global, termasuk naiknya ideologi ekstrem di sejumlah negara. Situasi tersebut menjadi salah satu faktor yang membawa dunia menuju Perang Dunia II.

Krisis Subprime Mortgage

Krisis Subprime Mortgage adalah krisis keuangan besar yang bermula dari gelembung kredit perumahan di AS pada pertengahan 2000-an. Krisis ini meledak pada 2007-2008 dan kemudian menyeret dunia ke dalam Great Recession.

Awalnya, banyak bank dan lembaga keuangan di AS memberikan kredit pemilikan rumah atau KPR kepada peminjam yang sebetulnya memiliki kemampuan bayar rendah. Kredit seperti ini dikenal sebagai subprime mortgage.

Selama harga rumah terus naik, risiko kredit tersebut tampak tertutup. Banyak pihak merasa aman karena rumah yang dijadikan jaminan dianggap akan terus meningkat nilainya. Permintaan rumah naik, harga properti melambung, dan gelembung perumahan pun terbentuk.

Masalah makin besar karena kredit-kredit perumahan itu kemudian dikemas ulang menjadi produk keuangan seperti mortgage-backed securities (MBS) dan collateralized debt obligations (CDO). Produk ini dijual ke investor global, termasuk bank, perusahaan investasi, hingga dana pensiun.

Saat suku bunga naik dan harga rumah mulai turun, banyak peminjam gagal bayar. Nilai produk keuangan berbasis KPR ikut jatuh. Krisis pun menyebar dari pasar properti ke pasar keuangan global.

Puncaknya terjadi pada 2008, ketika lembaga keuangan besar seperti Lehman Brothers kolaps. Kejatuhan Lehman menjadi simbol krisis dan memicu kepanikan besar di pasar global.

Dampaknya sangat besar bagi ekonomi AS. Federal Reserve History mencatat, PDB riil AS turun 4,3% dari puncaknya pada kuartal IV-2007 hingga titik terendah pada kuartal II-2009. Tingkat pengangguran naik dari 5% pada Desember 2007 menjadi 9,5% pada Juni 2009, lalu sempat menyentuh 10% pada Oktober 2009.

Jutaan orang kehilangan pekerjaan. Banyak rumah disita karena pemiliknya tidak sanggup membayar cicilan. Harga rumah turun tajam, sementara pasar keuangan global ikut terguncang karena banyak lembaga di luar AS juga memegang produk keuangan berbasis KPR tersebut.

Untuk menyelamatkan ekonomi, pemerintah AS mengambil langkah besar. Presiden Barack Obama menggelontorkan stimulus sekitar US$800 miliar pada 2009 melalui program pemulihan ekonomi. Dana tersebut digunakan untuk infrastruktur, bantuan sosial, pemotongan pajak, dan dukungan bagi sektor-sektor yang terpukul.

Bank sentral AS, The Federal Reserve atau The Fed, juga memangkas suku bunga hingga mendekati 0%. Selain itu, The Fed meluncurkan quantitative easing (QE) untuk menyuntikkan likuiditas ke sistem keuangan.

Krisis Subprime Mortgage menjadi pelajaran besar bagi AS dan dunia. Masalah yang awalnya terlihat seperti persoalan kredit rumah di satu negara ternyata bisa berubah menjadi krisis global ketika melibatkan produk keuangan yang rumit dan tersebar ke banyak investor dunia.

AS Besar, Tapi Tidak Kebal Krisis

Selama 250 tahun berdiri, AS memang berhasil menjadi negara dengan ekonomi terbesar dunia. Dolar AS menjadi mata uang utama global, Wall Street menjadi pusat pasar keuangan, dan kebijakan The Fed menjadi perhatian hampir semua negara.

Namun, sejarah juga menunjukkan bahwa ekonomi sebesar AS tetap bisa jatuh ke dalam krisis. Bahkan, karena ukurannya sangat besar, krisis di AS sering kali tidak berhenti di dalam negeri, melainkan merambat ke seluruh dunia.

The Great Depression dan Krisis Subprime Mortgage hanya dua contoh terbesar. Di luar itu, AS juga pernah menghadapi berbagai guncangan besar lain, mulai dari Panic of 1873, krisis minyak 1970-an, resesi awal 1980-an, dot-com bubble, hingga resesi singkat akibat pandemi Covid-19 pada 2020.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular