Akhirnya! Ada Kabar Baik Buat Pemilik Emas, Harganya Bangkit
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas melonjak lebih setelah data ketenagakerjaan AS yang lebih lemah dari perkiraan serta pernyataan Ketua Federal Reserve Kevin Warsh yang mengindikasikan risiko inflasi mulai mereda.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada Rabu (1/7/2026) ditutup di posisi US$ 4029,58 per troy ons atau menguat 0,56%.
Penguatan ini menjadi kabar baik setelah harga emas jatuh 2% dalam dua hari beruntun sebelumnya.
Pada hari ini, Kamis (2/7/2026) pukul 06.01 WIB, harga emas di US$ 4043,15 per troy ons atau menguat 0,37%.
Harga emas spot naik setelah sehari sebelumnya menyentuh level terendah sejak November. Logam mulia tersebut juga mencatatkan kinerja kuartalan terburuk daallm 13 tahun terakhir per Juni 2026.
"Emas mencatat kenaikan yang cukup baik pagi ini. Data ADP yang lebih rendah dari perkiraan menjadi pemicunya, ditambah komentar Ketua The Fed Kevin Warsh bahwa inflasi mulai menurun, sehingga imbal hasil obligasi turun dan mengangkat pasar emas yang sebelumnya lesu," kata analis independen Tai Wong, kepada Reuters.
Menurut Wong, emas kemungkinan telah membentuk dasar harga dalam jangka pendek, kecuali jika laporan nonfarm payrolls pada Kamis jauh lebih kuat dari perkiraan.
Menjelang rilis data tenaga kerja nonpertanian (nonfarm payrolls), laporan ADP menunjukkan lapangan kerja sektor swasta AS bertambah 98.000 pada Juni, turun dari kenaikan 122.000 pada Mei. Angka tersebut juga lebih rendah dari proyeksi ekonom dalam jajak pendapat Reuters yang memperkirakan kenaikan 118.000 pekerjaan.
Di sisi lain, Warsh mengatakan ekspektasi inflasi dan risiko inflasi telah menurun dalam beberapa pekan terakhir, meski kembali menegaskan komitmen The Fed untuk menurunkan inflasi ke target 2%.
Â
Meski emas sering dipandang sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya mengurangi daya tarik logam mulia tersebut karena tidak memberikan imbal hasil.
Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini memperkirakan sekitar 65% peluang The Fed akan menaikkan suku bunga pada September.
Dari sisi geopolitik, Amerika Serikat dan Iran menggelar pembicaraan teknis di Doha pada Rabu untuk mencapai kesepakatan mengenai kelancaran pelayaran di Selat Hormuz serta mengamankan gencatan senjata yang lebih permanen, menurut seorang pejabat Iran.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada Rabu (1/7/2026) ditutup di posisi US$ 59,14 per troy ons atau menguat 0,96%.
Dengan demikian, harga perak sudah menguat 1,5% dalam dua hari beruntun.
Pada hari ini, Kamis (2/7/2026) pukul 06.08 WIIB, harga perak menguat 0,19% ke US$59,25 per troy ons.
(mae/mae) Add
source on Google Next Article Babak Belur! Harga Emas Cetak Rekor Terburuk 13 Tahun