MARKET DATA

Babak Belur! Harga Emas Cetak Rekor Terburuk 13 Tahun

mae,  CNBC Indonesia
01 July 2026 06:45
Emas
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas belum juga bangkit. Sepanjang semester Ini, harga emas bahkan sudah ambruk hampir 7%.

Kekhawatiran inflasi akibat konflik di Timur Tengah memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada akhir semester I yakni Selasa (30/6/2026) ditutup di posisi US$ 4007,23 per troy ons. Harganya melemah 0,22%. Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan jatuh 2% dalam dua hari terakhir.

Pada hari ini, Rabu (1/7/2026) pukul 06.02 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4012,02 per troy ons. Harganya menguat 0,12%.

Sepanjang semester I-2026, harga emas sudah ambruk 7%. Harga emas lebih buruk lagi jika dilihat secara kuartal. Harga emas secara kuartalan masuk ke zona pelemahan terdalam sejak kuartal II-2013 atau dalam 13 tahun terakhir

Logam mulia mencatat penurunan kuartalan pertama sejak 2024 sekaligus yang terdalam sejak kuartal II-2013, ketika konflik di kawasan Teluk memicu kekhawatiran inflasi.

Meskipun emas dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga cenderung menekan daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset).

"Pasar masih sedikit gelisah mengenai seberapa stabil nota kesepahaman (MOU) tersebut, sehingga tekanan terhadap emas tetap tinggi karena pelaku pasar belum melihat titik terang," kata analis Marex, Edward Meir, kepada Refinitiv.

Utusan utama Amerika Serikat yang tiba di Doha dipastikan tidak akan menggelar pertemuan tingkat tinggi dengan Iran, menurut seorang pejabat Qatar. Kondisi ini memunculkan keraguan terhadap kemajuan upaya mengakhiri perang Iran secara permanen.

Meir menambahkan bahwa inflasi di AS masih bertahan pada level tinggi dan jauh di atas target The Fed sebesar 2%.

Pasar kini memperkirakan bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama, bahkan masih membuka peluang kenaikan suku bunga tambahan. Ekspektasi tersebut menjadi faktor yang menekan harga emas.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 67% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga pada pertemuan September.

Investor kini menantikan data ketenagakerjaan ADP yang akan dirilis Rabu serta data nonfarm payrolls pada Kamis untuk memperoleh petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan moneter The Fed.

Di sisi lain, survei Official Monetary and Financial Institutions Forum (OMFIF) menunjukkan bank-bank sentral di dunia cenderung mengurangi eksposur terhadap dolar AS dalam satu dekade mendatang karena meningkatnya risiko geopolitik, sembari menambah kepemilikan emas dalam jangka pendek.

Harga perak sedikit lebih baik.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada akhir semester I yakni Selasa (30/6/2026) ditutup di posisi US$ 58,59 per troy ons. Harganya menguat 0,49%.

Pada hari ini, Rabu (1/7/2026) pukul 06.02 WIB, harga perak ada di posisi US$ 58,63 per troy ons. Harganya melemah 0,17%.


(mae/mae) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Maaf! Harga Emas Masih Gelap, Jangan Berharap Naik Dulu


Most Popular
Features