Harga Emas Makin Babak Belur, Ramalan Terbaru Tambah Bikin Ngeri

mae, CNBC Indonesia
Kamis, 25/06/2026 06:47 WIB
Foto: Pexels

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak anjlok ke level terendah ke bawah level psikologis US$4.000 per troy ons. Pelemahan dipicu oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) akan kembali menaikkan suku bunga.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (24/6/2026) ditutup di posisi US$4000,42 per troy ons. Harganya ambruk 2,63%.

Pelemahan ini memperpanjang derita emas dengan ambruk 4,53% dalam dua hari beruntun. Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terendah sejak 7 November 2025 atau tujuh bulan terakhir.

Harga emas sedikit membaik pada hari ini. Pada hari ini, Kamis (25/6/2026) pukul 06.44  WIB WIB, harga emas  menguat 0,27% ke US$ 4012,09 per troy ons. Padahal harga emas sempat menyentuh level US$ 3997,43 per troy ons begitu dibuka hingga pukul sekitar 06. 35 WIB.

Penguatan dolar AS membuat emas yang diperdagangkan dalam mata uang tersebut menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sehingga menekan permintaan.

Pelaku pasar juga semakin yakin bahwa The Fed akan kembali menaikkan suku bunga tahun ini setelah bank sentral mengadopsi nada yang lebih hawkish dalam pertemuan kebijakan terakhirnya. Kekhawatiran inflasi akibat perang Iran juga memperkuat ekspektasi tersebut.

"Pasar kini mulai memperkirakan kenaikan suku bunga bisa terjadi secepat September. Sikap hawkish The Fed, lonjakan dolar AS ke level tertinggi dalam 13 bulan, serta menurunnya ekspektasi inflasi memberikan tekanan besar terhadap logam mulia," ujar Tai Wong, pedagang logam independen.

Ia menambahkan, emas memiliki level dukungan (support) di bawah US$3.900 per troy ons, sementara pembelian oleh bank-bank sentral masih terus berlangsung sehingga peluang terjadinya kejatuhan harga yang lebih dalam relatif kecil.

"Namun, emas kemungkinan akan memasuki periode konsolidasi yang cukup panjang karena saat ini aset tersebut mulai kehilangan daya tarik di mata investor," katanya.

Emas cenderung kurang diminati ketika suku bunga naik karena tidak memberikan imbal hasil (yield).

Harga emas spot sendiri sempat mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di US$5.594,82 per troy ons pada akhir Januari. Sejak saat itu, harga telah terkoreksi lebih dari US$1.600 per troy ons.

Analis ING juga memangkas proyeksi harga emas. Kini mereka memperkirakan harga rata-rata emas berada di US$4.300 per troy ons pada kuartal III-2026 dan US$4.600 per troy ons pada kuartal IV-2026. Sebelumnya, ING memproyeksikan harga masing-masing sebesar US$4.850 dan US$5.000 per troy ons.

Investor kini menantikan rilis data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS pada Kamis, yang merupakan indikator inflasi favorit The Fed.

Menurut Lukman Otunuga, Senior Research Analyst di FXTM, sinyal hawkish tambahan dari pejabat The Fed atau data ekonomi yang mendukung kenaikan suku bunga berpotensi memperbesar tekanan terhadap harga emas.


(mae/mae) Add as a preferred
source on Google
Pages