Mata Uang Asia: Ringgit-Won Taklukkan Dolar, Yuan - Rupiah Sengsara
Jakarta, CNBC Indonesia - Pergerakan mata uang Asia terhadap dolar Amerika Serikat (AS) cenderung beragam pada perdagangan Selasa (23/6/2026). Pasar masih dibayangi ekspektasi kebijakan bank sentral AS, The Federal Reserve/The Fed, yang lebih hawkish.
Merujuk data Refinitiv per pukul 09.15 WIB, dari 10 mata uang Asia, sebanyak lima mata uang melemah terhadap dolar AS, empat mata uang menguat, dan satu mata uang stagnan.
Peso Filipina menjadi mata uang dengan tekanan paling dalam di Asia pada pagi ini. Peso melemah 0,40% ke posisi PHP 61,221/US$.
Baht Thailand juga ikut tertekan setelah terkoreksi 0,21% ke posisi THB 33/US$. Rupiah menyusul dengan pelemahan 0,14% ke posisi Rp17.850/US$, membuat mata uang Garuda masih bergerak diatas level psikologis Rp17.800/US$.
Tekanan lebih tipis terlihat pada dong Vietnam yang melemah 0,03%, sementara yuan China terkoreksi tipis 0,01% terhadap dolar AS.
Di sisi lain, ringgit Malaysia menjadi mata uang dengan penguatan paling tajam di Asia setelah naik 0,29% ke posisi MYR 4,134/US$. Won Korea Selatan juga menguat 0,25% ke posisi KRW 1.534,4/US$.
Dolar Taiwan naik tipis 0,02% ke posisi TWD 31,596/US$, sementara yen Jepang menguat sangat tipis 0,01% ke JPY 161,53/US$. Meski menguat, posisi yen masih berada di area lemah dan mendekati level terendah dalam sekitar empat dekade terakhir.
Adapun dolar Singapura bergerak stagnan di posisi SGD 1,292/US$.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) terpantau melemah tipis 0,02% ke posisi 101,001 pada waktu yang sama. Meski turun tipis, posisi DXY masih bertahan di level tinggi, sehingga tekanan terhadap mata uang Asia belum sepenuhnya mereda.
Dolar AS masih cukup kuat pada perdagangan Selasa karena pelaku pasar semakin memperhitungkan peluang sikap The Fed yang lebih hawkish. Fed funds futures kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga pada September mencapai 75%.
Sejumlah lembaga besar juga mulai mengubah pandangannya. BofA Global Research dan Deutsche Bank tidak lagi memperkirakan suku bunga The Fed akan bertahan, dan kini melihat peluang kenaikan suku bunga tahun ini seiring ekonomi AS yang masih kuat.
Sim Moh Siong, FX strategist OCBC, menilai dolar AS masih bertahan kuat karena kenaikan imbal hasil dan ekspektasi The Fed yang lebih hawkish.
"Dolar bertahan kuat karena kenaikan imbal hasil dan taruhan The Fed yang hawkish," ujar Sim dikutip dari Reuters.Â
OCBC kini memperkirakan dolar AS akan bergerak sedikit lebih kuat di tengah meningkatnya risiko kebijakan moneter AS yang lebih ketat. Pandangan ini berubah dari proyeksi sebelumnya yang memperkirakan dolar bergerak dalam rentang terbatas.
Selain faktor The Fed, dolar AS juga mendapat dukungan dari pergerakan harga minyak. Harga minyak kembali naik pada Selasa setelah sempat turun tajam pada sesi sebelumnya akibat perkembangan pembicaraan damai AS-Iran.
Investor masih menunggu kejelasan lebih lanjut mengenai pemulihan arus minyak melalui Selat Hormuz. Selama kepastian tersebut belum muncul, risiko harga energi tetap menjadi perhatian pasar.
Bagi mata uang Asia, gabungan antara ekspektasi suku bunga AS yang lebih tinggi dan kenaikan harga minyak membuat ruang penguatan menjadi terbatas. Hal ini terlihat dari pergerakan mata uang kawasan yang masih campuran pada pagi ini, dengan rupiah dan peso Filipina masuk jajaran yang tertekan.
CNCB INDONESIA RESEARCHÂ
(evw/evw) Addsource on Google