Harga Emas Tiba-Tiba Terbang Lagi, Damai Perang Jadi Dewa Penolong
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak bangkit setelah ada kemajuan dalam perundingan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Perdamaian ini menekan harga minyak serta meredakan sebagian kekhawatiran inflasi.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Senin (22/6/2026) ditutup di posisi US$ 4190,43 per troy ons.Harganya menanjak 0,73%.
Kenaikan ini memutus tren negatif emas yang ambruk 3,9% dalam tiga hari beruntun sebelumnya.
Pada hari ini, Selasa (23/6/2026) pukul 06.23 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4190,57 per troy ons atau menguat tipis 0,003%.
Analis Saxo Bank, Ole Hansen, mengatakan harga energi masih akan menjadi pendorong utama pergerakan logam mulia dalam jangka pendek.
Menurutnya, pembicaraan yang masih berlangsung antara AS dan Iran di Swiss mengarah pada kemungkinan tercapainya kesepakatan yang dapat menambah pasokan minyak mentah ke pasar global. Prospek tambahan pasokan tersebut menekan harga minyak dan pada akhirnya membantu menopang harga emas.
"Harga energi akan tetap menjadi penggerak utama pasar logam mulia dalam jangka pendek," kata analis Saxo Bank, Ole Hansen, kepada Reuters.
"Kami melihat pembicaraan yang masih berjalan dan penuh dinamika antara AS dan Iran di Swiss tetap mengarah pada tercapainya kesepakatan. Kesepakatan itu pada dasarnya akan menambah pasokan minyak mentah ke pasar global," ujar Hansen.
Â
Menurutnya, prospek tambahan pasokan minyak tersebut akan menekan harga minyak mentah. Penurunan harga energi berpotensi meredakan tekanan inflasi sehingga memberikan dukungan bagi harga emas.
Wakil Presiden AS JD Vance mengatakan pembicaraan dengan pejabat Iran di Swiss telah menciptakan fondasi yang baik menuju kesepakatan damai final, meskipun ketegangan terkait Selat Hormuz dan Lebanon masih membayangi.
Setelah pernyataan tersebut, harga minyak Brent turun lebih dari 3%.
Di sisi kebijakan moneter, pelaku pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Desember mencapai 89%, naik dari 61% sebelum rapat bank sentral AS pekan lalu, berdasarkan CME FedWatch Tool.
Sebanyak sembilan dari 19 pejabat The Fed juga memperkirakan suku bunga acuan masih perlu dinaikkan tahun ini.
Meski dikenal sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, emas biasanya kehilangan daya tarik ketika suku bunga naik karena tidak memberikan imbal hasil seperti obligasi atau instrumen berbunga lainnya.
Â
Dalam catatan risetnya pada Jumat lalu, Bank of America menyebut target harga emas sebesar US$6.000 per ons tampaknya sulit tercapai dalam waktu dekat. Untuk mencapai level tersebut, pasar harus sepenuhnya menghapus ekspektasi kenaikan suku bunga.
Meski begitu, Bank of America menegaskan alasan utama yang mendasari pandangan bullish terhadap emas, yakni kebijakan ekonomi makro AS yang tidak konvensional, masih tetap berlaku.
Harga perak ikut membaik.
Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Senin (22/6/2026) ditutup di posisi US$ 65,18 per troy ons.Harganya menguat 0,43%.
Kenaikan ini memutus tren negatif harga perak yang ambruk 7,5% dalam tiga hari beruntun sebelumnya.
Pada hari ini, Selasa (23/6/2026) pukul 06.33 WIB, harga perak ada di posisi US$ 65 per troy ons atau melemah 0,27%.
(mae/mae) Add
source on Google Next Article Cemas! Lembaga Dunia Mulai Pangkas Proyeksi Harga Emas & Perak