Harga Emas Babak Belur, Jatuh ke Level US$ 4.100: Waspadalah!
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas melemah tertekan oleh sinyal kebijakan hawkish dari The Federal Reserve (The Fed) dan penguatan dolar Amerika Serikat (AS).
Sementara itu, kesepakatan gencatan senjata antara AS dan Iran yang meredakan kekhawatiran inflasi serta menekan harga minyak turut membatasi daya tarik emas.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Kamis (18/6/2026) ditutup di posisi US$ 4208,59 per troy ons atau jatuh 1,15%. Pelemahan ini memperpanjang derita emas yang jatuh 2,8% dalam dua hari beruntun.
Harga penutupan kemarin juga menjadi yang terendah sejak 10 Juni 2026.
Pada hari ini harga emas makin jatuh. Pada Jumat (19/6/2026) pu pukul 06.42 WIB, harga emas ada di posisi US$ 4195,31 per troy ons atau melemah 0,32%.
"Faktor paling signifikan adalah perubahan nada The Fed yang lebih hawkish kemarin. Hal itu mendorong dolar AS ke level tertinggi baru tahun ini dan membuat emas tetap berada di bawah tekanan," kata Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals, Peter Grant, kepada Reuters.
The Fed mempertahankan suku bunga acuannya pada Rabu, namun sembilan dari 19 pejabat bank sentral memperkirakan kenaikan suku bunga masih diperlukan sebelum akhir tahun. Indeks dolar terbang ke 100,89 yang merupakan rekor tertinggi sejak Mei 2025.
Penguatan dolar membuat emas yang diperdagangkan dalam denominasi dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri.
Pasar kini memperkirakan peluang kenaikan suku bunga AS pada Desember mencapai 85%, berdasarkan CME FedWatch Tool. Angka ini meningkat tajam dibandingkan probabilitas 61% sebelum keputusan kebijakan The Fed diumumkan.
Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding asset), emas biasanya kurang diminati ketika suku bunga tinggi. Harga emas juga berada di bawah tekanan sejak pecahnya konflik di Timur Tengah karena lonjakan biaya energi memicu kekhawatiran inflasi.
AS dan Iran pada Kamis merilis teks kesepakatan sementara yang ditandatangani kedua presiden sehari sebelumnya untuk mengakhiri perang. Presiden AS Donald Trump juga memperingatkan akan melanjutkan serangan dan menargetkan pejabat Iran jika Teheran gagal memenuhi komitmennya dalam perjanjian tersebut.
(mae/mae) Add
source on Google