3 Kekuatan Berlawanan Bayangi RI: Review MSCI, Perang & Dampak BI Rate
- Pasar keuangan RI ditutup beragam, IHSG dan SBN melemah sementara Rupiah ditutup di zona penguatan tipis.
- Wall Street kompak terbang setelah ditutup melemah karena sikap hawkish The Fed.
- Hasil MSCI Accessibility Review dan reaksi penetapan direksi baru BEI menjadi penggerak utama pasar hari ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup beragam pada perdagangan kemarin Kamis (18/6/2026). Bursa saham dan Surat Berharga Negara (SBN) ditutup melemah setelah kenaikan suku bunga BI sebesar 25 bps ke level 5,75%, sementara Rupiah berada di zona penguatan setelah bertubi-tubi mengalami pelemahan pada beberapa bulan terakhir.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tantangan pada hari ini di tengah banyaknya pengumuman penting. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan di zona merah kemarin, Kamis (18/6/2026).
IHSG memangkas koreksi pada akhir perdagangan setelah sebelumnya sempat anjlok 2% pada sesi pertama. IHSG ditutup di level 6.172,34, turun 48,4 poin atau -0,78%.
Sebagai informasi, IHSG sempat turun lebih dari 2% dan menyentuh level terendah harian di 6.073,72. Menjelang akhir sesi 1, IHSG memangkas koreksi dan sempat menyentuh level tertinggi kemarin di 6.197,17.
Sebanyak 445 emiten turun, 271 naik, dan 243 stagnan. Nilai transaksi mencapai Rp 17,95 triliun, melibatkan 23,68 miliar saham dalam 1,78 juta transaksi. Kapitalisasi pasar tergerus menjadi Rp 10.740 triliun.
Menurut data perdagangan, pihak asing (foreign) kemarin mencatatkan penjualan bersih kembali setelah dua hari lalu sempat mengalami net foreign inflow. Net foreign outflow pada perdagangan kemarin tercatat sebesar Rp111,31 miliar di seluruh jenis transaksi pasar.
Mengutip Refinitiv, ada tiga emiten yang menjadi pemberat utama, yakni Bank Rakyat Indonesia (BBRI) -18,82 poin, Telkom Indonesia (TLKM) -18,79 poin, dan Bank Central Asia (BBCA) -18,74 poin.
Selain itu, Mora Telematika (MORA), Capital Financial (CASA), Bank Negara Indonesia (BBNI), hingga Bank Mandiri (BMRI) juga masuk dalam daftar top laggards pada perdagangan kemarin.
Pergerakan markat kemarin menunjukkan masih adanya kekhawatiran dalam penantian pengumuman MSCI Global Market Accessibility Review yang dijadwalkan rilis pada Jumat (19/6/2026) subuh tadi.
Selain Accessibility Review, MSCI juga akan segera merilis MSCI Annual Market Classification Review pada Rabu (24/6/2026) subuh mendatang.
Rilis ini akan menjadi penentu bagi pasar ekuitas di Indonesia terkait akankah Indonesia tetap berada di Emerging Market atau dalam kasus terburuknya bisa turun ke dalam Frontier Market seperti yang ditakuti oleh Investor beberapa bulan terakhir sejak diedarkannya surat pemberitahuan terkait transparansi pasar oleh MSCI pada Rabu (28/1/2026).
Lanjut ke mata uang Rupiah, Mata uang Garuda berhasil membalikkan keadaan dan ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis (18/6/2026). Penguatan ini terjadi setelah Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan.
Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,17% atau terapresiasi ke level Rp17.700/US$. Penguatan ini sekaligus membalikkan posisi rupiah dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Pada Rabu (17/6/2026), rupiah ditutup melemah 0,23% ke level Rp17.730/US$.
Â
Sepanjang perdagangan kemarin, rupiah sebetulnya sempat mengawali hari di zona merah. Mata uang Garuda dibuka melemah tajam 0,62% ke level Rp17.840/US$.
Namun, tekanan terhadap rupiah perlahan menyempit menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI. Setelah keputusan BI diumumkan, rupiah mampu membalikkan keadaan dan berakhir menguat pada penutupan perdagangan.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per pukul 15.00 WIB terpantau menguat 0,19% ke level 100,281.
Penguatan rupiah kemarin terjadi setelah RDG Bank Indonesia pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%.
Sejalan dengan keputusan tersebut, suku bunga Deposit Facility juga naik 25 basis poin menjadi 4,75%, sementara suku bunga Lending Facility naik 25 basis poin menjadi 6,50%.
"RDG BI pada 17-18 Juni 2026 memutuskan untuk menaikkan BI Rate 25 bps menjadi 5,75%," kata Gubernur BI Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Kamis (18/6/2026).
Kenaikan ini menjadi langkah lanjutan BI untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah. Selain itu, kebijakan tersebut juga menjadi langkah pre-emptive untuk menjaga inflasi pada 2026 dan 2027 agar tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% yang ditetapkan pemerintah.
Pada RDG Bulanan Mei 2026, BI lebih dulu menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin. Kemudian pada RDG Mingguan pekan lalu, BI kembali menaikkan BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Kini, BI kembali menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,75%. Total BI sudah menaikkan BI-Rate sebesar 100 bps dalam sebulan terakhir.
Keputusan BI kali ini sejalan dengan polling CNBC Indonesia. Dari 14 institusi yang dihubungi, delapan memperkirakan BI Rate akan naik 25 basis poin menjadi 5,75%.
Sementara di pasar obligasi, imbal hasil SBN tenor 10 tahun naik ke 6,968% kemarin Kamis (18/6/2026), dari hari sebelumnya yang ditutup di 6,91%.
Menguatnya imbal hasil ini mengindikasikan bahwa investor mulai menjual obligasi tersebut sehingga harga turun.
Saham AS naik pada hari Kamis, melakukan comeback setelah Federal Reserve mengindikasikan kemungkinan kenaikan suku bunga tahun ini - sebuah langkah yang memicu aksi jual di pasar ekuitas pada sesi sebelumnya.
S&P 500 melesat 1,08%, ditutup pada 7.500,58, dan Nasdaq Composite menguat 1,91% menjadi 26.517,93. Dow Jones Industrial Average naik 72,15 poin, atau 0,14%, berakhir di level 51.564,70.
Intel memimpin saham cip bergerak lebih tinggi, naik 10,6% setelah Presiden Donald Trump mengatakan perusahaan tersebut akan bermitra dengan Apple dalam merancang cip di AS. Emiten semikonduktor sejenis seperti Nvidia dan Micron Technology juga bergerak lebih tinggi, masing-masing sekitar 3% dan hampir 9%. Kenaikan iShares Semiconductor ETF (SOXX) melonjak lebih dari 6%.
Robert Conzo, CEO di The Wealth Alliance kepada CNBC Internasional, mengatakan dia percaya ada "lebih banyak tren bullish seputar perusahaan yang bekerja sama karena infrastruktur kecerdasan buatan (AI) dan efek AI di dalam banyak industri berbeda yang saling bersaing."
Dia juga mengatakan, "Saya pikir Apple-Intel adalah sedikit representasi dari apa yang bisa Anda lihat terjadi di masa depan."
Wall Street mengalami aksi jual pada hari Rabu setelah pertemuan pertama Federal Reserve dengan Kevin Warsh sebagai ketua meningkatkan kekhawatiran tentang kebijakan moneter ke depan.
"Dot plot" para pembuat kebijakan mengungkapkan bahwa sembilan dari 18 pejabat Fed sekarang melihat suku bunga meningkat pada tahun 2026.
Yang mempersulit prospek adalah keputusan Warsh untuk abstain dari menyerahkan perkiraan suku bunga. Namun, sang ketua berulang kali menekankan tujuan untuk mencapai "stabilitas harga" selama konferensi pers, menunjukkan nada yang dipandang agak hawkish.
"Ada ketidakpastian, tetapi saya pikir di balik ketidakpastian itu ada beberapa kekuatan yang cukup positif bergerak maju," Conzo menambahkan, mengutip pendapatan yang kuat, data ketenagakerjaan bulan Mei yang lebih baik dari perkiraan, dan angka penjualan ritel yang optimistis baru-baru ini sebagai pendorong.
Saham menutup pekan yang dipersingkat oleh hari libur di wilayah positif. S&P 500 naik 0,9% dalam periode tersebut untuk minggu kemenangan ke-11 dari 12 minggu. Dow naik 0,7% untuk minggu ini, sementara Nasdaq melonjak 2,4%.
Ekuitas AS berakhir dengan keuntungan pada hari Kamis. S&P 500 naik 1,08% untuk mengakhiri hari di 7.500,58, sementara Nasdaq Composite naik 1,91% untuk menetap di 26.517,93. Dow Jones Industrial Average menambah 72,15 poin, atau 0,14%, menjadi 51.564,70. ucap Sean Conlon.
Investor rata-rata yang membeli saham SpaceX di pasar terbuka setelah debutnya telah melihat hampir semua keuntungan mereka lenyap karena penarikan tajam menghapus sebagian besar lonjakan saham pasca-IPO.
Saham SpaceX turun 6% pada hari Kamis menjadi sedikit di bawah US$180 per saham. Harga rata-rata tertimbang volume lima hari saham tersebut, atau VWAP, adalah US$179 per saham. VWAP mengukur harga rata-rata sekuritas yang ditransaksikan sepanjang hari, tertimbang oleh volume perdagangan dan digunakan secara luas oleh para pedagang untuk mengukur posisi investor.
Pergerakan tersebut menunjukkan rata-rata pembeli pasca-IPO sekarang kira-kira berada dalam posisi impas.
Pergerakan pasar keuangan pada akhir pekan ini diwarnai oleh berbagai sentimen fundamental yang sangat krusial, baik dari eskalasi kebijakan moneter domestik maupun indikator makroekonomi global.
Serangkaian sentimen ini diproyeksikan akan mendikte arah pergerakan arus modal asing, likuiditas pasar valuta asing, serta volatilitas Indeks Harga Saham Gabungan pada penutupan perdagangan pekan ini.
Dibukanya kembali Selat Hormuz menjadi kabar baik bagi Indonesia tetapi tekanan datang dari review MSCI dan kenaikan BI rate.
1. Perkembangan Perang
Amerika Serikat (AS) resmi mencabut blokade terhadap Iran setelah Presiden Donald Trump menandatangani kesepakatan sementara dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk mengakhiri perang kedua negara.
Sebagai bagian dari kesepakatan, Iran mengizinkan kapal komersial melintas di Selat Hormuz tanpa biaya selama 60 hari. Langkah ini mendorong harga minyak turun ke level terendah sejak perang pecah pada 28 Februari, seiring harapan arus ekspor minyak melalui jalur yang mengangkut sekitar 20% pasokan global kembali normal.
Meski demikian, ketegangan belum sepenuhnya mereda. Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei menilai negosiasi program nuklir masih akan berlangsung sulit, sementara Israel tetap melanjutkan operasi militernya di Lebanon.
Menurut Kpler, arus minyak melalui Selat Hormuz berpotensi pulih hingga hampir 50% dari level sebelum perang dalam 30 hari jika kesepakatan berjalan lancar, meski pemulihan penuh diperkirakan berlangsung bertahap.
2. Indeks Dolar Terbang
Indeks dolar terbang ke 100,89 yang merupakan rekor tertinggi sejak Mei 2025.
Indeks yang terbang ini menandai adanya aksi borong investor terhadap dolar AS. Kondisi ini bisa memicu net outflow dari emerging market karena investor menjual aset mereka di emerging market untuk beralih ke dolar. Rupiah bisa menjadi salah satu instrument yang dijual sehingga rawan tertekan.
3. Hasil MSCI Global Market Accessibility Review Juni 2026
Melengkapi dinamika makroekonomi dan struktural tersebut, sentimen krusial yang berdampak langsung pada pergerakan harga saham hari ini adalah publikasi 2026 Global Market Accessibility Review yang diterbitkan oleh MSCI pada Jumat subuh tadi.
Dalam laporan evaluasi tahunan tersebut, aksesibilitas pasar ekuitas Indonesia secara resmi mencatatkan pemburukan pada kriteria arus informasi.
Berdasarkan tabel ringkasan pemeringkatan pada dokumen tersebut, peringkat kriteria arus informasi (Information Flow) untuk Indonesia diturunkan dari peringkat positif tanpa masalah besar pada tahun 2025 menjadi peringkat negatif yang mengindikasikan urgensi perbaikan pada tahun 2026.
Penurunan peringkat aksesibilitas ini dipicu oleh temuan masalah struktural terkait ketidakjelasan dalam struktur kepemilikan saham di pasar modal domestik.
Selain itu, evaluasi global ini juga menyoroti adanya indikasi perilaku perdagangan yang terkoordinasi di bursa Indonesia, yang secara langsung dinilai merusak proses pembentukan harga yang wajar di pasar reguler.
Praktik-praktik yang membatasi tingkat transparansi ini dipandang membatasi kemampuan investor institusional internasional secara material dalam menilai besaran riil dari saham yang beredar di publik (true free float).
Kondisi ini turut menghalangi investor asing untuk dapat mengandalkan harga pasar yang diobservasi secara objektif dalam proses konstruksi portofolio serta replikasi indeks mereka.
Lebih lanjut, laporan evaluasi tersebut juga memberikan catatan bahwa kriteria hak yang setara bagi investor asing (Equal Rights to Foreign Investors) masih terhambat.
Hal ini dikarenakan informasi mendetail terkait aksi korporasi perusahaan maupun dinamika pasar saham domestik tidak selalu tersedia dengan mudah dalam bahasa Inggris.
Meskipun demikian, kerangka operasional Indonesia pada aspek lain relatif masih stabil, dengan peringkat sangat baik yang dipertahankan untuk kriteria infrastruktur penitipan aset, registrasi, mekanisme perdagangan, serta kelonggaran batasan kepemilikan asing.
Walaupun infrastruktur perdagangan secara sistem dinilai sangat memadai, sorotan tajam pada transparansi kepemilikan dan integritas pembentukan harga ini akan memicu evaluasi ulang dari berbagai pengelola reksa dana indeks global, yang berpotensi menimbulkan tekanan volatilitas penyesuaian bobot arus modal asing pada saham-saham berkapitalisasi besar di sepanjang sesi perdagangan hari ini.
Walaupun terjadi perubahan, Bursa Efek Indonesia (BEI) sudah melakukan pembenahan dari segi keterbukaan informasi yang disediakan bagi investor domestik maupun asing. BEI sudah membuka kepemilikan saham di atas 1%, merilis data HSC, dan berbagai pembenahan struktural di bursa.
MSCI Global Market Accessibility Review Juni 2026 (dok. MSCI) |
Rangkuman perbaikan MSCI Global Market Accessibility Review Juni 2026 (dok. MSCI) |
4. Pimpinan Baru Bursa Efek Indonesia
Salah satu perbaikan tersebut adalah sorotan mengenai pembentukan jajaran Direksi Bursa Efek Indonesia terbaru periode 2026-2030 yang menjadikannya sebuah komitmen bagi Bursa Efek Indonesia untuk terus memperbaiki kondisi bursa domestik hingga menjadi bursa kelas dunia.
Kemarin, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) secara resmi telah memberikan izin kepada Jeffrey Hendrik untuk menduduki posisi sebagai Direktur Utama Bursa Efek Indonesia periode 2026-2030, menggantikan posisi yang sebelumnya ditinggalkan oleh Iman Rachman.
Keputusan pengangkatan ini diambil setelah yang bersangkutan lolos serangkaian uji kelayakan dan kepatutan, dan nantinya akan disahkan secara formal pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan pada 29 Juni mendatang.
Dalam jajaran direksi yang baru ini, Jeffrey akan didampingi oleh enam direktur lainnya untuk mengelola berbagai divisi krusial di bursa.
Pimpinan baru ini membawa mandat berat dari regulator maupun parlemen untuk melanjutkan reformasi integritas pasar modal yang telah berjalan, meningkatkan transparansi, serta menjaga ketat tata kelola di Bursa Efek Indonesia.
Pasar menaruh ekspektasi yang cukup besar terhadap kepemimpinan baru ini untuk melakukan pendalaman pasar, baik dari sisi suplai maupun permintaan, guna membawa bursa domestik naik kelas sejajar dengan bursa-bursa besar di tingkat global.
5. Bank Indonesia Kembali Naikkan Suku Bunga Acuan
Dari dalam negeri, kejutan kembali datang dari otoritas moneter. Dalam Rapat Dewan Gubernur yang berakhir pada Kamis kemarin, Bank Indonesia secara tegas memutuskan untuk kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin, sehingga kini berada di level 5,75%.
Keputusan ini merupakan langkah lanjutan setelah pada awal bulan lalu bank sentral juga telah melakukan intervensi suku bunga di luar jadwal reguler.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, secara eksplisit menegaskan bahwa manuver moneter ini diambil sebagai langkah antisipatif untuk memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat di tengah tingginya eskalasi ketidakpastian global.
Selain untuk menjaga nilai tukar mata uang Garuda agar tidak terdepresiasi lebih dalam, pengetatan kebijakan moneter ini juga ditujukan untuk menjangkar ekspektasi inflasi.
Bank sentral berkomitmen penuh untuk memastikan agar tekanan inflasi domestik tetap terkendali dan berada di dalam rentang sasaran pemerintah, yakni pada kisaran 2,5% dengan deviasi plus minus 1% di sepanjang tahun ini.
Langkah pengetatan ini dipastikan akan langsung direspons oleh dinamika pasar obligasi domestik serta berpotensi memengaruhi struktur rasio margin bunga bersih di sektor perbankan nasional.
6. Pengetatan Batas Pembelian Valuta Asing
Sejalan dengan upaya stabilisasi nilai tukar, Bank Indonesia juga merilis kebijakan makroprudensial baru terkait lalu lintas devisa. Otoritas moneter secara resmi menurunkan ambang batas pembelian valuta asing secara tunai yang dilakukan tanpa menyertakan underlying.
Batas maksimal pembelian dolar Amerika Serikat yang sebelumnya ditetapkan sebesar US$25.000 per orang per bulan, kini dipangkas secara signifikan menjadi hanya US$10.000 per pelaku per bulan.
Implementasi aturan kehati-hatian yang baru ini akan efektif berlaku mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini merupakan manifestasi nyata dari penguatan prinsip kehati-hatian dalam pelaporan lalu lintas devisa.
Selain itu, penyesuaian batas kewajiban dokumen pendukung untuk transfer dana ke luar negeri juga ditekan dari setara US$50.000 menjadi US$25.000.
Langkah komprehensif ini diharapkan dapat membatasi spekulasi valuta asing di pasar domestik dan menjaga ketersediaan pasokan likuiditas dolar Amerika Serikat agar tetap stabil dan berimbang.
7. Klaim Pengangguran AS
Dari pasar global, sentimen yang mewarnai pergerakan aset berisiko datang dari rilis data ketenagakerjaan mingguan Amerika Serikat pada Kamis malam waktu Indonesia.
Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat melaporkan bahwa jumlah klaim tunjangan pengangguran awal mengalami penurunan sebanyak 4.000 klaim menjadi 226.000 pada pekan kedua bulan Juni.
Realisasi ini mengindikasikan adanya perbaikan minor setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam empat bulan pada pekan sebelumnya, dan angka ini sejalan dengan konsensus pasar yang memproyeksikan angka di kisaran 225.000.
Meskipun klaim awal menurun, indikator klaim pengangguran lanjutan yang mencerminkan jumlah total individu yang masih menerima tunjangan justru mengalami peningkatan.
Klaim lanjutan ini naik sebanyak 24.000 menjadi 1.810.000 pada pekan pertama Juni, sekaligus menandai level tertingginya dalam hampir tiga bulan terakhir.
Walaupun data ini menunjukkan pergeseran dari level fundamental yang sangat kuat pada awal kuartal kedua, secara historis pasar tenaga kerja Amerika Serikat masih tergolong sangat kokoh.
Trenminimnyapemutusan hubungan kerja yang diiringi dengan rendahnya rekrutmen baru masih mendominasi, sehingga memberikan sinyal yang cukup kompleks bagi bank sentral Amerika Serikat dalam merumuskan jadwal pelonggaran kebijakan moneter ke depan.
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Inflasi Jepang Mei 2026
- PPI Jerman Mei 2026
- PPI Korea Selatan Mei 2026
- Penjualan Ritel Inggris Mei 2026
- Suku Bunga Bank Sentral Rusia Juni 2026
-
FPCI Public Discussion"Mid-Year Geopolitical and Economic Outlook 2026" di Auditorium Prof. Hasjim Djalal, FPCI Sekretariat, Jakarta.
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Clipan Finance Indonesia Tbk (CFIN)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Apollo Global Interactive Tbk (BOGA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Paperocks Indonesia Tbk (PPRI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Arthavest Tbk (ARTA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Saraswanti Anugerah Makmur Tbk (SAMF)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Resource Alam Indonesia Tbk (KKGI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Agung Menjangan Mas Tbk (AMMS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Ingria Pratama Capitalindo Tbk (GRIA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Ketrosden Triasmitra Tbk (KETR)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Digital Mediatama Maxima Tbk (DMMX)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bukaka Teknik Utama Tbk (BUKK)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Telefast Indonesia Tbk (TFAS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Blue Bird Tbk (BIRD)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Lupromax Pelumas Indonesia Tbk (LMAX)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Map Boga Adiperkasa Tbk (MAPB)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bekasi Fajar Industrial Estate Tbk (BEST)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bank Bumi Arta Tbk (BNBA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Graha Layar Prima Tbk (BLTZ)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bumi Teknokultura Unggul Tbk (BTEK)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Optima Prima Metal Sinergi Tbk (OPMS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Bumi Resources Tbk (BUMI)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Sidomulyo Selaras Tbk (SDMU)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Ancora Indonesia Resources Tbk (OKAS)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Amar Indonesia Tbk (AMAR)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana Indonesian Paradise Property Tbk (INPP)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bahtera Bumi Raya Tbk (PGJO)
-
Pemberitahuan RUPS Rencana PT Pondok Indah Padang Golf Tbk (PIPG)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Ecocare Indo Pasifik Tbk (HYGN)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Saham Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Wintermar Offshore Marine Tbk (WINS)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Soho Global Health Tbk (SOHO)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Trans Power Marine Tbk (TPMA)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Mandom Indonesia Tbk (TCID)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Buana Finance Tbk (BBLD)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Surya Citra Media Tbk (SCMA)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai BFI Finance Indonesia Tbk (BFIN)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai Gajah Tunggal Tbk (GJTL)
-
Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Interim PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Selamat Sempurna Tbk (SMSM)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Ateliers Mecaniques D Indonesie Tbk (AMIN)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Sat Nusapersada Tbk (PTSN)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG)
-
Tanggal DPS Dividen Tunai PT Topindo Solusi Komunika Tbk (TOSK)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Elnusa Tbk (ELSA)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Bank Mestika Dharma Tbk (BBMD)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Mitra Keluarga Karyasehat Tbk (MIKA)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Superior Prima Sukses Tbk (BLES)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Habco Trans Maritima Tbk (HATM)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk (SCCO)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Champion Pacific Indonesia Tbk (IGAR)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Selaras Citra Nusantara Perkasa Tbk (SCNP)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Madusari Murni Indah Tbk (MOLI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Multifiling Mitra Indonesia Tbk (MFMI)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Asia Pramulia Tbk (ASPR)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Jakarta Setiabudi Internasional Tbk (JSPT)
-
Tanggal Ex Dividen Tunai Kabelindo Murni Tbk (KBLM)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai ALAM SUTERA REALTY Tbk (ASRI)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai Metrodata Electronics Tbk (MTDL)
-
Tanggal Cum Dividen Tunai PT Jasa Berdikari Logistics Tbk (LAJU)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Utama Radar Cahaya Tbk (RCCC)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Charlie Hospital Semarang Tbk (RSCH)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Puri Sentul Permai Tbk (KDTN)
-
Hasil RUPS Tahunan dan Luar Biasa PT Pelayaran Jaya Hidup Baru Tbk (PJHB)
-
Hasil RUPS Tahunan Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Bliss Properti Indonesia Tbk (POSA)
-
Hasil RUPS Tahunan dan Luar Biasa PT Data Sinergitama Jaya Tbk (ELIT)
-
Hasil RUPS Tahunan dan Luar Biasa PT Batavia Prosperindo Trans Tbk (BPTR)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Griptha Putra Persada Tbk (GRPH)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Grand House Mulia Tbk (HOMI)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Trimitra Propertindo Tbk (LAND)
-
Hasil RUPS Tahunan dan Luar Biasa PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA)
-
Hasil RUPS Tahunan dan Luar Biasa PT Puradelta Lestari Tbk (DMAS)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Intan Baru Prana Tbk (IBFN)
-
Laporan Pembelian Kembali Saham (Buyback) (CBDK)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK)
-
Laporan Pembelian Kembali Saham (Buyback) (BBRI)
-
Laporan Pembelian Kembali Saham (Buyback) (BBNI)
-
Hasil RUPS Tahunan PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN)
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
-
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(gls/gls) Add
source on Google Next Article Waspada! Efek Kebijakan Tambang, BI Rate Naik & Kabar Buruk dari AS

