MARKET DATA

Harga Emas Ambruk 2% Dihantam The Fed, Trump Muncul Jadi Penyelamat

mae,  CNBC Indonesia
18 June 2026 06:40
Emas batangan
Foto: Reuters

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak berbalik melemah setelah bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) memberi sinyal kenaikan pada akhir tahun ini.

Namun, kesepakatan damai Iran vs AS membuat harga emas membaik pada hari ini.

Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (17/6/2026) ditutup di posisi US$ 4257,68 per troy ons atau ambruk 1,7% atau hampir 2%.

Pelemahan ini mengakhiri tren positifnya yang melonjak 6,3% dalam empat hari beruntun.

Harga emas membaik pada hari ini. Pada Kamis (18/6/2026) pukul 06.16 WIB, harga emas menguat 0,52% ke US$ 4279,71 per troy ons.



Pada Rabu waktu AS kemarin, The Fed memutuskan mempertahankan suku bunga di kisaran 3,50%-3,75%.

Namun, berdasarkan proyeksi terbaru yang dirilis setelah keputusan The Fed, sembilan dari 19 pembuat kebijakan bank sentral AS kini memperkirakan suku bunga perlu dinaikkan tahun ini.

Proyeksi median suku bunga Fed Funds pada akhir tahun kini berada di level 3,8%, naik dari 3,4% dalam proyeksi Maret lalu. Kenaikan ini mengindikasikan komite melihat setidaknya satu kali kenaikan suku bunga masih diperlukan pada 2026.

Dalam konferensi pers pertamanya setelah memimpin rapat kebijakan sebagai Ketua The Fed, Kevin Warsh mengumumkan pembentukan lima gugus tugas (task force) untuk meninjau berbagai aspek operasional bank sentral di bidang-bidang kebijakan penting.


"Ini adalah The Fed yang baru. Warsh terlihat tajam, percaya diri, dan penuh energi. Dia akan menjadi pengelola, bukan sekadar penjaga institusi. Pesannya jelas, perubahan akan datang, tetapi melalui pertimbangan yang matang," kata Tai Wong, pedagang logam independent, dikutip dari Reuters.

Menurut Wong, Warsh juga dua kali menegaskan bahwa suku bunga saat ini hanya bersifat restriktif bagi sektor perumahan. Pernyataan itu dinilai membuatnya lebih hawkish dibanding pendahulunya, Jerome Powell.

"Menurut saya, itulah yang mendorong pelemahan pasar. Pernyataan kebijakan dan dot plot bersifat hawkish, dan Warsh tidak melakukan apa pun untuk meredam persepsi tersebut," ujarnya.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, pasar kini melihat peluang kenaikan suku bunga pada Desember mencapai 78%, melonjak dari 61% sebelum keputusan The Fed diumumkan.

Dolar AS memperpanjang penguatannya setelah keputusan suku bunga tersebut. Kondisi ini membuat emas yang diperdagangkan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pembeli luar negeri. Di saat yang sama, harga minyak juga naik sehingga menjaga kekhawatiran terhadap inflasi.

Meski emas kerap dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, suku bunga yang tinggi biasanya menekan daya tarik logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.

Harga emas spot bahkan sempat menyentuh level terendah dalam lebih dari enam bulan pada pekan lalu setelah kekhawatiran inflasi akibat konflik Iran meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga.

Di sisi lain, kabar baik dari perang membuat harga emas menguat.

Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian pada Rabu (17/6/2026) menandatangani memorandum of understanding (MoU) yang bertujuan mengakhiri perang antara kedua negara, menurut seorang pejabat AS kepada Reuters.

Pejabat tersebut menjelaskan bahwa dokumen itu sebelumnya telah ditandatangani secara digital pada Minggu lalu oleh Wakil Presiden AS JD Vance dan kepala negosiator Iran Mohammad Baqer Qalibaf, serta disaksikan oleh Trump. Penandatanganan terbaru oleh Trump dan Pezeshkian menjadi langkah formal untuk memperkuat kesepakatan tersebut.


Penandatanganan tersebut menjadi langkah resmi terbaru dalam upaya menghentikan konflik yang telah berlangsung hampir empat bulan. Sebelumnya, dokumen yang sama telah ditandatangani secara digital oleh perwakilan kedua negara dan kini diperkuat dengan tanda tangan langsung dari Trump.

Dengan berakhirnya perang maka inflasi diperkirakan melandai sehingga The Fed sedikit mengurangi pandangan hawkishnya sehingga ada peluang emas untuk naik lagi.

Add logo_svg as a preferred
source on Google

Harga perak juga ikut ambruk.

Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Rabu (17/6/2026) ditutup di posisi US$ 67,98 per troy ons atau jatuh 3,11%.

Pelemahan ini mengakhiri tren positifnya yang melonjak 10,2% dalam empat hari beruntun.

Harga perak sedikit membaik pada hari ini. Pada Kamis (18/6/2026) pukul 06.18 WIB, harga perak menguat 0,4% ke US$ 68,26 per troy ons.



Most Popular
Features