MARKET DATA
Newsletter

Perang Mereda: Jepang, China & The Fed Malah Bikin RI Ketar-Ketir

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
17 June 2026 06:22
Gubernur BI Optimis Nilai Tukar Rupiah Rp 16.500/US$ Akhir Tahun
Foto: Infografis/ Rupiah/ Edward Ricardo
  • Pasar keuangan RI ditutup kompak pada leveol penguatan baik IHSG, Rupiah, maupun imbal hasil SBN.
  • Wall Street berakhir beragam, Dow Jones rekor
  • Dampak kenaikan suku bunga BoJ, Penjualan Ritel AS, dan RDG hari pertama dan rapat The Fed menjadi penggerak utama pasar hari ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup kompak menguat pada perdagangan kemarin Senin (15/6/2026).  Bursa saham hingga mata uang dan  Surat Berharga Negara (SBN) ditutup menguat setelah bertubi-tubi mengalami pelemahan pada beberapa minggu terakhir

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih melanjutkan penguatannya pada hari ini dan sepanjang pekan ini di tengah banyaknya pengumuman penting pekan ini. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini dan satu pekan ke depan bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Senin (15/6/2026) dengan kenaikan tajam, didorong oleh penguatan saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

IHSG ditutup menguat 247,31 poin atau 4,12% ke level 6.254,97. Sepanjang perdagangan, indeks sempat menyentuh level tertinggi harian di 6.345,80 sebelum memangkas penguatan pada sesi 2.

Nilai transaksi mencapai Rp30,06 triliun dengan volume perdagangan 50,11 miliar saham dan frekuensi transaksi sebanyak 3,19 juta kali. Sebanyak 633 saham menguat, 133 saham melemah, dan 193 saham bergerak stagnan.

Meski terjadi aksi ambil untung pada sesi kedua, mayoritas sektor masih ditutup di zona hijau. Sektor bahan baku memimpin kenaikan dengan penguatan 7,47%, disusul sektor keuangan 4,82%, utilitas 3,87%, dan konsumen non-primer 3,76%.

Dari sisi kontributor indeks, saham-saham bank menjadi motor utama penguatan IHSG.

PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) menjadi penyumbang terbesar kenaikan indeks dengan kontribusi 32,79 poin. Selanjutnya PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI) menyumbang 23,47 poin, PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) sebesar 21,95 poin, dan PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. (BBNI) sebesar 7,77 poin.

Selain sektor perbankan, sejumlah saham lain yang turut menopang laju IHSG antara lain PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) dengan kontribusi 19,51 poin, PT Capital Financial Indonesia Tbk. (CASA) sebesar 16,28 poin, PT Amman Mineral Internasional Tbk. (AMMN) sebesar 10,03 poin, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) sebesar 7,31 poin, serta PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN) sebesar 6,27 poin.

Sementara itu, investor asing membukukan aksi beli bersih sebesar Rp106,0 miliar di seluruh pasar pada perdagangan Senin.

Lanjut ke mata uang garuda, nilai tukar rupiah mengakhiri perdagangan awal pekan ini dengan penguatan tajam terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (15/6/2026).

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,98% atau terapresiasi ke level Rp17.690/US$. Penguatan ini melanjutkan kinerja positif pada perdagangan terakhir pekan lalu. Pada Jumat (12/6/2026), rupiah berhasil ditutup menguat 0,61% ke posisi Rp17.865/US$.

Sepanjang perdagangan dua hari lalu, rupiah bergerak solid di zona hijau. Mata uang Garuda sudah mengawali perdagangan dengan penguatan 0,64% ke level Rp17.750/US$. Penguatan rupiah kemudian semakin besar hingga sempat menguat ke level Rp17.670/US$.

Meski penguatannya sedikit berkurang menjelang akhir perdagangan, rupiah tetap mampu bertahan kuat di area Rp17.600-an/US$.

Penguatan rupiah pada perdagangan dua hari lalu ditopang oleh pelemahan dolar AS di pasar global.

DXY melemah seiring kabar bahwa Amerika Serikat dan Iran telah menyepakati kerangka kesepakatan damai. Kabar tersebut membuat harga minyak turun dan mendorong permintaan terhadap aset berisiko.

Meski demikian, pelaku pasar masih tetap berhati-hati. Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada New York Times pada Minggu bahwa jika Iran gagal mencapai kesepakatan nuklir final dengan AS, maka Washington dapat kembali melancarkan serangan militer ke Teheran atau menjadikan AS sebagai "penjaga Timur Tengah" dengan imbalan 20% dari pendapatan kawasan tersebut.

Kondisi ini pada akhirnya mengurangi minat pasar terhadap dolar AS sebagai aset aman atau safe haven. Ketika permintaan terhadap dolar AS menurun, ruang penguatan bagi mata uang negara lain, termasuk rupiah, menjadi lebih terbuka.

Sentimen positif juga datang dari meningkatnya kepercayaan pasar terhadap langkah stabilisasi yang ditempuh pemerintah dan Bank Indonesia (BI).

Sementara di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara tenor 10 tahun kembali mengalami penguatan secara signifikan ke level 6,939% pada Senin kemarin, menguat dari hari sebelumnya yang ditutup di level 7,165%

Penurunan imbal hasil ini mengindikasikan bahwa kepercayaan dari investor domestik maupun asing mulai kembali ke pasar obligasi tanah air setelah mengalami penjualan secara ekstrem pada pekan lalu hingga mencapai 7,479% pada perdagangan Rabu (10/6/2026).

Dari pasar saham Amerika Serikat, bursa Wall Street bergerak beragam pada perdagangan Selasa atau Rabu dini hari waktu Indonesia.

Indeks Dow Jones Industrial Average mencetak rekor seiring investor beralih dari saham-saham produsen chip ke saham-saham siklikal di tengah penurunan harga minyak.

Indeks Dow Jones naik 328,64 poin atau 0,64% dan ditutup pada rekor tertinggi 51.999,67. Selama sesi perdagangan, Dow bahkan sempat menyentuh level tertinggi sepanjang masa di 52.190,29.

Sebaliknya, S&P 500 turun 0,57% dan ditutup di 7.511,35, sementara Nasdaq Composite melemah 1,15% ke 26.376,34.

Penurunan Nasdaq yang didominasi saham teknologi dipicu pelemahan sejumlah saham chip. Advanced Micro Devices (AMD) merosot lebih dari 7%, Broadcom turun 4%, Micron Technology melemah 6%, dan Nvidia kehilangan lebih dari 2%.

Di sisi lain, harga minyak melanjutkan penurunan dari sesi sebelumnya. Kontrak berjangka Brent turun 5,06% dan ditutup di US$78,96 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) AS merosot 5,82% ke US$76,05 per barel. Ini merupakan penutupan pertama di bawah US$80 per barel bagi kedua kontrak sejak awal Maret.

Seiring turunnya harga minyak, saham-saham sektor industri dan perbankan menguat.

Caterpillar memimpin kenaikan saham industri dengan lonjakan lebih dari 1%, sementara JPMorgan Chase naik lebih dari 3%. Investor bertaruh bahwa harga energi yang lebih rendah akan mendorong percepatan kembali pertumbuhan ekonomi AS.

Sementara itu, SpaceX kembali menjadi sorotan setelah melonjak hampir 5%, melanjutkan reli tajam sejak melantai di bursa pekan lalu.

Berkat kenaikan tersebut, kapitalisasi pasar SpaceX sempat melampaui Microsoft dan Amazon selama sesi perdagangan. Perusahaan itu menetapkan harga penawaran umum perdana (IPO) di US$135 per saham dan ditutup pada US$201,80 per saham.

Kinerja indeks-indeks utama tersebut melanjutkan penguatan yang terjadi pada Senin, setelah Presiden Donald Trump mengumumkan bahwa Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengatakan kedua pihak telah menyatakan penghentian operasi militer di semua front, dengan penandatanganan resmi perjanjian dijadwalkan berlangsung Jumat ini di Swiss.

Trump juga mengatakan bahwa Selat Hormuz akan kembali dibuka untuk pelayaran pada Jumat, yang mendorong harga minyak anjlok hampir 5% pada Senin

"Kita belum sepenuhnya keluar dari situasi sulit," kata Andy Goldberg, Chief Investment Strategist di Nomura Asset Management International, dikutip dari CNBC International.

Menurut Goldberg, jika harga minyak turun dengan cepat, inflasi utama akan ikut melandai. Namun di sisi lain, penurunan biaya energi akan meningkatkan daya beli konsumen AS.

"Jika harga minyak turun cepat, angka inflasi utama akan turun. Namun pada saat yang sama, lebih banyak uang akan kembali ke kantong konsumen ketika mereka sedang merasa cukup optimistis, dan kondisi itu justru bisa memicu inflasi lebih lanjut," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa Ketua Federal Reserve Kevin Warsh kini menghadapi tugas yang tidak mudah dalam menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dan pengendalian inflasi

Pergerakan pasar keuangan pada pertengahan pekan ini terus mencerna serangkaian rilis data ekonomi esensial dari ranah domestik maupun global. Di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah yang mengerek harga energi dan menciptakan volatilitas pada rantai pasok, investor kini telah mengantongi sejumlah indikator makroekonomi kunci.

Berikut adalah data-data penting yang sudah dirilis dan juga akan rilis pada hari ini:

Perkembangan Perang


Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan sementara selama 60 hari untuk mengakhiri perang di Timur Tengah.

Dalam kesepakatan tersebut, AS akan mencabut blokade pelabuhan Iran dan mengizinkan Teheran kembali menjual minyak, sementara Iran akan membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.

Presiden Donald Trump menegaskan Iran tidak akan memiliki senjata nuklir, meski isu program rudal balistik dan dukungan Iran terhadap kelompok-kelompok bersenjata regional belum masuk agenda negosiasi. Kesepakatan ini berpotensi memberikan manfaat ekonomi besar bagi Iran melalui pelonggaran sanksi dan pencairan aset yang dibekukan.

Meski demikian, posisi Israel yang tidak terlibat langsung dalam perundingan menimbulkan ketidakpastian terhadap keberlangsungan gencatan senjata. Merespons kabar tersebut, harga minyak dunia kembali jatuh ke level terendah dalam tiga bulan karena pasar memperkirakan pasokan minyak Iran akan kembali meningkat.

Utang Luar Negeri Indonesia Tumbuh di Tengah Rekor Denominasi Yuan

Pada Senin (15/6/2026) kemarin, Bank Indonesia merilis Statistik Utang Luar Negeri Indonesia periode April 2026 yang tercatat mencapai US$439,7 miliar.

Posisi tersebut menunjukkan pertumbuhan sebesar 1,9% secara tahunan, bergerak lebih tinggi apabila dibandingkan dengan pertumbuhan pada Maret yang berada di level 1,0%.

Pertumbuhan ini utamanya ditopang oleh utang luar negeri sektor publik, di mana utang pemerintah mencatatkan angka US$216,4 miliar atau tumbuh 3,7% secara tahunan.

Kenaikan pada sektor publik ini berbanding terbalik dengan utang luar negeri sektor swasta yang masih melanjutkan fase kontraksi sebesar 0,7% menjadi US$193,2 miliar.

Stabilitas pada surat berharga negara yang mencatatkan aliran modal masuk bersih turut mencerminkan masih terjaganya kepercayaan investor asing terhadap fundamental perekonomian domestik.

Aktivitas Manufaktur China Melaju di Atas Ekspektasi Pasar

Dari kawasan regional, Biro Statistik Nasional China merilis data aktivitas industri periode Mei 2026 pada Selasa kemarin yang memberikan indikasi pemulihan pada sisi pasokan.

Produksi industri China mengalami akselerasi dengan pertumbuhan sebesar 4,5% secara tahunan, melampaui angka bulan sebelumnya yang berada di level 4,1% serta lebih tinggi dari konsensus pasar yang memproyeksikan angka 4,3%.

Pemulihan aktivitas pabrik ini sangat ditopang oleh sektor manufaktur yang tumbuh 4,4%, dipimpin oleh lonjakan signifikan pada industri peralatan komputer dan komunikasi sebesar 17,0% serta industri otomotif yang naik 8,3%.

Di sisi lain, tidak seluruh sektor industri mencatatkan performa positif. Produksi produk mineral non-logam mengalami penurunan sebesar 5,6%, sementara sektor pertambangan secara umum mengalami moderasi pertumbuhan dari 3,8% menjadi 2,3%.

Bagi pasar domestik, stabilitas aktivitas industri di China ini memberikan sentimen yang cukup krusial.

Sebagai negara tujuan ekspor utama bagi Indonesia, geliat pabrik di China diharapkan dapat menjaga serapan permintaan terhadap bahan baku industri dan komoditas andalan nasional seperti batu bara, produk hilirisasi nikel, hingga minyak sawit mentah.

Konsumsi Domestik China Kehilangan Momentum

Berbanding terbalik dengan pencapaian sektor industrinya, rilis data penjualan ritel China pada Selasa kemarin justru memberikan sinyal pelemahan yang nyata dari sisi permintaan domestik.

Penjualan ritel pada bulan Mei secara mengejutkan terkontraksi sebesar 0,6% secara tahunan. Penurunan ini merupakan yang pertama kalinya terjadi sejak Desember 2022, sekaligus mematahkan ekspektasi pasar yang sebelumnya memperkirakan penjualan ritel akan stagnan tanpa pertumbuhan.

Momentum libur Hari Buruh pada awal bulan Mei ternyata gagal menstimulasi belanja masyarakat, khususnya untuk barang-barang diskresioner yang bernilai besar.

Pelemahan konsumsi di China terlihat paling mencolok pada anjloknya penjualan kendaraan bermotor yang menyusut hingga 16,1%. Sektor lain yang juga tertekan cukup dalam meliputi penjualan peralatan rumah tangga dan perangkat audiovisual yang turun 15,6%, serta bahan bangunan yang terkoreksi 13,6%.

Bank of Japan Kerek Suku Bunga ke Level Tertinggi Sejak 1995

Masih pada hari Selasa kemarin, Bank of Japan (BoJ) mengambil langkah pengetatan moneter dengan menaikkan suku bunga acuan jangka pendek sebesar 25 basis poin menjadi 1,0%.

Keputusan BoJ ini bisa berdampak ke Indonesia mengingat Jepang adalah salah satu investor terbesar di surat utang Indonesia, termasuk Samurai Bond.

Kenaikan suku bunga Bank of Japan (BoJ) menjadi 1,0% berpotensi menekan rupiah dan memicu arus keluar modal dari pasar saham maupun obligasi Indonesia karena aset Jepang menjadi lebih menarik bagi investor.

Kondisi ini dapat mendorong kenaikan yield SBN dan menambah tantangan bagi Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar. Meski demikian, kenaikan suku bunga juga mencerminkan membaiknya ekonomi Jepang yang berpotensi mendukung ekspor dan investasi Jepang di Indonesia dalam jangka panjang. Namun, dampaknya terhadap Indonesia tetap lebih kecil dibandingkan kebijakan suku bunga The Fed AS.

Keputusan BoJ kemarin diambil melalui pemungutan suara dengan hasil 7-1 ini sejalan dengan ekspektasi pasar, sekaligus membawa biaya pinjaman di Jepang ke level tertingginya sejak September 1995.

Otoritas moneter Jepang secara eksplisit menyatakan bahwa intervensi kebijakan ini diperlukan untuk meredam risiko lonjakan inflasi yang lebih luas akibat guncangan harga energi global, yang dipicu oleh berlanjutnya eskalasi konflik yang melibatkan Iran.

Dewan kebijakan Bank of Japan mencatat bahwa inflasi inti memiliki potensi untuk terakselerasi melewati target 2% di tengah tren kenaikan biaya energi dan barang impor.

Meskipun terdapat satu anggota dewan yang menolak kenaikan suku bunga karena khawatir akan risiko perlambatan produksi dan lapangan kerja, bank sentral menegaskan bahwa kondisi finansial secara umum akan tetap dijaga pada tingkat yang akomodatif guna tidak mematikan laju aktivitas ekonomi domestik.

Daya Beli Konsumen Amerika Serikat Tetap Solid

Memasuki hari ini, Rabu (17/6/2026) perhatian pelaku pasar beralih ke rilis data penjualan ritel Amerika Serikat periode April 2026 yang menunjukkan tingkat resiliensi ekonomi di tengah tekanan inflasi.

Penjualan ritel berhasil mencatatkan peningkatan sebesar 0,5% secara bulanan, sebuah angka yang sejalan dengan prediksi konsensus.

Faktor pendorong utama pertumbuhan ini berasal dari stasiun pengisian bahan bakar yang melonjak 2,8% sebagai konsekuensi langsung dari tren kenaikan harga minyak mentah dunia akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Selain energi, pertumbuhan penjualan juga ditopang oleh sektor perangkat elektronik serta perlengkapan olahraga dan hobi. Di sisi lain, sektor penjualan furnitur dan pakaian mengalami penyusutan.

Namun, apabila komponen otomotif, bahan bangunan, dan bahan bakar dikeluarkan untuk keperluan penghitungan produk domestik bruto, penjualan ritel inti tetap menunjukkan kenaikan sebesar 0,5%.

Rapat The Fed

Federal Open Market Committee (FOMC) akan mengumumkan kebijakan suku bunga pada Rabu Waktu AS atau Kamis dini hari Waktu Indonesia (17/6/2026) setelah menggelar rapat pada Selasa dan Rabu.

Keputusan suku bunga diumumkan pada Kamis dan dilanjutkan konferensi pers Ketua The Fed, Kevin Warsh.


Pasar menantikan sejumlah hal penting, mulai dari keputusan suku bunga yang diperkirakan tetap di kisaran 3,50%-3,75%, proyeksi ekonomi terbaru (Summary of Economic Projections), proyeksi jalur suku bunga (dot plot), hingga pandangan The Fed mengenai inflasi, harga minyak, dan dampak konflik Timur Tengah. Bagi Indonesia, perhatian utama tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga, tetapi juga nada pernyataan The Fed.


Sikap yang lebih hawkish berpotensi menekan rupiah, IHSG, dan pasar obligasi domestik, sementara sinyal yang lebih dovish dapat menjadi sentimen positif bagi aset berisiko dan pasar negara berkembang.

Hari Pertama Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Menjadi Fokus

Agenda paling krusial dari dalam negeri pada hari ini adalah dimulainya hari pertama pelaksanaan Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia.

Pertemuan bulanan ini akan menjadi momen bagi otoritas moneter untuk mengevaluasi secara komprehensif perkembangan indikator makroekonomi domestik, kondisi likuiditas perbankan, laju inflasi, serta posisi nilai tukar rupiah di tengah kuatnya dinamika perekonomian global.

Pasar sangat menantikan hasil asesmen bank sentral mengenai dampak rambatan dari harga komoditas global dan suku bunga negara maju terhadap stabilitas keuangan nasional.

Rapat hari ini akan menjadi landasan rumusan keputusan suku bunga acuan yang akan diumumkan kepada publik pada Kamis besok.

Sebelumnya, pada 9 Juni  Bank Indonesia secara mendadak mengambil langkah strategis berupa kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin menjadi 5,5% guna memberikan bantalan terhadap nilai tukar rupiah dari tekanan eksternal.

Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:

  • Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia Hari Pertama
  • Neraca Perdagangan Jepang Mei 2026
  • Inflasi Inggris Mei 2026
  • Inflasi Area Eropa Final Mei 2026
  • Penjualan Ritel Amerika Serikat Mei 2026
  • G7 Summit di Perancis
  • Rapat FOMC
  • Menteri Pertanian mengadakan pertemuan dengan penyalur benih dan Komisi Pemberantasan Korupsi di kantor Kementan, Jakarta Selatan

  • Komisi V Dewan Perwakilan Rakyat menggelar rapat kerja dengan para mitra antara lain Menteri Perhubungan dan Menteri Pekerjaan Umum di ruang rapat Komisi V DPR, Gedung DPR, Senayan, Jakarta Pusat

  • Rapat Koordinasi Piloting Digitalisasi Bantuan Sosial di 42 Kabupaten/Kota bertempat di kantor Dewan Ekonomi Nasional, Jakarta Pusat. Turut hadir Ketua DEN

  • INDEF menggelar "Seri Dialog Mineral Kritis Sesi 1: Mineral Kritis Indonesia di Tengah Krisis Energi Dunia" di Hotel Pullman Thamrin, Jakarta Pusat

  • Indonesia Ethical AI Summit di Auditorium The Tower, Jakarta Selatan. Turut hadir antara lain Ketua Dewan Ekonomi Nasional dan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital

  • ASUS ROG mengundang rekan media menghadiri peluncuran eksklusif "ROG Zephyrus Duo - The Era Of DUO Begins" di Bengkel Space, Fairgrounds SCBD, Jakarta Selatan.

Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Rockfields Properti Indonesia Tbk (ROCK)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk (MKNT)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Anugerah Kagum Karya Utama Tbk (AKKU)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana Akasha Wira International Tbk (ADES)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NANO)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana Colorpak Indonesia Tbk (CLPI)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana Jakarta International Hotels & Development Tbk (JIHD)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Lavender Bina Cendikia Tbk (BMBL)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana Adi Sarana Armada Tbk (ASSA)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Electronic City Indonesia Tbk (ECII)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Homeco Victoria Makmur Tbk (LIVE)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Venteny Fortuna International Tbk (VTNY)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Guna Timur Raya Tbk (TRUK)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Mizuho Leasing Indonesia Tbk (VRNA)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana Berau Coal Energy Tbk (BRAU)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT NFC Indonesia Tbk (NFCX)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana Duta Pertiwi Tbk (DUTI)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Data Sinergitama Jaya Tbk (ELIT)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Agro Bahari Nusantara Tbk (UDNG)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Bank Capital Indonesia Tbk (BACA)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana Bakrieland Development Tbk (ELTY)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Pancaran Samudera Transport Tbk (PSAT)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana Bank Artha Graha Internasional Tbk (INPC)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Global Sukses Digital Tbk (DOSS)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Communication Cable Systems Indonesia Tbk (CCSI)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Manggung Polahraya Tbk (MANG)

  • Pemberitahuan RUPS Rencana PT Provident Investasi Bersama Tbk (PALM)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Medela Potentia Tbk (MDLA)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Chemstar Indonesia Tbk (CHEM)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Semen Baturaja (Persero) Tbk (SMBR)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Ifishdeco Tbk (IFSH)

  • Tanggal Pembayaran Dividen Tunai PT Prima Globalindo Logistik Tbk (PPGL)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai Pudjiadi Prestige Tbk (PUDP)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai Interim PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai Midi Utama Indonesia Tbk (MIDI)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai Selamat Sempurna Tbk (SMSM)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai Unilever Indonesia Tbk (UNVR)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Kencana Energi Lestari Tbk (KEEN)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Mutuagung Lestari Tbk (MUTU)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Atlantis Subsea Indonesia Tbk (ATLA)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai Indo Kordsa Tbk (BRAM)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai Mayora Indah Tbk (MYOR)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Berkah Prima Perkasa Tbk (BLUE)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai Jaya Real Property Tbk (JRPT)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai PT Gihon Telekomunikasi Indonesia Tbk (GHON)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK)

  • Tanggal DPS Dividen Tunai PT Pantai Indah Kapuk Dua Tbk (PANI)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai PT Bali Towerindo Sentra Tbk (BALI)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai PT Idea Indonesia Akademi Tbk (IDEA)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai PT Batavia Prosperindo Internasional Tbk (BPII)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai PT Indonesia Fibreboard Industry Tbk (IFII)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai Kawasan Industri Jababeka Tbk (KIJA)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai Tempo Scan Pacific Tbk (TSPC)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai PT Ateliers Mecaniques D Indonesie Tbk (AMIN)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai PT Surya Biru Murni Acetylene Tbk (SBMA)

  • Tanggal Cum Dividen Tunai PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP)

  • Tanggal Cum Dividen Tunai Sat Nusapersada Tbk (PTSN)

  • Tanggal Ex Dividen Tunai PT Topindo Solusi Komunika Tbk (TOSK)

  • Tanggal Cum Dividen Tunai PT Jayamas Medica Industri Tbk (OMED)

  • Tanggal Cum Dividen Tunai Elnusa Tbk (ELSA)

  • Tanggal Cum Dividen Tunai PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM)

  • Tanggal Cum Dividen Tunai Kabelindo Murni Tbk (KBLM)

Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]


(gls/gls) Add logo_svg as a preferred
source on Google
Next Article Piala Dunia Datang 4 Tahun Sekali, IHSG Bikin Deg-Degan Tiap Hari


Most Popular
Features