MARKET DATA

Ternyata Segini Imbalan ke Investor Asing Buat Masuk RI

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
12 June 2026 13:30
Logo bank sentral Indonesia, Bank Indonesia, seperti yang terlihat di Jakarta, Indonesia 19 Januari 2017. REUTERS / Fatima El-Kareem
Foto: REUTERS / Fatima El-Kareem

Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) terus berupaya menarik kembali minat investor asing agar masuk ke pasar keuangan domestik. Salah satu cara yang ditempuh adalah dengan menjaga daya tarik imbal hasil instrumen keuangan rupiah.

Daya tarik tersebut salah satunya terlihat dari Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), instrumen yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi andalan BI untuk menyerap likuiditas sekaligus menarik aliran modal asing.

Dalam lelang terbaru, imbal hasil atau yield SRBI terpantau naik cukup signifikan, sehingga memberikan imbalan yang lebih menarik bagi investor, termasuk asing.

Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, kenaikan BI-Rate menjadi 5,50%, serta penguatan imbal hasil SRBI dan Surat Berharga Negara (SBN), mulai direspons positif oleh investor asing.

"Hal ini tercermin dari meningkatnya aliran masuk modal asing ke instrumen SRBI pasca lelang SRBI pada 10 Juni 2026. Aliran masuk modal asing juga mulai kembali terjadi di pasar SBN, terutama pada tenor pendek dan menengah," ujar Ramdan, dikutip Jumat (12/6/2026).

Jika dilihat dari hasil lelang SRBI terakhir pada 10 Juni 2026, rata-rata yield yang dimenangkan untuk tenor 6 bulan tercatat sebesar 7,20%. Kemudian, tenor 9 bulan berada di 7,35%, sementara tenor 12 bulan mencapai 7,57%.

Angka tersebut meningkat cukup tajam dibandingkan hasil lelang sebelumnya pada 5 Juni 2026. Saat itu, rata-rata yield yang dimenangkan untuk tenor 6 bulan masih berada di 6,90%, tenor 9 bulan sebesar 7,04%, dan tenor 12 bulan sebesar 7,25%.

Artinya, hanya dalam jeda lima hari, imbal hasil SRBI naik sekitar 30-32 basis poin (bps) untuk seluruh tenor.

Dengan yield yang lebih tinggi, SRBI menjadi semakin menarik bagi investor asing. Sebab, investor bisa mendapatkan imbal hasil lebih besar ketika menempatkan dananya di instrumen rupiah.

Tidak hanya SRBI, kenaikan imbal hasil juga terlihat pada pasar SBN. Pada 10 Juni 2026, yield SBN tenor 10 tahun berada di level 7,479%, sementara tenor 30 tahun berada di 7,451%.

Level tersebut meningkat signifikan dibandingkan akhir Mei 2026. Saat itu, yield SBN tenor 10 tahun masih berada di 6,695%, sementara tenor 30 tahun sebesar 6,956%.

Dengan demikian, yield SBN tenor 10 tahun naik sekitar 78,4 bps, sedangkan tenor 30 tahun naik sekitar 49,5 bps. Kenaikan ini membuat instrumen surat utang pemerintah menjadi lebih menarik bagi investor yang mencari imbal hasil tinggi.

Sebagai catatan, kenaikan yield tidak hanya membawa kabar positif. Di satu sisi, yield yang lebih tinggi bisa membantu menarik aliran modal asing dan mendukung stabilitas rupiah. Namun di sisi lain, kenaikan yield SBN juga dapat meningkatkan beban pembiayaan utang pemerintah ke depan.

Kedepan, BI menegaskan akan terus mencermati perkembangan pasar keuangan global dan domestik. BI juga akan menjaga daya tarik instrumen keuangan domestik guna mendukung aliran masuk modal asing.

Selain itu, BI juga akan mengoptimalkan langkah stabilisasi nilai tukar rupiah melalui intervensi Non-Deliverable Forward (NDF) di pasar offshore, serta transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik secara konsisten dan terukur.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add logo_svg as a preferred
source on Google



Most Popular