Mayday! Mayday! Harga Emas Ambruk 4%, Jatuh ke Level US$ 4.000
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas anjlok lebih dari 4% seiring meningkatnya kekhawatiran bahwa perang yang didukung Amerika Serikat (AS) terhadap Iran akan meluas.
Kondisi ini memicu kekhawatiran kenaikan suku bunga untuk meredam inflasi yang meningkat, sementara investor menanti data ekonomi AS sebagai petunjuk arah kebijakan moneter.
Merujuk Refinitiv, harga emas pada perdagangan Rabu (10/6/2026) ditutup di posisi US$ 4073,46 per troy ons. Harganya jatuh 4,43%. Harga ini adalah yang terendah sejak November 2025 atau tujuh bulan terakhir.
Harga emas sudah ambruk dalam empat hari beruntun dengan melemah 8,95%.
Harga emas masih ambruk pada hari ini. Pad Kamis (11/6/2026) pukul 06.29 WIB, harganya ada di US$ 459,64 per troy ons atau jauh 0,33%
"Pasar sangat membutuhkan kabar baik setelah data ketenagakerjaan AS yang kuat pada Jumat lalu dan ancaman Presiden Donald Trump pagi ini bahwa Iran akan 'membayar harga' karena tidak mau mencapai kesepakatan," kata Tai Wong, trader logam independent, kepada Reuters.
Trump mengatakan pada Rabu bahwa Iran terlalu lama bernegosiasi dan kini harus membayar harganya. Ia kemudian menegaskan AS akan menyerang Iran dengan sangat keras jika kesepakatan damai tidak tercapai.
Iran kemudian melancarkan serangan rudal dan drone ke pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain sebagai balasan atas serangan Amerika terhadap target-target Iran di sekitar Selat Hormuz.
Pasukan Amerika Serikat mulai melancarkan serangan tambahan terhadap sejumlah target di Iran pada pukul 17.15 waktu EDT (21.15 GMT), menurut pernyataan United States Central Command yang diunggah di platform X pada Rabu.
"Serangan ini merupakan respons terhadap agresi Iran yang tidak beralasan dan terus berlanjut," kata pihak militer AS.
Menurut sejumlah laporan media AS, serangan tersebut menargetkan fasilitas-fasilitas penting Iran, termasuk gudang amunisi, pusat komando dan kendali, serta fasilitas logistik militer.
Langkah ini menjadi eskalasi terbaru dalam ketegangan antara Washington dan Teheran setelah insiden jatuhnya helikopter Apache milik Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz.
Harga emas telah berada di bawah tekanan sejak perang pecah pada akhir Februari, karena lonjakan harga minyak memicu kekhawatiran inflasi dan kenaikan suku bunga.
Meski emas dikenal sebagai lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menekan daya tarik logam mulia tersebut karena tidak memberikan imbal hasil.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan peluang sekitar 67% bahwa bank sentral AS, Federal Reserve, akan menaikkan suku bunga pada Desember mendatang, berdasarkan alat FedWatch milik CME Group.
Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan inflasi inti yang mengecualikan sektor energi dan pangan tampil lebih moderat dengan kenaikan 0,2% secara bulanan dan 2,9% secara tahunan.
Merespons data inflasi kemarin, pelaku pasar memproyeksikan The Fed akan menahan suku bunga acuan pada pertemuan 17 Juni mendatang, dengan potensi kenaikan baru diprediksi mundur hingga bulan Desember.
Â
Investor kini menantikan rilis Indeks Harga Produsen (PPI) AS pada Kamis untuk mendapatkan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan moneter The Fed.
"Meski harga emas sedang berkonsolidasi, inflasi, pembelian oleh bank sentral, dan kekhawatiran pelemahan nilai mata uang masih menjadi faktor pendukung bagi emas," kata Paul Wong, analis strategi pasar di Sprott Asset Management.
Harga perak tak kalah babak belur. Merujuk Refinitiv, harga perak pada perdagangan Rabu (10/6/2026) ditutup di posisi US$ 63,69 per troy ons. Harganya ambles 2,55%. Harga ini adalah yang terendah sejak Desember 2025.
Harga emas masih ambruk pada hari ini. Pada Kamis (11/6/2026) pukul 06.22 WIB, harga perak jatuh 2,34% ke US$ 62,2 per troy ons.
(mae/mae) Add
source on Google Next Article Harga Emas Jatuh ke Terendah 2 Bulan, Musuh Abadi Bergentayangan Lagi