Piala Dunia Makin Mahal: Berapa Modal Nonton Brasil - Inggris?
Jakarta, CNBC Indonesia - Sepak bola selama ini dikenal sebagai olahraga rakyat. Namun, Piala Dunia 2026 yang akan digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko justru menunjukkan arah berbeda.
Harga tiket termurah pertandingan grup kini rata-rata mencapai US$200, sementara tiket final dibanderol mulai dari US$2.030 atau sekitar Rp33 juta (kurs Rp16.300/US$). Kenaikan harga ini menjadikan World Cup 2026 sebagai salah satu ajang olahraga dan hiburan paling mahal di dunia.
Di sisi lain, langkah FIFA memonetisasi tiket secara agresif dinilai berisiko mengubah atmosfer khas sepak bola yang selama ini hidup dari fanatisme suporter biasa.
FIFA Kini Agresif Cari Cuan dari Tiket
Selama bertahun-tahun, FIFA sebenarnya lebih mengandalkan pemasukan dari hak siar televisi dan sponsor dibanding penjualan tiket.
Namun pada World Cup 2026, FIFA untuk pertama kalinya melakukan sistem ticketing dan menerapkan dynamic pricing, yakni harga tiket yang naik mengikuti tingginya permintaan pasar.
FIFA juga membuka marketplace resmi resale tiket dan mengambil komisi 15% dari pembeli maupun penjual.
Akibatnya, harga tiket melonjak drastis dibanding edisi-edisi sebelumnya. Jika pada Piala Dunia 1994 tiket final termurah masih berada jauh di bawah US$500, maka untuk 2026 harganya hampir menyentuh US$2.000.
Fans Tim Besar Harus Rogoh Kocek Ribuan Dolar
Lonjakan harga tiket paling terasa di pasar resale atau penjualan kembali. Fans Brasil diperkirakan harus mengeluarkan sekitar US$3.800 untuk menonton tiga pertandingan fase grup timnya di World Cup 2026. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dibanding negara lain.
Portugal dan Skotlandia juga masuk daftar negara dengan biaya menonton paling mahal. Bahkan, suporter Cape Verde yang baru debut di Piala Dunia diperkirakan tetap harus membayar hampir US$1.000 untuk menyaksikan tiga laga grup.
FIFA Dinilai Pertaruhkan 'Jiwa' Sepak Bola
Meski strategi tiket mahal berpotensi meningkatkan pendapatan FIFA, banyak pihak menilai langkah ini juga berisiko merusak esensi sepak bola itu sendiri.
Atmosfer stadion penuh dengan suporter fanatik selama ini menjadi elemen penting yang membuat pertandingan terasa hidup di layar televisi.
Sebaliknya, jika stadion lebih banyak diisi penonton kelas atas atau tamu korporasi, atmosfer pertandingan dikhawatirkan menjadi lebih dingin dan kehilangan gairah khas sepak bola. Quarterback Cincinnati Bengals, Joe Burrow, pernah menggambarkan atmosfer Super Bowl 2022 seperti "jamuan makan malam korporat".
Fenomena ini juga terlihat dari perbandingan harga berbagai event olahraga dan hiburan dunia. Tiket final World Cup 2026 menjadi yang paling mahal dibanding Super Bowl, Wimbledon, hingga konser Taylor Swift.
source on Google