Foto: Infografis/ Anggaran Militer Terbesar/ Edward Ricardo
Jakarta, CNBC Indonesia - Peta kekuatan militer dunia tidak lagi ditentukan semata oleh jumlah senjata dan personel.
Dalam konflik modern, daya tempur sangat bergantung pada rantai pasok material: tembaga, nikel, hingga tanah jarang (rare earths) yang menjadi fondasi elektronik militer, amunisi, radar, drone, dan sistem komunikasi. Di era ini, perang bukan hanya soal wilayah, tetapi juga soal siapa yang menguasai bahan baku teknologi pertahanan.
JP Morgan dalam laporannya Pandora's Bog: the global energy shock of 2026menyoroti bagaimana intensitas perang dapat mendorong kebutuhan logam mineral pertambangan, bahkan dalam waktu singkat. Contoh terbaru adalah penggunaan logam mineral jarang dalam operasi militer AS dalam 96 jam pertama perang Iran yang meletus pada 28 Februari 2026.
Foto: JP Morgan
Dalam berapa tahun terakhir, belanja pertahanan negara-negara besar terus naik. Amerika Serikat, misalnya, mengalokasikan anggaran pertahanan hingga US$ 831,5 miliar (sekitar Rp14.551 triliun dengan asumsi kurs US$1=Rp17.500).
Sementara anggota NATO didorong mengalokasikan belanja pertahanan hingga 5% PDB. Tren ini menegaskan bahwa kebutuhan material strategis untuk pertahanan akan tetap tinggi seiring meningkatnya ketidakpastian global.
Mengacu pada Global Firepower (GFP), Posisi Indonesia di Peta Kekuatan Militer Dunia tidak dapat dinafikan. Indonesia berada di peringkat ke-13 dari 145 negara.
GFP menggunakan indeks (PwrIndx) yang menyatukan banyak komponen: personel, peralatan, sumber daya, finansial, hingga kondisi geografis untuk menghitung potensi kemampuan perang konvensional (darat-laut-udara). Dengan penilaian seperti ini, kekuatan militer tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan kemampuan logistik dan dukungan industri dalam negeri yang menjadi penyokongnya.
Dalam GFP 2026, Indonesia bahkan disebut unggul pada sektor maritim. Indonesia menempati posisi nomor 1 untuk kategori armada laut niaga (merchant fleet), serta masuk jajaran atas untuk sejumlah kategori kapal lain seperti korvet dan kapal patroli lepas pantai.
Di atas kertas, ini menunjukkan Indonesia memiliki basis logistik maritim yang kuat untuk negara kepulauan-dan ini relevan karena logistik adalah "otot" yang menjaga operasi militer tetap berjalan, terutama saat konflik memaksa mobilisasi besar.
Namun, keunggulan armada laut niaga tidak otomatis menjadikan pertahanan kokoh jika tidak ditopang oleh industrial base. Armada niaga dapat menjadi keunggulan saat konflik karena bisa dimobilisasi untuk mengangkut pasukan, amunisi, kendaraan, dan logistik.
Tapi kekuatan logistik akan rapuh jika pasokan komponen strategis (misalnya amunisi) masih bergantung pada impor atau pasokan global yang rawan terganggu. Di sinilah "tambang" mulai terhubung langsung dengan isu pertahanan.
Di tengah modal sumber daya yang besar, Indonesia masih menghadapi pekerjaan rumah besar yakni ketergantungan pada impor untuk sejumlah kebutuhan alutsista, terutama pada komponen dan senjata tertentu.
Upaya kemandirian industri pertahanan Indonesia terus menunjukkan kemajuan. Beberapa alutsista kini sudah dikuasai penuh oleh industri dalam negeri, termasuk senapan, amunisi, kapal patroli, hingga kendaraan taktis seperti Maung dan Anoa.
PT Pindad menjadi ujung tombak produksi senjata ringan, mulai dari pistol hingga senapan serbu seri SS1, SS2, dan SS3, yang digunakan oleh TNI dan Polri. Kapasitas produksi munisi kecil (5,56 mm, 7,62 mm, 9 mm) juga meningkat signifikan, dari 400 juta butir per tahun pada 2020 menuju target 600 juta butir per tahun.
Modernisasi pabrik dan investasi mesin baru mendukung efisiensi produksi serta pengurangan biaya. Fokus juga diarahkan pada produksi suku cadang lokal untuk perawatan pesawat, kapal, dan tank.
Meski demikian, beberapa komponen canggih, seperti mesin jet dan sensor elektronik, masih memerlukan impor.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai impor senjata (termasuk peluru) pada 2025 justru tetap tinggi dan naik tajam hingga US$ 467,97 juta (sekitar Rp8,19 triliun dengan asumsi kurs US$1=Rp17.500), melonjak 160% dalam tiga tahun terakhir. Ketergantungan seperti ini membuat Indonesia lebih rentan terhadap guncangan rantai pasokan global.
Dengan kata lain, Indonesia memiliki "modal hulu", tetapi belum sepenuhnya memiliki "ketahanan hilir" untuk memastikan ketersediaan material strategis saat terjadi disrupsi-baik karena geopolitik, logistik, maupun kebijakan negara pemasok.
Di aspek ini, tambang muncul sebagai fondasi pertahanan modern Indonesia. Di ranah pertahanan modern, tembaga menjadi salah satu logam paling strategis.
Tembaga telah lama dikenal memiliki sifat unggul untuk kebutuhan militer. Ketahanannya terhadap korosi, konduktivitas listrik dan panas yang tinggi, serta mudah dibentuk menjadikannya material vital di sektor pertahanan.
Tembaga digunakan pada selongsong amunisi (kuningan/copper brass), sistem kelistrikan dan kabel pesawat tempur, radar, sonar, hingga perangkat elektronik canggih.
Sejumlah fakta global untuk menegaskan betapa material ini melekat pada alutsista modern-mulai dari kebutuhan tembaga pada amunisi hingga perangkat tempur generasi baru. Dan yang paling utama, tembaga menjadi penyusun utama bagi fast moving military goods, yang artinya kebutuhannya akan sangat besar dan dibutuhkan secara terus menerus.
Tingginya kebutuhan tembaga dalam industri militer tercermin dari lonjakan harga saat perang.
Sebagai catatan, Departemen Pertahanan AS telah meningkatkan produksi tahunan peluru 155 milimeter yang mengandung tembaga dari 93 ribu unit menjadi 1,2 juta unit pada 2025.
Secara global, Simon Hunt Strategic Services yang berbasis di Dubai memperkirakan penggunaan tembaga untuk aplikasi militer pada 2021 mencapai 2,186 juta ton metrik atau hampir 9% dari produksi tembaga olahan dunia dan tumbuh sekitar 14% per tahun hingga 2026.
Setiap jet tempur F-35 saja diperkirakan mengandung sekitar 1.200 pon tembaga pada sistem kabel, elektronik, dan persenjataannya.
Menurut European Defence Agency (EDA), setiap amunisi kaliber 155 mm mengandung sekitar setengah kilogram tembaga, dan tentara Ukraina saja menembakkan hingga 7.000 butir per hari.
Dalam laporan S&P Copper in the Age of AI: Challenges of Electrification memperkirakan permintaan tembaga dari sektor pertahanan diproyeksikan mencapai hampir 1 juta ton metrik pada 2040, atau sekitar tiga kali lipat dari level saat ini.
Foto: S&P
Dalam soal pasokan sumber daya alam untuk menopang kekuatan militer, Indonesia diuntungkan karena memiliki cadangan yang mencukupi untuk sejumlah bahan tambang dan logam.
Indonesia bahkan memiliki cadangan besar untuk tembaga yang berperan strategis dalam industri militer modern.
Cadangan tembaga Indonesia ada di 10 besar dunia sementara produksinya sudah masuk enam besar.
Salah satu produsen besar adalah PT Freeport Indonesia (PTFI), Anggota Grup MIND ID, yang mengoperasikan smelter di Gresik dengan kapasitas 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun dengan perkiraan produksi bijih tembaga mencapai 156.000 ton per hari pada 2026.
Foto: Visual capitalist
Hilirisasi tembaga ini menunjukkan Indonesia tidak hanya mengandalkancadangan, tetapi mulai meningkatkan kemampuan pengolahan mineral domestik untuk mendukung industri strategis yang relevan dengan kebutuhan Nasional, termasuk sektor pertahanan.
Kekuatan militer yang stabil, artinya mendorong Indonesia untuk mampu menyediakan rantai pasok yang stabil.
Oleh karena itu, hilirisasi tembaga memang tidak boleh berhenti pada katoda, tetapi perlu masuk ke produk turunan yang langsung terkait dengan kebutuhan strategis, yang salah satunya brass cup sebagai bahan baku komponen amunisi.
Pengunjung memegang pistol buatan Pindad di pameran industri pertahanan internasional Indo Defence Expo & Forum 2025 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (11/6/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Pengunjung memegang pistol buatan Pindad di pameran industri pertahanan internasional Indo Defence Expo & Forum 2025 di JIEXPO Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (11/6/2025). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Melalui Kerjasama MIND ID dan Defend ID, yang melibatkan Freeport Indonesia dan PT Pindad, Indonesia akan memiliki fasilitas produksi brass cup.
Katoda tembaga dari smelter akan diolah menjadi produk turunan brass cup berkapasitas 10.000 ton per tahun dan diarahkan untuk menekan impor komponen amunisi serta memperkuat kemandirian pertahanan.
European Defence Agency (EDA) menyebut setiap amunisi artileri kaliber 155 mm diperkirakan mengandung sekitar 0,5 kg tembaga. Tembaga tersebut umumnya digunakan pada rotating band (driving band) yang membantu proyektil berputar stabil saat ditembakkan, serta pada beberapa komponen logam lainnya.
Jika diasumsikan setiap amunisi artileri 155 mm membutuhkan sekitar 0,5 kg tembaga/brass per unit, maka 10.000 ton brass/copper dapat digunakan untuk memproduksi sekitar 20 juta peluru artileri kaliber 155 mm.
Sebagai catatan, artileri kaliber 155 mm adalah ukuran senjata yang sangat besar dan biasanya adalah meriam. Senjata yang paling banyak diimpor Indonesia adalah kaliber 5,56 dan 7,62. Contohnya untuk kaliber 5,56 mm adalah Pindad SS1 dan SS2 sementara untuk kaliber 7,62 mm adalah laras panjang yang umum digunakan untuk AK 47.
Momen HUT ke-79 Republik Indonesia, PT Pindad memperkenalkan produk inovasi terbaru dalam mengembangkan senjata anti-drone buatan dalam negeri yang diberi nama SPS-1 (Senjata Pelumpuh Senyap seri 1) dan kendaraan Maung MV3 Mobile Jammer pada 17 Agustus 2024 di Ibu Kota Nusantara (IKN). (Dok: PT Pindad) Foto: Momen HUT ke-79 Republik Indonesia, PT Pindad memperkenalkan produk inovasi terbaru dalam mengembangkan senjata anti-drone buatan dalam negeri yang diberi nama SPS-1 (Senjata Pelumpuh Senyap seri 1) dan kendaraan Maung MV3 Mobile Jammer pada 17 Agustus 2024 di Ibu Kota Nusantara (IKN). (Dok: PT Pindad)
Untuk kaliber 5,56×45 mm standar NATO, kebutuhan brass rata-rata sekitar 9 gram per butir. Dengan demikian, 10.000 ton brass diperkirakan dapat menghasilkan sekitar 1,1 miliar butir amunisi. Setelah memperhitungkan scrap produksi, reject quality control, dan kehilangan proses manufaktur, jumlah realistisnya berada di kisaran 1-1,05 miliar butir.
Sementara itu, untuk kaliber 7,62×51 mm NATO, kebutuhan brass rata-rata sekitar 19 gram per butir. Dari 10.000 ton brass, produksi yang dihasilkan diperkirakan mencapai sekitar 526 juta butir. Setelah dikurangi kebutuhan scrap dan kehilangan produksi, output realistis industri berada di kisaran 480-500 juta butir amunisi.
Sebagai catatan, kebutuhan amunisi nasional per tahun mencapai 5 miliar butir.
Potensi Penguatan Posisi Indonesia
Dengan ekosistem produksi brass cup yang mandiri, Indonesia akan memiliki rantai pasok tembaga hingga komponen amunisi di dalam negeri.
Ini akan berdampak pada peningkatan persediaan alutsista ketahanan pasokan, yang juga akan mmemperkuat daya gentar melalui kesiapan logistik dan produksi, dan pada akhirnya memperkuat posisi Indonesia dalam negosiasi rantai pasok global untuk material strategis.
Melalui sektor pertambangan, Indonesia kini tidak lagi berdiri sebagai produsen komoditas konvensional. Tambang Indonesia semakin masuk ke ranah strategi negara yakni isu pertahanan.
Negara berkembang seperti Indonesia yang sudah memiliki cadangan mineral kritis diharapkan mampu menghilirkannya menjadi komponen strategis. Faktor ini akan membuat Indonesia memiliki daya tahan lebih tinggi serta peran krusial saat geopolitik memanas.
Penguatan pertahanan nasional tidak cukup hanya mengandalkan belanja alat utama sistem senjata (alutsista), tetapi juga membutuhkan basis industri domestik yang mampu menjamin ketersediaan komponen strategis.
Rangkaian upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 TNI yang berlangsung di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (5/10/2025) selesai. Sejumlah pesawat tempur dari TNI AU langsung beratraksi dan bermanuver di langit Monas. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman) Foto: Rangkaian upacara Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 TNI yang berlangsung di kawasan Monas, Jakarta Pusat, Minggu (5/10/2025) selesai. Sejumlah pesawat tempur dari TNI AU langsung beratraksi dan bermanuver di langit Monas. (CNBC Indonesia/Faisal Rahman)
Di sinilah Indonesia memiliki peluang besar untuk melangkah lebih jauh. Hilirisasi mineral tidak lagi sekadar menciptakan nilai tambah ekonomi, tetapi juga dapat menjadi fondasi bagi kemandirian industri pertahanan nasional.
Pengembangan brass cup di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Gresik menjadi contoh nyata bagaimana sumber daya mineral dapat diolah menjadi komponen penting amunisi. Inisiatif ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara sektor pertambangan, industri manufaktur, dan pertahanan dapat menjadi salah satu pilar utama dalam memperkuat ketahanan nasional.