Ratusan Kerajaan Bisnis Keluarga Dunia Kebingungan Cari Pewaris
Jakarta, CNBCÂ Indonesia -Â Bisnis keluarga dunia kini menghadapi momen penentu, ketika banyak pendirinya mulai memasuki usia pensiun dan bersiap menyerahkan kendali ke generasi berikutnya.
Di Barat, gelombang pensiun generasi baby boomers sedang berlangsung, sementara di China dan Asia, para pendiri perusahaan swasta era 1980-an juga mulai mencari penerus. Jika transisi ini gagal dikelola, dampaknya bisa besar bagi ekonomi global karena banyak perusahaan besar masih dikendalikan keluarga
Dalam beberapa tahun terakhir, perhatian terhadap bisnis keluarga meningkat, bukan hanya di dunia hiburan tetapi juga dalam ekonomi global.
Di tengah gelombang pergantian generasi yang masif, perusahaan-perusahaan keluarga kini menghadapi ujian besar. Di antara bertahan, bertransformasi, atau justru menghilang.
Mengingat kontribusinya yang sangat besar terhadap ekonomi dunia, masa depan bisnis keluarga bukan lagi isu privat, melainkan isu sistemik yang bisa memengaruhi stabilitas ekonomi global.
Bisnis Keluarga: Tulang Punggung Kapitalisme Global
Secara global, sekitar dua pertiga bisnis di dunia merupakan perusahaan keluarga, dengan kontribusi yang sebanding terhadap PDB. Bahkan di level perusahaan besar yang sudah tercatat di bursa saham, hampir seperempat masih dikendalikan oleh keluarga.
Karakter utama bisnis keluarga terletak pada kepemilikan dan kontrol yang diwariskan lintas generasi. Termasuk soal saham, jaringan, reputasi, dan relasi bisnis yang dibangun selama puluhan tahun. Inilah yang membuat perusahaan keluarga unggul di sektor-sektor yang membutuhkan kepercayaan tinggi, seperti ritel dan barang konsumsi.
Di negara berkembang, peran mereka bahkan lebih dominan. Banyak perusahaan keluarga tumbuh menjadi konglomerat besar karena keunggulan akses terhadap modal, baik finansial, sosial, maupun manusia.
Contohnya di Indonesia, grup bisnis seperti yang dibangun keluarga Hartono mencakup berbagai sektor, mulai dari industri rokok hingga perbankan. Fenomena serupa juga terlihat di Filipina dan India, di mana konglomerat keluarga menguasai berbagai lini industri sekaligus.
Tantangan Besar: Suksesi, Konflik, dan Generasi yang Enggan
Di balik dominasinya, bisnis keluarga menghadapi tantangan struktural yang semakin kompleks. Tantangan terbesar adalah pewaris, pemimpin setelah generasi pendiri tidak lagi aktif.
Banyak kasus menunjukkan bahwa pemilihan pewaris yang tidak kompeten dapat menghancurkan bisnis yang sebelumnya sehat. Kisah Maurizio Gucci menjadi contoh ekstrem, di mana salah kelola hampir membawa perusahaan ke kebangkrutan sebelum akhirnya dijual ke investor luar.
Namun, tantangan saat ini bukan hanya soal kompetensi, tetapi juga soal minat. Semakin banyak generasi penerus yang tidak tertarik melanjutkan bisnis keluarga.
Contohnya, pewaris tunggal Dalian Wanda Group secara terbuka menyatakan tidak ingin mengambil alih bisnis keluarga. Di sisi lain, ada juga kasus di mana tidak ada pewaris sama sekali, seperti yang terjadi pada Giorgio Armani.
Selain itu, kurangnya perencanaan suksesi memperparah situasi. Data menunjukkan hanya sekitar 57% perusahaan keluarga yang memiliki rencana suksesi yang jelas.
Tanpa perencanaan, konflik internal hampir tidak terhindarkan. Sengketa warisan di konglomerat besar seperti LG di Korea Selatan menunjukkan bahwa bahkan perusahaan besar pun tidak kebal terhadap konflik keluarga.
Di luar itu, tekanan eksternal seperti pajak warisan dan perubahan nilai generasi muda juga mendorong banyak pewaris untuk memilih menjual bisnis daripada melanjutkannya.
Adaptasi dan Solusi: Dari Profesionalisasi hingga Melepas Kendali
Menghadapi berbagai tantangan tersebut, bisnis keluarga mulai beradaptasi. Salah satu perubahan utama adalah meningkatnya kesadaran akan pentingnya perencanaan suksesi yang formal.
Banyak keluarga kini melibatkan konsultan, pengacara, dan lembaga pendidikan untuk merancang transisi yang lebih terstruktur.
Ke depan, bisnis keluarga diperkirakan akan mengalami pergeseran struktural yang signifikan, baik dari sisi kepemilikan, manajemen, maupun pola pikir generasi penerus.
Akibatnya, struktur bisnis keluarga pun bertransformasi dari model dinasti tradisional menuju korporasi modern yang lebih terbuka dan institusional.
Â
(mae/mae) Addsource on Google