MARKET DATA

JP Morgan Bongkar Fakta: RI Negara Paling Tahan Banting Krisis Energi

mae,  CNBC Indonesia
18 April 2026 10:30
INFOGRAFIS, Komitmen Pertamina Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Foto: Infografis/ / Edward Ricardo

Jakarta, CNBC Indonesia - Guncangan minyak dan gas global akibat konflik Timur Tengah memaksa banyak negara menghitung ulang ketahanan energinya. Sejumlah negara disebut paling rentan jika krisis pasokan berkepanjangan, namun Indonesia justru dinilai memiliki bantalan yang cukup kuat.

Konflik di Timur Tengah yang berujung pada penutupan Selat Hormuz telah menunjukkan bahwa ketergantungan pada impor energi berisiko tinggi. Selat Hormuz memang sudah resmi dibuka kembali pada Jumat malam (17/4/2026) tetapi risiko ke depan tetap ada.

Negara yang punya sumber energi domestik, diversifikasi bauran listrik, dan transisi hijau akan jauh lebih tahan menghadapi gejolak berikutnya.

JP Morgan, perusahaan layanan keuangan raksasa asal Amerika Serikat (AS),  dalam reportnya Pandora's Bog: the global energy shock of 2026 memetakan 52 negara konsumen energi final terbesar dunia yang mewakili 82% konsumsi energi global.

Dalam kajian ini, negara produsen besar seperti Iran, Qatar, Russia, dan United Arab Emirates dikeluarkan dari daftar karena mendapat subsidi besar dari produksi domestik.

Fokus utama kajian ini adalah seberapa sensitif suatu negara terhadap lonjakan minyak dan gas, serta seberapa kuat penyangganya melalui gas domestik, batu bara domestik, energi terbarukan, dan nuklir.

Kajian ini menggunakan sejumkah parameter seperti energi final berguna (EJ), seberapa besar impor minyak & gas dari Selat Hormuz, skala pangsa impor minyak terhadap energi primer, konsumsi minyak & pangsa gas impor terhadap energi primer, pangsa batu bara, nuklir dan energi terbarukan domestik terhadap energi final berguna, total faktor perlindungan serta konsentrasi minyak untuk transportasi jalan sebagai pangsa energi primer.

Peta Kerentanan Energi GlobalFoto: JP Morgan
Peta Kerentanan Energi Global

 

Siapa Paling Rawan?

Negara-negara yang dinilai paling terekspos terhadap guncangan energi global antara lain Italia, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Singapura, Spanyol, hingga Belanda.

Banyak negara tersebut sangat bergantung pada impor minyak dan gas, terutama dari kawasan Teluk.

Menariknya, China justru tergolong cukup terlindungi. Ketergantungan besar pada batu bara domestik dan produksi gas dalam negeri membuat Negeri Tirai Bambu jauh lebih kuat dari perkiraan banyak pihak.

Ini menunjukkan bahwa diversifikasi energi menjadi senjata utama menghadapi gejolak global. Negara lain yang mendapat manfaat serupa adalah India, Afrika selatan, Vietnam, dan Filipina.

Sejumlah negara juga memiliki perlindungan lain dari sumber energi nuklir. Di antaranya Prancis, Swedia, Swiss hingga Rep. Ceko.

Sementara negara dengan bauran energi terbarukan tinggi juga diuntungkan seperti Brasil, Austria dan Portugal.

Di mana Posisi Indonesia?

Indonesia dinilai menjadi salah satu negara yang relatif lebih tahan menghadapi guncangan energi global, terutama ketika harga minyak dan gas melonjak akibat perang, konflik geopolitik, atau gangguan pasokan dunia. Dalam perhitungan total faktor perlindungan yakni porsi energi final berguna yang lebih sedikit terekspos terhadap guncangan global harga minyak dan gas, Indonesia ada di peringkat dua dan hanya kalah dari Afrika Selatan.

Total faktor perlindungan: porsi energi final berguna yang lebih sedikit terekspos terhadap guncangan global harga minyak dan gas.Foto: JP Morgan
Total faktor perlindungan: porsi energi final berguna yang lebih sedikit terekspos terhadap guncangan global harga minyak dan gas.

 

Jika hanya menghitung  kombinasi ketergantungan impor minyak/gas rendah dan ketahanan tinggi, Indonesia ada di peringkat 3. 

Indonesia diuntungkan karena memiliki produksi batu bara domestik besar. Dalam situasi harga minyak dan gas melonjak, negara dengan pasokan batu bara internal lebih tahan terhadap guncangan biaya energi.

Sebagai catatan, Indonesia adalah eksportir terbesar untuk batu bata thermal di dunia dan produsen no.13 terbesar untuk gas alam. Indonesia merupakan salah satu produsen gas alam penting di dunia dengan menempati peringkat ke-13 global pada 2024, dengan produksi sekitar 2.465 miliar meter kubik. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai pemain menengah, namun tetap strategis di kawasan Asia Tenggara.

Dalam pemetaan sensitivitas energi global, Indonesia mencatat Insulation Factor 77%, termasuk salah satu yang tertinggi di dunia. Artinya, sebagian besar kebutuhan energi nasional masih bisa ditopang dari sumber dalam negeri, sehingga dampak lonjakan harga global tidak langsung menghantam ekonomi domestik sekeras negara lain.

Bandingkan dengan negara seperti Jepang, Korea Selatan, hingga Singapura yang sangat bergantung pada impor energi. Saat harga minyak dan LNG melonjak, biaya listrik, industri, dan transportasi mereka bisa terdampak lebih cepat.

Batu bara masih menjadi tulang punggung pembangkit listrik nasional.

Artinya, ketika harga minyak dan gas naik tajam, tarif listrik di Indonesia tidak otomatis ikut melonjak setinggi negara yang bergantung pada LNG impor.

Meski masih impor LPG dan BBM, Indonesia tetap memiliki cadangan serta produksi gas alam. Pasokan gas domestik ini menjadi penyangga penting untuk industri dan pembangkit listrik.

Indonesia memang masih impor minyak, namun tingkat ketergantungannya dinilai tidak seekstrem negara-negara seperti Singapura, Jepang , Korea Selatan, dan Taiwan.

Negara-negara tersebut hampir sepenuhnya mengandalkan impor energi primer.

Bauran energi Indonesia relatif lebih beragam yang membuat shock pada satu komoditas tidak langsung mengguncang seluruh sistem energi nasional. Selain batu bara, Indonesia menggantungkan energi primer kepada pembangkit air, panas bumi, hingga biodiesel.

Dengan ekonomi bertumpu 56% terhadap konsumsi domestik, Indonesia memiiki bantalan pertumbuhan yang cukup.

Kondisi ini berbeda dengan negara yang sangat mengandalkan ekspor manufaktur seperti Korea Selatan dan Taiwan.

Pemerintah juga dibekali instrumen intervensi untuk meredam dampak lonjakan energi global, dalam bentuk subsidi BBm dan listrik hingga kebijakan DMO (Domestic Market Obligation) batu bara. Dengan mekanisme ini, gejolak harga global tidak langsung diteruskan ke masyarakat.

Meski relatif tahan, Indonesia tetap memiliki sejumlah titik lemah. Produksi minyak domestik terus menurun, sementara konsumsi meningkat. Jika tidak dikendalikan maka subsidi bisa membengkak.

Karena impor BBM dibayar dalam dolar AS, lonjakan harga minyak berpotensi menekan nilai tukar rupiah.

CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular