MARKET DATA

Militer AS Saling "Serang", Perang Internal Guncang Pentagon

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
17 April 2026 17:50
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara selama pengarahan tentang perang Iran, di Pentagon di Washington, D.C., AS, 16 April 2026. (REUTERS/Nathan Howard)
Foto: Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth berbicara selama pengarahan tentang perang Iran, di Pentagon di Washington, D.C., AS, 16 April 2026. (REUTERS/Nathan Howard)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kekuatan militer Amerika Serikat (AS) terlihat sangat dominan dalam perang melawan Iran. Selama 38 hari serangan udara, pesawat tempur AS tercatat menjalankan lebih dari 13.000 sorti tempur yang menghancurkan kekuatan militer Iran mulai dari fasilitas industri hingga situs nuklirnya.

Namun di balik keberhasilan operasi tersebut, Pentagon justru sedang diguncang oleh konflik di dalam internalnya.

Hal ini terjadi di tengah perang terbesar AS dalam beberapa dekade terakhir, Menteri Perang AS Pete Hegseth malah melakukan serangkaian pemecatan terhadap petinggi militer yang memicu kekhawatiran soal politisasi, budaya di internal militer AS, hingga masa depan profesionalisme angkatan bersenjata AS.

Pentagon Diguncang Pembersihan Internal

Pada 2 April 2026, Pete Hegseth memecat Jenderal Randy George, seorang perwira tertinggi Angkatan Darat AS serta menyingkirkan dua pemimpin senior lainnya.

Menurut para mantan pejabat militer Negeri Paman Sam, langkah seperti ini hampir tidak pernah terjadi, apalagi dilakukan saat AS sedang menjalankan perang besar dan pasukan darat juga tengah bergerak menuju kawasan Teluk.

Hegseth tidak menjelaskan alasan pemecatan mendadak tersebut. Namun, banyak pihak menilai mereka hanya menjadi korban terbaru dari gelombang pembersihan yang dilakukan terhadap jajaran pimpinan militer AS.

Sejumlah mantan pejabat tinggi militer yang diwawancarai oleh The Economist menggambarkan Pentagon kini dipenuhi dendam, politisasi, dan obsesi Hegseth untuk menanamkan semangat pejuang yang maskulin dan anti-woke. Menurut mereka, sikap itu bahkan bisa meluas menjadi sikap meremehkan hukum internasional.

Kementerian Pertahanan ASFoto: The Economist
Kementerian Pertahanan AS

Dalam konferensi pers Pentagon soal Operation Epic Fury, Hegseth yang merupakan mantan pembawa acara Fox News kadang dinilai lebih sibuk meladeni perang budaya dibanding perang yang sebenarnya sedang berlangsung di Iran. Seorang mantan pejabat militer bahkan menyindirnya seperti anak 12 tahun yang bermain perang dengan boneka tentara.

Sejak menjabat tahun lalu, Hegseth disebut telah menyingkirkan sedikitnya 21 jenderal. Banyak dari mereka diduga dipecat tanpa alasan jelas, selain kemungkinan karena ras, jenis kelamin, atau dugaan perbedaan pandangan politik mereka.

Kori Schake dari American Enterprise Institute mengatakan langkah ini belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut dia, pemecatan 21 pemimpin senior tanpa alasan yang jelas merupakan hal yang sangat tidak lazim dan telah menyia-nyiakan talenta yang dibangun selama ratusan tahun.

Randy George sendiri dilaporkan pernah menentang keputusan Hegseth yang mencoret empat perwira dari daftar promosi bulan Maret lalu.

Empat perwira itu terdiri dari dua pria kulit hitam dan dua perempuan. Situasi seperti ini membuat sebagian perwira memilih pensiun dini atau menarik nama mereka dari proses promosi. Hal itu disampaikan Nancy Lacore, seorang laksamana yang dipaksa pensiun tahun lalu dan kini maju sebagai calon anggota Kongres di South Carolina.

Pengganti Dinilai Kompeten, tetapi Tetap Memicu Tanda Tanya

Sebagian besar pengganti yang ditunjuk memang dinilai punya kualifikasi yang baik dan tidak terlihat memiliki bias politik yang mencolok. Namun, beberapa keputusan tetap memunculkan pertanyaan.

Salah satunya adalah pengangkatan Jenderal Christopher LaNeve sebagai pengganti Randy George. LaNeve, yang sebelumnya merupakan asisten militer Hegseth, dinilai memiliki pengalaman yang tipis untuk posisi kepala staf Angkatan Darat. Jabatan itu sangat penting karena bertanggung jawab atas perekrutan, pelatihan, dan perlengkapan tentara.

Meski begitu, LaNeve diketahui sempat menelepon presiden hanya beberapa jam setelah pelantikan untuk menyambut kembalinya sang presiden ke Gedung Putih. Presiden bahkan disebut menanggapi dengan komentar yang bernada kagum terhadap sosok tersebut.

Kekhawatiran tidak hanya datang dari kalangan tempur, tetapi juga dari sisi hukum militer. Seorang mantan pejabat tinggi korps hukum Angkatan Darat AS yang baru pensiun mengaku khawatir para pengacara militer generasi baru justru mencoba mencari pembenaran hukum atas apa pun yang diinginkan pemerintah.

Seorang pejabat senior militer lainnya menyebut pola pikir Hegseth sebagai kemenangan dengan segala cara. Menurut dia, kini terlihat benturan nyata terhadap nilai-nilai dasar yang selama ini diyakini dan dijaga oleh militer AS.

Sejumlah mantan pejabat militer menduga Hegseth sedang berusaha memperbaiki hal-hal yang dulu membuatnya marah saat masih menjadi letnan dan kapten di Garda Nasional. Hegseth sendiri pernah mengatakan bahwa Angkatan Darat seperti membuang dirinya, setelah rekan-rekannya menandainya sebagai ancaman dari dalam atau insider threat karena tato Deus Vult di lengannya.

Simbol tersebut diketahui juga kerap digunakan oleh kelompok nasionalis kulit putih. Orang-orang di dalam Pentagon juga menyebut Hegseth terkadang tampak kebingungan saat mengikuti pengarahan. Seorang mantan pemimpin senior militer bahkan menilai Hegseth mungkin merasa seperti orang luar ketika harus membahas persoalan strategi yang kompleks.

Terlepas dari semua gejolak itu, militer AS tetap mampu tampil efektif dalam perang melawan Iran. Hal ini dinilai menjadi bukti kuat betapa kokohnya kemampuan institusi angkatan bersenjata AS.

Keberhasilan itu terutama ditopang oleh keunggulan teknologi, pengalaman tempur selama puluhan tahun, dan budaya nonpartisan yang selama ini menjadi salah satu fondasi utama militer AS. Namun justru budaya itulah yang kini dinilai terancam dirusak oleh Hegseth.

Banyak pihak khawatir, dampak dari kerusakan internal yang terjadi di bawah kepemimpinannya bisa bertahan jauh lebih lama dibanding konflik AS dengan Iran itu sendiri.

CNCB INDONESIA RESEREACH

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular