10 Pemasok Pupuk Impor Indonesia, Terbesar China
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga pupuk melambung di tengah perang Iran. Indonesia yang masih memiliki ketergantungan besar terhadap pupuk impor dikhawatirkan bisa terimbas.
Ketergantungan Indonesia terhadap impor pupuk masih tinggi, bahkan menunjukkan tren fluktuatif dalam lima tahun terakhir. Data terbaru menunjukkan bahwa sejumlah negara seperti China, Rusia, dan Kanada tetap menjadi pemasok utama, dengan dinamika yang sangat dipengaruhi oleh tensi geopolitik global.
Kebutuhan pupuk secara nasional di Indonesia kurang lebih 13 juta ton dengan total impor 6,3 juta ton. Indonesia juga masih mengimpor bahan baku pupuk seperti batuan fosfat (bahan baku pupuk NPK/SP-36) dan kalium/potash (bahan baku pupuk KCL).
Pada 2024, impor pupuk Indonesia kembali meningkat dari beberapa negara kunci.
China mencatatkan lonjakan signifikan menjadi 1.599 ton, diikuti Rusia sebesar 1.397 ton, serta Kanada yang kembali naik ke 1.260 ton setelah sempat turun tajam pada 2023.
Jika dilihat lebih dalam, pola impor pupuk Indonesia juga menunjukkan adanya pergeseran sumber pasokan dari waktu ke waktu. Pada periode sebelum 2022, impor cenderung lebih stabil dengan dominasi China dan Kanada sebagai pemasok utama.
Namun, memasuki 2022 terjadi lonjakan signifikan, khususnya dari Kanada dan Rusia, yang mengindikasikan adanya penyesuaian strategi impor untuk menjaga ketersediaan pupuk di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Sementara itu, pada 2023 sempat terjadi koreksi tajam di beberapa negara pemasok, sebelum akhirnya kembali meningkat pada 2024. Pola fluktuatif ini mencerminkan bahwa Indonesia tidak hanya bergantung pada satu negara, tetapi juga aktif melakukan penyesuaian sumber impor guna mengantisipasi risiko gangguan pasokan.
Perang Mengganggu Rantai Pasok Pupuk
Gejolak tersebut tidak terjadi tanpa sebab. Konflik geopolitik global, khususnya perang Rusia dan Ukraina sejak 2022, menjadi faktor utama yang mengganggu rantai pasok pupuk dunia.
Selain itu, konflik di Timur Tengah juga memicu krisis pengapalan di Selat Hormuz yang kini dinobatkan sebagai gangguan pasokan paling mengerikan dalam sejarah pasar energi dan komoditas global.
"Krisis pengapalan di Selat Hormuz saat ini adalah gangguan pasokan terbesar dalam sejarah pasar minyak global," ujar Birol mengutip World Economic Forum (WEF) pada Minggu, (05/04/2026).
Â
Kawasan Teluk Arab merupakan pusat utama pertanian global yang menyumbang setidaknya 20% dari seluruh ekspor pupuk jalur laut. Ketergantungan dunia bahkan lebih akut pada urea, jenis pupuk nitrogen yang paling banyak digunakan, dimana 46% perdagangan global berasal dari wilayah ini.
Pasokan ini sangat krusial bagi ekonomi pertanian besar seperti India, Brasil, dan China. Analis memperingatkan bahwa gangguan yang berkepanjangan akan memperketat ketersediaan di wilayah-wilayah yang bergantung pada impor, yang berpotensi melambungkan biaya produksi pangan global serta meningkatkan tekanan inflasi.
Dampak Bagi Pangan
Data proyeksi menunjukkan indeks pangan global naik dari 93,3 pada kuartal IV-2025 menjadi 99,2 pada kuartal I-2026, lalu 103,6 pada kuartal II-2026. Tekanan ini bertahan sepanjang tahun sebelum cenderung stabil pada 2027.
Secara tahunan, harga pangan global diperkirakan naik 6% pada 2026. Ini terasa langsung di banyak negara karena harga gandum, jagung, minyak nabati, hingga beras sangat dipengaruhi ongkos angkut dan biaya input pertanian.
Jika kapal memutar rute lebih jauh, pupuk terlambat datang, atau cuaca buruk datang bersamaan, harga di pasar ritel dapat bergerak lebih cepat dari angka global.
Â
(mae/mae) Addsource on Google