MARKET DATA
Review Sepekan

Gencatan Senjata Rapuh, Emas Masih Unjuk Gigi

Chandra Dwi Pranata,  CNBC Indonesia
11 April 2026 07:40
Emas. (Dok. Pixabay)
Foto: Emas. (Dok. Pixabay)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas global cenderung sumringah sepanjang pekan ini, karena didukung oleh pelemahan dolar Amerika Serikat (AS) dan di tengah sikap investor yang sedang menilai ketahanan gencatan senjata yang rapuh antara AS dan Iran.

Merujuk Refinitiv, harga emas di perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (10/4/2026), ditutup di posisi US$ 4.747,49 per troy ons. Harganya melemah 0,34%. Namun dalam sepekan terakhir, emas melonjak 1,54% secara point-to-point.

Dolar AS yang lebih lemah membuat emas batangan lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain. Pada perdagangan kemarin, indeks dolar (DXY) terpantau melemah 0,12% ke 98,69. Dalam sepekan, indeks dolar terkoreksi 0,53%.

"Melemahnya dolar AS telah membantu emas kembali pulih, tetapi ada kehati-hatian di pasar karena para pelaku mencoba menafsirkan apa arti gencatan senjata tersebut," kata Bob Haberkorn, ahli strategi pasar senior di RJO Futures, dikutip dari Reuters, Sabtu (11/4/2026).

"Berita utama tentang gencatan senjata sangat menggembirakan bagi emas, tetapi harga telah turun dari level tertinggi baru-baru ini karena mulai terlihat keretakan," tambahnya.

Israel membombardir lebih banyak target di Lebanon, yang menurut Teheran harus dimasukkan dalam gencatan senjata. Sementara tidak ada tanda-tanda Iran telah mencabut blokade Selat Hormuz.

Kegagalan negosiasi dan kembali memanasnya perang berisiko mendorong kenaikan biaya energi dan inflasi, yang dapat memaksa bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Hal ini pada gilirannya dapat mengurangi daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil, meskipun emas secara tradisional merupakan aset lindung nilai terhadap inflasi.

Morgan Stanley mengatakan bahwa mereka memperkirakan harga emas akan stabil sepanjang kuartal kedua 2026 sebelum pulih kembali pada semester kedua tahun ini.

"Jika kenaikan suku bunga The Fed dihindari, kami pikir harga emas bisa pulih, sementara penyelesaian konflik juga akan mendukung, kemungkinan akan kembali memfokuskan perhatian pada penurunan nilai mata uang fiat," kata analis Morgan Stainley.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(chd/chd)



Most Popular