Bursa Saham RI Loyo, 5 Emiten Ini Bakal Rights Issue
Jakarta, CNBC Indonesia - Musim rights issue masih ramai pada tahun ini, kali ini ada lima emiten terbaru yang mengumumkan rencana tambah modal dengan penerbitan saham baru ini.
Right issue ini dilakukan di tengah loyonya bursa saham Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan terjun bebas dari level 9.000 pada Januari dan kini sudah ada di 7000.
Mereka adalah PT TBS Energi Utama Tbk (TOBA), PT Royaltama Mulia Kontraktorindo Tbk (RMKO), PT Wahana Interfood Nusantara Tbk (COCO), PT Pyridam Farma Tbk (PYFA) dan PT Tripar Multivision Tbk (RAAM).
Rencana rights issue dari semua emiten itu masih dalam fase menunggu restu investor pada Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST). Kalau disetujui, nantinya mereka juga masih menanti izin efektif dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Mengingat banyaknya antrian emiten mau rights issue tahun ini, ada kemungkinan besar sampai periode penebusan nanti bisa berlangsung pada tahun depan. Pasalnya, setelah RUPS itu waktu paling lambat rights issue itu selama 12 bulan, kecuali ada hal tidak terduga atau alasan lainnya.
Lantas bagaimana rencana rights issue dari lima emiten itu? kami coba urai satu per satu.
TOBA
Rencana rights issue dari TOBA dilakukan sebagai bagian dari transformasi bisnis menuju energi hijau.
Perseroan berencana menerbitkan maksimal 1,39 miliar saham baru dengan tujuan untuk pengembangan proyek energi terbarukan serta ekosistem kendaraan listrik (EV) dan pengolahan energi dari limbah.
Hingga saat ini belum ada pengumuman resmi terkait standby buyer, namun umumnya pemegang saham pengendali akan menjaga porsi kepemilikannya.
Dalam waktu dekat, TOBA masih menunggu pernyataan efektif dari OJK setelah memperoleh persetujuan melalui RUPSLB pada 16 April 2026.
RMKO
Berikutnya ada RMKO yang berencana melakukan rights issue dengan menerbitkan saham baru maksimal 512 juta saham baru atau setara 29,06% dari modal disetor.
Dana yang dihimpun akan digunakan untuk modal kerja dan penguatan struktur permodalan, termasuk mendukung ekspansi bisnis logistik batu bara di Sumatera Selatan.
Dana yang diperoleh akan difokuskan pada peningkatan kapasitas hauling, pengembangan pelabuhan, serta modal kerja dan pelunasan sebagian kewajiban finansial.
Agenda terdekat adalah RUPSLB pada 8 April 2026 untuk meminta persetujuan investor terkait rencana aksi tambah modal ini.
COCO
Selanjutnya ada emiten produsen cokelat, COCO yangberencana menerbitkan hingga 10,67 miliar saham baru melalui rights issue.
Dana akan digunakan untuk ekspansi kapasitas produksi cokelat, termasuk pembangunan fasilitas baru dan pembelian mesin sampai pembelian biji cocoa yang merupakan bahan baku untuk cokelat.
Adapun agenda terbaru perseroan adalah RUPSLB pada 5 Mei 2026 mendatang untuk meminta restu investor dari gelaran aksi ini. Sebelum itu, perusahaan juga akan memfinalkan prospektus rights issue sepanjang April.
PYFA
Kemudian ada perusahaan farmasi, PYFA yang akan menggelar rights issue dengan tujuan sebagai modal untuk akuisisi pabrik Mayne Pharma di Salisbury, Australia Selatan.
Rencananya paling dekat PYFA akan melaksanakan RUSPLB dulu pada 22 April 2026 untuk meminta persetujuan penerbitan maksimal 5,7 miliar saham baru.
Dana yang dihimpun dari situ nantinya akan digunakan untuk akuisisi dan penguatan struktur permodalan, termasuk ekspansi global di sektor farmasi di Australia itu.
Selain itu, sebagai pemanis PYFA juga berencana menerbitkan waran hingga 35% dari total saham yang telah ditempatkan dan disetor penuh.
RAAM
Terakhir ada RAAM yang akan melakukan rights issue dengan menerbitkan sebanyak-banyaknya 1.362.724.000 saham baru atau setara maksimal 20% dari modal yang ditempatkan dan disetor penuh.
Rencana rights issue tersebut akan dimintakan persetujuan dalam RUPSLB yang dijadwalkan pada 5 Mei 2026.
Dana yang diperoleh dari hasil rights issue ini akan dialokasikan untuk dua kebutuhan utama perusahaan.
Pertama, sebagai modal kerja untuk membiayai produksi berbagai konten kreatif seperti film, web series, dan sinetron, termasuk untuk keperluan pemasaran dan investasi pada lini usaha pendukung.
Kedua, perusahaan akan menyuntikkan modal kepada entitas anaknya, PT Platinum Sinema, dengan target ambisius untuk membangun serta mengoperasikan 50 teater baru di berbagai kota di Indonesia.
Langkah strategis ini diharapkan dapat memperkuat struktur permodalan induk perusahaan dan entitas anak guna mendukung performa bisnis di masa depan.
Namun, pihak manajemen juga mengingatkan bahwa pemegang saham yang tidak menggunakan haknya dalam rights issue ini berpotensi mengalami dilusi kepemilikan saham maksimal sebesar 16,67%.
Selain persetujuan HMETD, RUPSLB mendatang juga akan membahas perubahan anggaran dasar terkait peningkatan modal serta pemberian wewenang kepada direksi untuk menetapkan harga pelaksanaan saham tersebut.
Sanggahan : Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investor terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(mae/mae) Addsource on Google