Perang Masih Panas! RI, China-AS Bakal Umumkan Kabar Penting Pekan Ini
- Pasar keuangan Tanah Air bergerak beragam pada Jumat pekan lalu, IHSGÂ dan rupiah melemah sementara imbal hasil obligasi stabil
- Bursa saham Amerika, Wall Street, ambruk pekan lalu di tengah kekhawatiran sikap plin pan Trump
- Â Rilis Inflasi Indonesia hingga data ketenagakerjaan AS akan menjadi penggerak pasar hari ini hingga satu pekan ke depan
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Tanah Air di tutup beragam pada perdagangan terakhir pekan lalu, Jumat (27/3/2026). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga nilai tukar rupiah melemah, sedangkan yield obligasi bergerak stabil.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih akan bergerak volatil pada perdagangan awal pekan ini, Senin (30/3/2026) dan sepanjang pekan ke depan. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini hingga sepekan ke depan dapat dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Pada penutupan perdagangan Jumat akhir pekan lalu, IHSG berakhir di posisi 7.097,06. Dalam sehari IHSG melemah 0,94%.
Pada perdagangan Jumat, terdapat 396 saham turun, 292 naik, dan 270 tidak bergerak. Nilai transaksi pun cukup lesu dengan total sebesar Rp11,64 triliun dengan melibatkan 18,83 miliar saham dalam 1,38 juta kali transaksi. Kapitalisasi pasar turun menjadi Rp12.516 triliun.
Meski IHSG, investor asing pun tercatat melakukan aksi jual di seluruh pasar, dengan net outflow sebesar Rp1,76 triliun.
Secara pergerakan emiten, investor banyak berkutat dengan menjual saham Bank Central Asia (BBCA). Saham emiten grup Djarum tersebut mencatat total transaksi jual dan beli terbesar, yakni Rp 4,14 triliun atau nyaris 36% dari total transaksi perdagangan.
Seiring dengan aksi jual tersebut, saham BBCA turun 2,55% ke level 6.700. Hal ini diikuti pula dengan aksi jual investor asing yang membukukan net sell Rp 609 miliar di saham BBCA. Mengutip Refinitiv, BBCA menjadi beban utama IHSG dengan bobot -16,58 indeks poin.
Selain BBCA, sejumlah saham big cap lain juga menjadi beban utama IHSG. Telkom (TLKM) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) menyeret IHSG sebesar -12,62 indeks poin dan -11 indeks poin.
Beralih ke pergerakan mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada akhir pekan lalu rupiah mesti ditutup melemah meskipun secara kumulatif sepekan masih menguat.
Merujuk data Refinitiv, mata uang Garuda menutup perdagangan di zona merah dengan pelemahan 0,38% ke level Rp16.960/US$. Pergerakan ini berbalik dari perdagangan sebelumnya, Kamis (26/3/2026), saat rupiah masih mampu ditutup menguat tipis 0,06% di level Rp16.895/US$.
Tekanan terhadap rupiah sejatinya sudah terlihat sejak awal perdagangan. Pada pagi hari, rupiah dibuka melemah 0,09% ke posisi Rp16.910/US$.
Meskipun, secara kumulatif sepekan lalu rupiah mampu menguat tipis sebesar 0,09%.
Pergerakan rupiah pada Jumat pekan lalu dipengaruhi oleh sejumlah sentimen, terutama dari eksternal.
Dari pasar global, dolar AS kembali menguat setelah harapan meredanya konflik di Timur Tengah mulai memudar. Pelaku pasar menilai peluang tercapainya kesepakatan damai antara AS dan Iran masih kecil, sehingga kekhawatiran terhadap perang yang lebih panjang kembali meningkat. Kondisi ini membuat dolar AS kembali diburu sebagai aset aman.
Kekhawatiran pasar juga bertambah karena Selat Hormuz masih berisiko terganggu. Jika jalur ini tetap terhambat, pasokan energi global bisa semakin tertekan dan memicu lonjakan harga minyak. Risiko tersebut pada akhirnya meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global dan ikut menopang penguatan dolar AS.
Beralih ke pasar obligasi, yield untuk surat utang acuan RI dengan tenor 10 tahun terpantau stabil di posisi 6,848% pada penutupan perdagangan Jumat lalu.
Yield yang stabil artinya tekanan jual dan beli masih berimbang. Perlu dipahami juga, bahwa gerak yield dan harga dalam obligasi itu berlawanan arah. Kalau yield naik, maka harga turun, begitupun sebaliknya.
Bursa saham AS kembali ditutup ambruk pada akhir pekan lalu, Jumat (27/3/2026), yang menandakan tekanan di pasar global masih jauh dari mereda.
Indeks Dow Jones Industrial Average anjlok 793,47 poin atau 1,73% ke 45.166,64 dan resmi masuk zona koreksi, setelah ditutup sekitar 10% di bawah rekor penutupan tertingginya pada 10 Februari lalu.
S&P 500 juga turun 1,67% ke 6.368,85, level penutupan terendah dalam sekitar tujuh bulan, sementara Nasdaq Composite merosot 2,15% ke 20.948,36.
Sepanjang pekan, S&P 500 tercatat melemah 2,1% dan membukukan pelemahan mingguan lima kali berturut-turut, sedangkan Nasdaq turun 3,2% dan Dow terkoreksi 0,9%.
Saham-saham megakap teknologi kembali menjadi beban utama pasar, sementara indeks volatilitas CBOE atau VIX juga naik ke 31,05, tertinggi sejak April 2023, menandakan tingkat kecemasan investor semakin tinggi.
Aksi jual ini menunjukkan investor masih sangat berhati-hati terhadap dampak perang AS-Israel melawan Iran yang kini sudah berlangsung sekitar satu bulan. Pasar sebelumnya sempat berharap ada meredanya tensi setelah Presiden AS Donald Trump memperpanjang tenggat serangan terhadap infrastruktur energi Iran hingga 6 April 2026.
Namun, perpanjangan itu gagal menenangkan pelaku pasar karena ketidakpastian di lapangan justru masih tinggi, mulai dari laporan soal potensi tambahan pengerahan pasukan AS ke Timur Tengah hingga belum adanya sinyal nyata bahwa jalur diplomasi benar-benar akan menghasilkan penyelesaian konflik.
Kekhawatiran terbesar tetap tertuju pada sektor energi. Harga minyak dunia melonjak tajam setelah pasar menilai gangguan di Selat Hormuz masih menjadi ancaman serius bagi pasokan global. Pada penutupan Jumat, kontrak Brent naik 4,22% ke US$112,57 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) melesat 5,46% ke US$99,64 per barel.
Kedua acuan tersebut menembus level penutupan tertinggi sejak Juli 2022. Sejak serangan dimulai pada akhir Februari, Brent telah melonjak sekitar 53% dan WTI sekitar 45%, memperlihatkan betapa besar premi risiko yang kini dibebankan pasar energi.
Lonjakan minyak inilah yang kemudian menjadi sumber tekanan baru bagi Wall Street.
Investor khawatir kenaikan harga energi akan mendorong inflasi kembali memanas, sehingga ruang bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) untuk menurunkan suku bunga tahun ini menjadi makin sempit. Kekhawatiran tersebut langsung menekan saham-saham teknologi dan saham pertumbuhan, yang selama ini paling sensitif terhadap arah suku bunga.
Dengan kondisi ini, pasar tampaknya sudah tidak cukup diyakinkan oleh pernyataan bahwa pembicaraan masih berlangsung. Yang dibutuhkan investor saat ini adalah bukti konkret bahwa konflik benar-benar menuju penyelesaian.
Selama Selat Hormuz masih dibayangi ancaman gangguan dan harga minyak tetap tinggi, tekanan terhadap pasar saham global berpotensi bertahan, terutama karena investor kini juga harus menghadapi risiko inflasi yang lebih tinggi di saat pertumbuhan ekonomi mulai kehilangan tenaga.
Memasuki pekan perdagangan yang menjadi penutupan Maret sekaligus mengawali bulan baru April 2026, pelaku pasar keuangan Tanah Air akan mencermati sejumlah data penting dari dalam dan luar negeri.
Sentimen yang dipantau kali ini mencakup kondisi pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS), aktivitas manufaktur China dan AS, hingga inflasi serta neraca perdagangan Indonesia.
Data-data tersebut akan menjadi acuan pasar untuk membaca arah kebijakan moneter bank sentral, mulai dari Bank Indonesia (BI) hingga Federal Reserve (The Fed), di tengah volatilitas global yang masih tinggi akibat perang dan gejolak harga energi. Berikut rangkuman sentimen utama yang patut diperhatikan pelaku pasar sepanjang hari ini hingga sepekan ke depan.
Perkembangan Perang Iran
Militer Israel menyatakan sedang menyerang berbagai target di ibu kota Iran, Tehran. Pemerintah Iran juga mengatakan infrastruktur energi mengalami kerusakan, namun media Iran melaporkan listrik telah pulih di sebagian besar wilayah Teheran dan kota terdekat, Karaj.
Sebuah universitas di kota Isfahan, Iran bagian tengah, menjadi sasaran serangan untuk kedua kalinya pada akhir pekan ini.
Di sisi lain, Israel menyatakan kebakaran di sebuah lokasi industri di bagian selatan negara itu-yang disebabkan oleh serangan Iran-telah berhasil dikendalikan, beberapa jam setelah sebelumnya menyatakan terjadi "insiden bahan berbahaya" di area tersebut. Foto yang telah diverifikasi menunjukkan sebuah jet militer Amerika Serikat mengalami kerusakan parah di sebuah pangkalan udara di Saudi Arabia.
Sebelumnya, Ketua Parlemen Iran mengatakan pasukan mereka "menunggu" kehadiran pasukan darat Amerika Serikat untuk "menghujani mereka dengan api", setelah pengumuman AS bahwa sekitar 3.500 tentara berada di kawasan tersebut bersama kapal perang USS Tripoli.
Di Lebanon, ratusan orang berkumpul di sebuah pemakaman di pinggiran selatan Beirut untuk menghadiri pemakaman tiga jurnalis Lebanon yang tewas akibat serangan udara Israel yang ditargetkan.
Konflik Timur Tengah kian memanas setelah kelompok Houthi di Yaman resmi ikut dalam perang Iran dengan melancarkan serangan langsung ke Israel. Langkah ini menandai eskalasi baru yang memperluas cakupan konflik di kawasan.
Melansir Reuters, kelompok Houthi yang bersekutu dengan Iran pada Sabtu (28/3/2026), meluncurkan serangan pertama ke Israel sejak perang pecah. Serangan ini bahkan berlanjut, dengan juru bicara militer Houthi, Yahya Saree menyebut pihaknya telah melakukan serangan kedua dan "akan ada serangan berikutnya".
Masuknya Houthi membuka front baru konflik sekaligus meningkatkan risiko terhadap jalur pelayaran global, terutama di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb, titik krusial menuju Terusan Suez.
Di saat bersamaan, Amerika Serikat meningkatkan kehadiran militernya di kawasan. Washington telah mengirim ribuan marinir, dengan gelombang pertama tiba menggunakan kapal serbu amfibi.
Laporan The Washington Post juga menyebut Pentagon tengah menyiapkan kemungkinan operasi darat selama beberapa pekan di Iran, yang dapat melibatkan pasukan khusus hingga infanteri konvensional. Namun, keputusan akhir masih bergantung pada persetujuan Presiden Donald Trump.
Dalam perkembangan terbaru, Pakistan menyatakan pada hari Minggu bahwa mereka sedang bersiap menjadi tuan rumah "pembicaraan yang bermakna" untuk mengakhiri konflik terkait Iran dalam beberapa hari ke depan, meskipun sebelumnya Teheran menuduh AS tengah menyiapkan serangan darat sambil tetap membuka jalur negosiasi.
Berbicara setelah pertemuan para menteri luar negeri kawasan, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar mengatakan bahwa mereka telah membahas berbagai kemungkinan untuk mengakhiri perang di kawasan secara cepat dan permanen, serta potensi pembicaraan antara AS dan Iran di Islamabad.
"Pakistan akan merasa terhormat untuk menjadi tuan rumah dan memfasilitasi pembicaraan yang bermakna antara kedua pihak dalam beberapa hari ke depan, guna mencapai penyelesaian yang komprehensif dan berkelanjutan atas konflik yang sedang berlangsung," ujarnya dikutip dari Reuters. Namun, belum jelas apakah AS dan Iran telah menyetujui untuk hadir.
Departemen Luar Negeri AS dan Gedung Putih belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar terkait potensi pembicaraan di Pakistan.
Indeks Dolar Terbang, Imbal Hasil Utang AS Melonjak
Indeks dolar terbang ke 100,338 pada hari ini, Senin (30/3/2026) pukul 06.02 WIB. Level saat ini adalah posisi tertinggi sejak Mei 2025.
Indeks terus menguat dalam sepekan terakhir hingga ditutup di posisi 100 101,151 pada akhir pekan lalu, Jumat (27/3/2026).
Kenaikan indeks ini menandai investor tengah memburu dolar AS dan menjual aset non-denominasi dolar. Langkah ini bisa memicu outflow, terutama dari Emerging Market seperti Indonesia.
Akibatnya, rupiah bisa tertekan.
Di sisi lain, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun juga melesat ke 4,44% pada pada akhir pekan lalu.
Posisi saat ini adalah yang tertinggi sejak Juli 2025.
Kenaikan imbal hasil US Treasury bisa memicu imbal hasil surat utang negara lain, termasuk Indonesia.
Likuiditas Domestik Melambat, Uang Beredar RI Tumbuh 8,7%
Dari dalam negeri, pelaku pasar lebih dulu mencermati perkembangan likuiditas perekonomian setelah Bank Indonesia (BI) pada Jumat lalu (27/3/2026) melaporkan uang beredar dalam arti luas (M2) pada Februari 2026 tumbuh 8,7% secara tahunan menjadi Rp10.089,9 triliun, melambat dibandingkan pertumbuhan Januari 2026 yang sebesar 10%.
BI menjelaskan pertumbuhan M2 tersebut didorong oleh kenaikan uang beredar sempit (M1) sebesar 14,4% serta uang kuasi 3,1%.
Dari sisi faktor pendorong, perkembangan likuiditas pada Februari terutama dipengaruhi oleh pertumbuhan tagihan bersih kepada pemerintah pusat dan penyaluran kredit. Tagihan bersih kepada pemerintah pusat tercatat tumbuh 25,6%, lebih tinggi dibandingkan Januari yang sebesar 22,6%, sementara penyaluran kredit tumbuh 8,9%, melambat dari bulan sebelumnya yang sebesar 10,2%.
Melambatnya pertumbuhan uang beredar ini penting dicermati pasar karena menjadi salah satu petunjuk awal mengenai arah likuiditas domestik, permintaan pembiayaan, dan tekanan inflasi ke depan.
Jika perlambatan berlanjut, pasar bisa membaca adanya moderasi aktivitas ekonomi domestik, meski di sisi lain tetap memberi ruang bagi BI untuk menjaga stabilitas moneter di tengah tekanan eksternal.
Data lowongan kerja AS
Pasar akan lebih dulu menanti rilis data pembukaan lapangan kerja AS atau Job Openings and Labor Turnover Survey (JOLTS) untuk periode Februari yang dijadwalkan terbit pada Selasa (31/3/2026).
Pada Januari, jumlah lowongan kerja tercatat mencapai 6,946 juta. Untuk Februari, konsensus pasar memperkirakan angkanya turun tipis ke 6,85 juta, sementara proyeksi berada di kisaran 6,7 juta.
Penurunan lowongan kerja ini menjadi sinyal bahwa permintaan tenaga kerja dari dunia usaha mulai melandai. Jika tren ini berlanjut, pasar tenaga kerja AS menunjukkan tanda-tanda menuju keseimbangan baru setelah sempat sangat ketat pada periode pascapandemi.
Kondisi tersebut dapat membantu meredakan tekanan inflasi dari sisi upah dan menjadi salah satu pertimbangan penting bagi The Fed dalam mengevaluasi arah kebijakan suku bunganya.
Aktivitas Manufaktur China
Dari Asia, pasar juga akan mencermati rilis data Caixin China General Manufacturing PMI untuk periode Maret yang dijadwalkan terbit pada Rabu (1/4/2026). Pada Februari, indeks manufaktur China tercatat di level 52,1, lebih tinggi dari konsensus pasar 51,9 maupun perkiraan 51,7. Angka ini juga meningkat dibandingkan posisi Januari yang berada di 50,3.
Level di atas 50 menandakan sektor manufaktur China masih berada dalam fase ekspansi.
Jika kembali mencatat hasil yang solid, data ini akan memberi gambaran bahwa permintaan eksternal China masih cukup terjaga, terutama karena survei Caixin banyak merepresentasikan perusahaan menengah yang berorientasi ekspor. Bagi pasar, kondisi ini dapat menjadi sentimen positif bagi harga komoditas global, khususnya logam dan bahan baku industri yang sangat terkait dengan aktivitas manufaktur China.
Inflasi Indonesia
Perhatian investor berikutnya akan tertuju pada rilis data inflasi Indonesia untuk periode Maret yang dijadwalkan pada Rabu (1/4/2026).
Sebelumnya, inflasi tahunan pada Februari tercatat 4,76%, tertinggi sejak pertengahan 2023. Untuk Maret, inflasi diperkirakan meningkat lagi ke sekitar 4,9%, terutama didorong oleh komponen perumahan dan makanan.
Apabila inflasi tetap tinggi dan bertahan di atas kisaran sasaran BI, maka ruang pelonggaran suku bunga berpotensi semakin terbatas. Di satu sisi, kondisi ini dapat menjaga daya tarik imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) untuk menahan arus keluar modal asing. Namun di sisi lain, suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama juga dapat menambah tekanan bagi emiten-emiten yang sensitif terhadap biaya pendanaan di pasar saham.
Neraca dagang RI
Masih pada hari yang sama, Rabu (1/4/2026) pasar juga akan menantikan data neraca perdagangan Indonesia untuk Februari.
Pada periode sebelumnya yakni Januari, surplus neraca perdagangan tercatat sebesar US$0,95 miliar, turun dari bulan-bulan sebelumnya seiring kenaikan impor dan menurunnya nilai ekspor migas. Untuk Februari, surplus diperkirakan membaik ke kisaran US$1,2 miliar.
Meski surplus diproyeksikan melebar, angkanya masih tergolong moderat. Hal ini menunjukkan bahwa kinerja ekspor neto masih menghadapi tantangan, baik dari dinamika harga komoditas global maupun penyesuaian tarif perdagangan internasional. Padahal, surplus perdagangan yang konsisten tetap dibutuhkan untuk menopang transaksi berjalan dan menjaga kestabilan rupiah di tengah gejolak pasar keuangan global.
PMI manufaktur Indonesia
Masih dari dalam negeri, pelaku pasar juga akan menantikan rilis PMI Manufaktur Indonesia dari S&P Global untuk periode Maret yang dijadwalkan terbit pada Rabu (1/4/2026). Sebagai gambaran terakhir, pada Februari 2026, PMI manufaktur Indonesia tercatat di level 53,8, naik dari 52,6 pada bulan sebelumnya.
Capaian ini menandakan sektor manufaktur masih berada di zona ekspansi karena indeks bertahan di atas level 50.
S&P Global mencatat penguatan pada Januari ditopang oleh kenaikan output dan pesanan baru yang lebih cepat, meski permintaan ekspor masih tertekan. Artinya, perbaikan manufaktur Indonesia pada awal tahun lebih banyak ditopang oleh pasar domestik.
Jika pada rilis Rabu (1/4/2026) nanti PMI kembali bertahan di zona ekspansi, pasar bisa membacanya sebagai sinyal bahwa aktivitas industri nasional masih cukup solid di tengah ketidakpastian global. Sebaliknya, jika melambat tajam, pasar akan mulai mewaspadai pelemahan permintaan dan efeknya terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik.
Aktivitas manufaktur AS
Selain data perekonomian domestik, pasar global juga akan memantau rilis ISM Manufacturing PMI AS untuk Maret yang juga dijadwalkan pada Rabu mendatang. Pada Februari, indeks tercatat di level 52,4. Untuk Maret, konsensus pasar memperkirakan sedikit turun ke 52,3, sementara proyeksi berada di level 52,0.
Angka tersebut masih menunjukkan bahwa sektor manufaktur AS berada di zona ekspansi, meski lajunya diperkirakan melambat. Yang juga akan menjadi perhatian pasar adalah subindeks harga yang dibayar produsen. Jika aktivitas melunak tetapi tekanan harga tetap tinggi, pasar bisa membaca adanya penyempitan margin di tingkat perusahaan. Sinyal semacam ini penting bagi valuasi saham, khususnya di sektor industri AS.
Data tenaga kerja AS
Fokus terbesar pasar pada akhir pekan akan tertuju pada rilis data ketenagakerjaan non-pertanian AS atau Non-Farm Payrolls (NFP) untuk Maret yang dijadwalkan terbit pada Jumat (3/4/2026). Pada Februari, jumlah pekerjaan tercatat turun 92.000 setelah revisi ke bawah pada bulan-bulan sebelumnya. Untuk Maret, konsensus memperkirakan ada tambahan 48.000 pekerjaan, sedangkan proyeksi berada di kisaran 50.000.
Jika realisasi kembali lemah atau berada di bawah ekspektasi pasar, hal ini akan memperkuat pandangan bahwa ekonomi AS mulai kehilangan tenaga.
Dalam kondisi seperti itu, pasar akan semakin yakin bahwa The Fed pada akhirnya perlu menurunkan suku bunga untuk menopang pertumbuhan. Skenario tersebut biasanya akan mendorong penguatan obligasi dan memicu penyesuaian besar pada ekspektasi pasar global.
Tingkat pengangguran AS dan arah kebijakan The Fed
Pada Jumat (3/4/2026) juga, pasar akan mencermati data tingkat pengangguran AS untuk Maret.
Pada Februari, tingkat pengangguran tercatat naik ke 4,4%. Untuk rilis mendatang, konsensus dan proyeksi sama-sama memperkirakan kenaikan lagi ke level 4,5%.
Jika angka tersebut terealisasi, pasar akan melihatnya sebagai sinyal bahwa daya serap tenaga kerja mulai melemah. Kenaikan pengangguran yang konsisten akan berdampak langsung pada daya beli rumah tangga AS, yang selama ini menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi.
Karena itu, data ini akan menjadi salah satu katalis paling penting dalam membentuk ekspektasi pelonggaran moneter The Fed pada kuartal-kuartal mendatang.
Eropa
Fokus akan tertuju pada data awal inflasi bulan Maret di berbagai ekonomi utama Eropa, seiring investor menilai dampak konflik Iran terhadap harga, termasuk di kawasan Zona Euro, Jerman, Prancis, dan Italia.
Inflasi Zona Euro diperkirakan melonjak menjadi 2,8% dari 1,9% pada Februari, tertinggi sejak Januari 2024.
Secara bulanan, inflasi Jerman diperkirakan naik 0,9% (dibanding 0,3% tahun sebelumnya), Prancis sebesar 0,8% (vs 0,2%), Italia sebesar 0,5% (vs 0,3%).
Di Swiss, inflasi diproyeksikan naik menjadi 0,6%, tertinggi sejak Desember 2024. Data juga akan dirilis di Belanda, Turki, dan Polandia.
Di Jerman, jumlah pengangguran diperkirakan mencapai 3 juta orang, sementara tingkat pengangguran Zona Euro diproyeksikan stabil di 6,1%. Data tenaga kerja tambahan juga akan dirilis dari Italia, Turki, dan Rusia.
Indeks PMI diperkirakan menunjukkan penguatan aktivitas manufaktur di Spanyol dan Italia, dengan Italia mencatat ekspansi tercepat sejak awal 2023.
Penjualan ritel di Italia diperkirakan naik untuk bulan kedua berturut-turut, sementara produksi industri Prancis kemungkinan sedikit melemah setelah sempat pulih sebelumnya.
Rilis data lainnya meliputi:
Survei bisnis Uni Eropa
Penjualan ritel Jerman
Data hipotek Inggris
Harga rumah Nationwide Inggris
PDB kuartal IV final
Indikator leading KOF Swiss
Penjualan ritel dan PMI manufaktur Swiss
Neraca perdagangan Turki
Simak Rilis Data dan Agenda Hari Ini
Berikut sejumlah agenda dan rilis data yang terjadwal untuk hari ini:
- Pidato Ketua The Fed Jerome Powell
- Kepercayaan konsumen Uni Eropa
- Summary opini Bank of Japan (BoJ)
- Konferensi pers Menteri Pertanian terkait Hilirisasi Pertanian di Gedung A, kantor pusat Kementerian Pertanian, Jakarta Selatan
- Halalbihalal sekaligus peliputan serah terima jabatan Presiden Direktur PT Honda Prospect Motor di HPM Headquarter, Sunter, Jakarta Utara
- Menko Pangan memimpin Rapat Koordinasi Terbatas terkait Lahan Sawah Dilindungi (LSD) di ruang rapat utama Kemenko Pangan, Jakarta Pusat. Turut hadir antara lain Menteri Agraria dan Menteri Pertanian
Berikut sejumlah agenda emiten di dalam negeri pada hari ini:
- Rencana RUPS: ZADI, DCII, WOMF, MPPA & TEBE
- Tanggal ex dividen PT Bank Central Asia Tbk
Berikut sejumlah indikator perekonomian nasional:
CNBC INDONESIA RESEARCH
Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.
(evw/evw) Add
source on Google Next Article Investor Deg-deg-an: Pekan Ini BI Hadapi Gempuran 3 Raksasa Dunia