MARKET DATA
1 BULAN PERANG IRAN

Bukan Jenderal! Ini Sosok yang Punya Kuasa Tertinggi dalam Perang AS

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
27 March 2026 05:45
Mayor Jenderal William Taylor, Operasi Staf Gabungan, meninggalkan podium selama jumpa pers di Pentagon, Selasa, 17 Agustus 2021, di Washington. (AP Photo/Alex Brandon/File Foto)
Foto: Mayor Jenderal William Taylor, Operasi Staf Gabungan, meninggalkan podium selama jumpa pers di Pentagon, Selasa, 17 Agustus 2021, di Washington. (AP/Alex Brandon)

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Amerika Serikat (AS) melawan Iran kembali membuka tabir soal bagaimana rantai komando militer Negeri Paman Sam bekerja saat krisis memanas di Timur Tengah.

Di balik setiap serangan, pengerahan kapal induk, peluncuran rudal, hingga operasi udara jarak jauh, ada proses pengambilan keputusan yang berlapis, mulai dari level politik hingga komando tempur di lapangan.

Ketika AS ingin menjalankan operasi militer, keputusan tertinggi berada di tangan presiden selaku panglima tertinggi.

Dalam praktiknya, langkah militer besar biasanya juga akan melibatkan pembahasan politik di dalam negeri AS, termasuk dengan Kongres. Setelah itu, rencana operasi dibahas bersama Menteri Pertahanan AS, yang merupakan pimpinan sipil tertinggi di Pentagon.

Dari inilah jajaran militer tertinggi mulai memainkan peran penting. Mereka menyiapkan masukan mengenai opsi serangan, strategi operasi, kebutuhan kekuatan, hingga kesiapan armada dan pasukan yang akan dikerahkan. Dengan kata lain, keputusan politik datang dari pimpinan sipil, sementara perencanaan militer dirumuskan oleh petinggi militer.

Dalam struktur Pentagon, kementerian pertahanan AS yang saat ini bernama Departement of War (DoW) dipimpin oleh Secretary of War Pete Hegseth, dengan Steve Feinberg sebagai Deputy Secretary of War. Keduanya adalah pejabat sipil yang berada di puncak kepemimpinan Pentagon.

Sementara itu, masukan militer strategis disiapkan oleh Ketua Kepala Staf Gabungan AS bersama wakilnya. Dalam menyusun strategi dan menghitung kesiapan alutsista maupun personel, Ketua Kepala Staf Gabungan tidak bekerja sendiri, melainkan dibantu oleh para kepala staf dari masing-masing matra, mulai dari angkatan darat, angkatan laut, angkatan udara, hingga korps marinir.

Setelah rencana operasi selesai disusun dan mendapat persetujuan dari presiden, pelaksanaannya kemudian dijalankan oleh combatant commands atau komando tempur.

Ini adalah struktur komando militer AS yang dibentuk berdasarkan wilayah operasi maupun fungsi tertentu. Untuk konflik yang berkaitan dengan Iran, komando yang paling relevan adalah U.S. Central Command (CENTCOM) karena wilayah tanggung jawabnya mencakup Timur Tengah, termasuk Iran.

Artinya, jika menelusuri siapa saja tokoh di balik operasi militer AS terhadap Iran, sorotannya tidak hanya berhenti pada Pentagon sebagai pusat pengambilan keputusan, tetapi juga mengarah ke para jenderal dan laksamana yang berada di jalur perencanaan strategis hingga komando kawasan. Dari sinilah keputusan politik diterjemahkan menjadi operasi militer yang nyata di lapangan.

Joint Chiefs, Otak Nasihat Militer Utama

Di level militer tertinggi, peran paling sentral ada pada Joint Chiefs of Staff yang saat ini dipimpin Jenderal Dan Caine sebagai ketua. Ia merupakan penasihat militer utama bagi Presiden AS, Menteri Pertahanan, dan Dewan Keamanan Nasional.

Posisi ini sangat penting karena dari sinilah berbagai opsi militer dirumuskan, mulai dari menghitung risiko, menakar kebutuhan kekuatan, hingga membaca potensi eskalasi bila operasi diperluas. Meski begitu, sebagai perwira paling senior di AS, Ketua Joint Chiefs bukan komandan lapangan yang memimpin operasi tempur secara langsung. Perannya lebih sebagai pemberi nasihat militer tertinggi bagi pimpinan sipil dalam mengambil keputusan.

Di bawahnya ada Wakil Ketua Joint Chiefs of Staff, yang saat ini dijabat Jenderal Christopher J. Mahoney. Ia merupakan pejabat militer tertinggi kedua di AS dan memegang peran penting dalam koordinasi lintas matra.

Sebagai tangan kanan ketua, wakil ketua membantu menyelaraskan langkah Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara agar tetap berjalan dalam satu arah yang sama sesuai tujuan yang telah ditetapkan pimpinan sipil dan militer.

Kepala Staf Penopang Rencana Operasi

Di bawah Joint Chiefs of Staff, ada para kepala matra yang berperan menyiapkan kekuatan tempur AS.

Mereka memang tidak memimpin perang secara langsung, tetapi punya peran penting dalam membantu pimpinan Kepala Staf Gabungan menyusun rencana operasi militer, terutama dengan memberi gambaran mengenai kesiapan alutsista, personel, dan kemampuan tempur di masing-masing matra.

Tugas utama para kepala matra ini pada dasarnya adalah memastikan tiap cabang militer siap dari sisi organisasi, pelatihan, hingga perlengkapan. Dari sinilah pimpinan militer AS bisa menghitung kekuatan apa saja yang siap dikerahkan, seberapa besar kapasitasnya, dan bagaimana pembagian peran tiap matra dalam suatu operasi.

Untuk angkatan laut, jabatan itu dipegang Laksamana Daryl Caudle sebagai Kepala Operasi Angkatan Laut AS ke-34.

Untuk angkatan darat, posisi tersebut dijabat Jenderal Randy A. George sebagai Kepala Staf Angkatan Darat AS ke-41.

Sementara di angkatan udara, posisi Kepala Staf Angkatan Udara AS dipegang Jenderal Kenneth S. Wilsbach. Adapun untuk Korps Marinir AS, posisi pimpinan matra dipegang Jenderal Eric M. Smith sebagai Komandan Korps Marinir.

CENTCOM, Ujung Tombak Operasi AS ke Iran

Jika kepala staf gabungan AS bertugas menyusun masukan dan pertimbangan militer bagi menteri pertahanan di Pentagon, maka pelaksanaan operasi militer AS di kawasan Iran berada di tangan CENTCOM yang dipimpin Laksamana Brad Cooper.

Sebagai komando tempur AS untuk Timur Tengah, CENTCOM membawahi wilayah yang mencakup Iran, Teluk Persia, Irak, Suriah, serta sejumlah jalur pelayaran vital di kawasan. Karena itu, setiap operasi militer AS yang terkait dengan Iran pada akhirnya akan bermuara ke komando ini.

CNBC INDONESIA RESEARCH 

[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular