MARKET DATA

Kisah Heroik Ramadan 1947: Warga RI Bertempur Lawan Belanda Saat Puasa

mae,  CNBC Indonesia
18 March 2026 16:00
Pada abad ke-17 hingga ke-20, Indonesia merupakan salah satu wilayah yang mengalami penjajahan oleh berbagai kekuatan kolonial Eropa, termasuk Belanda. Salah satu aspek paling kontroversial dari era penjajahan Belanda di Indonesia adalah praktik “kerja paksa” atau “rodi”. (Dok: Gallery Nasional)
Foto: Pada abad ke-17 hingga ke-20, Indonesia merupakan salah satu wilayah yang mengalami penjajahan oleh berbagai kekuatan kolonial Eropa, termasuk Belanda. Salah satu aspek paling kontroversial dari era penjajahan Belanda di Indonesia adalah praktik “kerja paksa” atau “rodi”. (Dok: Gallery Nasional)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ramadan tidak hanya menjadi bulan istimewa buat kaum Muslimin di dunia tetapi juga menjadi saksi beberapa peristiwa bersejarah di Indonesia.
Setidaknya terdapat dua peristiwa penting yang terjadi di Indonesia selama bulan Ramadan, apa saja?

1. Proklamasi Kemerdekaan

Semua orang tahu bahwa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa menurut kalender Islam, peristiwa bersejarah itu terjadi pada 9 Ramadan 1367 Hijriah. Dengan demikian, jika dihitung berdasarkan penanggalan Islam, Indonesia kini telah berusia 79 tahun.

Kendati demikian, situasi menjelang proklamasi penuh ketegangan, para pemimpin bangsa saat itu tetap menjalankan ibadah puasa. Pada Jumat dini hari, 17 Agustus 1945, para tokoh penting, termasuk Soekarno dan Hatta, yang tengah berdiskusi sengit mengenai waktu proklamasi, masih menyempatkan diri untuk makan sahur.

Menu sahur mereka saat itu terdiri dari nasi goreng, roti telur, dan ikan sarden. Setelah makan bersama, para pemimpin bangsa sepakat bahwa proklamasi kemerdekaan akan dilaksanakan di Jl. Pegangsaan Timur No. 45 pada pukul 10:00 WIB.


Di bawah terik matahari dan dalam keadaan berpuasa, rakyat Indonesia dengan penuh semangat menyaksikan upacara proklamasi. Soekarno, atas nama bangsa Indonesia, membacakan naskah proklamasi yang menandai berdirinya Indonesia sebagai negara berdaulat. Keesokan harinya, Soekarno resmi dilantik sebagai Presiden Indonesia.

2. Agresi Militer Belanda
Keputusan untuk memproklamasikan kemerdekaan membuat Belanda murka. Negara kincir angin itu berupaya kembali menguasai Indonesia dengan melancarkan serangan yang dikenal sebagai Agresi Militer I pada 1947.

Banyak orang telah memahami berbagai aspek Agresi Militer I, tetapi tidak banyak yang menyadari bahwa peristiwa ini terjadi pada bulan Ramadan tahun 1366 Hijriah.

Saat masyarakat Indonesia baru saja beristirahat setelah menjalankan salat tarawih pada hari kedua Ramadan, 20 Juli 1947, situasi mendadak berubah drastis. Pada malam itu, Gubernur Jenderal Belanda H. van Mook memutuskan mengakhiri gencatan senjata sekaligus melanggar Perjanjian Linggarjati yang disepakati beberapa bulan sebelumnya.

Keputusan tersebut menjadi awal dari Agresi Militer Belanda I, ketika pasukan Belanda melancarkan operasi militer besar-besaran untuk merebut kota-kota penting yang dikuasai Republik Indonesia.

Tepat sekitar pukul 23.00 WIB, berbagai gedung vital di Jakarta berhasil dikuasai oleh pasukan Belanda yang terdiri dari NICA dan KNIL. Beruntung, beberapa bulan sebelumnya Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia telah berpindah ke Yogyakarta, sehingga pemerintahan pusat tidak jatuh ke tangan Belanda.

Dalam waktu singkat, Belanda juga berhasil menguasai sejumlah kota pelabuhan strategis di Jawa dan Sumatra. Di Jawa Tengah, Semarang dan wilayah sekitarnya kemudian dijadikan basis militer Belanda.

Serangan terus berlanjut. Pada 7 Ramadan 1366 H atau 25 Juli 1947, pesawat tempur Kittyhawk milik Belanda lepas landas dari Semarang dan melancarkan beberapa serangan udara terhadap pangkalan udara Maguwo di Yogyakarta, yang saat itu menjadi salah satu pusat pertahanan Republik.

Serangan tersebut menghancurkan sejumlah pesawat rampasan Jepang yang digunakan oleh angkatan udara Indonesia.

Belanda memanfaatkan kondisi rakyat Indonesia yang berpuasa menahan lapar dan haus sepanjang hari sebagai celah kelemahan. Oleh karena itu, mereka memilih waktu serangan yang strategis, yakni pada pagi hari, tak lama setelah sahur.

Meski Belanda menganggap rakyat Indonesia lemah karena berpuasa, kenyataannya tidak demikian. Dalam Kronik Revolusi Indonesia 3 (1947) diceritakan bahwa mayoritas rakyat tetap teguh berjuang dan tidak melihat puasa sebagai penghalang untuk mengusir kembali Belanda.


Di Aceh, misalnya, para ulama menyerukan seluruh rakyat untuk mengangkat senjata melawan penjajah. Bahkan, mereka menekankan bahwa bulan puasa harus menjadi momentum untuk memperkuat iman dan semangat perjuangan, agar Belanda tidak memandang mereka sebagai pihak yang lemah.

Namun, sejarah membuktikan bahwa meskipun rakyat Indonesia tengah berpuasa, Belanda tetap gagal menguasai kembali negeri ini. Agresi Militer Belanda I akhirnya berhenti pada 15 Agustus 1947, meskipun setahun kemudian mereka kembali melancarkan serangan terhadap Indonesia.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(mae/mae) Add as a preferred
source on Google



Most Popular