Fitnah al-Kubra: Perang Saudara Pertama yang Memecah Umat Islam
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejarah Islam mencatat satu fase paling genting yang mengubah arah politik dan teologi umat: Fitnah al-Kubra (Fitnah Besar), perang saudara pertama yang pecah setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Akar konflik ini menguat pada enam tahun terakhir pemerintahan Usman bin Affan. Meski memimpin selama 12 tahun, paruh kedua kekuasaannya diwarnai tudingan nepotisme, mutasi pimpinan baitul mal, hingga dugaan pembagian harta negara kepada keluarga.
Enam Tahun Terakhir yang Penuh Gejolak
Nama Marwan bin al-Hakam, sepupu sekaligus menantu Usman yang juga menjadi sekretaris dan penasihat dekatnya, kerap disebut sebagai figur berpengaruh di balik berbagai kebijakan kontroversial rezim Usman. Namun di mata publik saat itu, Usman dianggap tidak cukup tegas mengendalikan lingkaran dalamnya.
Situasi semakin memanas ketika Usman mengangkat Abdullah bin Abi Sarh (saudara sesusuan Usman) sebagai Gubernur Mesir. Penolakan datang dari rakyat Mesir dan diperkuat oleh desakan sejumlah sahabat senior seperti Ali bin Abi Talib, Talha bin Ubaydillah, serta Aisha binti Abi Bakr.
Usman akhirnya setuju menggantinya dengan Muhammad bin Abi Bakr. Namun dalam perjalanan menuju Mesir, Muhammad bertemu pelayan Usman yang membawa surat berstempel resmi khalifah yang memerintahkan agar ia dibunuh setibanya di sana. Ia kembali ke Madinah dan melaporkan temuan tersebut.
Surat misterius ini memicu krisis kepercayaan besar. Perdebatan muncul soal siapa sebenarnya yang mengeluarkan perintah tersebut. Banyak yang bertanya-tanya apakah Usman mengetahui isi surat itu atau tidak, dan apakah benar surat tersebut perintah dari Usman atau rekayasa pihak lain.
Ketegangan berujung pada pengepungan rumah Usman dan pembunuhannya pada 656 M, peristiwa yang menjadi pemicu Fitnah al-Kubra.
Ali Naik Saat Kondisi Politik Tidak Stabil
Sehari setelah wafatnya Usman, Ali bersedia dilantik sebagai khalifah. Namun stabilitas tidak kunjung tercapai. Tuntutan agar pembunuh Usman segera dihukum datang dari berbagai pihak.
Ketegangan antara Ali dan kelompok yang dipimpin Aisyah, Talha, serta Zubayr meledak dalam Perang Jamal pada 656 M yang berakhir dengan tewasnya Talha dan Zubayr, sementara Aisyah kembali ke Madinah. Konflik berikutnya muncul dari Damaskus ketika Gubernur Syam, Muawiyah I, menuntut penegakan hukum atas kematian Usman. Ketegangan ini berujung pada Perang Shiffin pada 657 M.
Dalam Perang Shiffin, pasukan Ali hampir meraih kemenangan sebelum kubu Muawiyah, melalui manuver politik Amr bin al-As, mengangkat mushaf Al-Qur'an dan menyerukan arbitrase atau tahkim (perundingan damai).
Ali awalnya menolak karena curiga itu merupakan taktik politik, namun tekanan dari sebagian pasukannya membuat ia menerima arbitrase tersebut. Dalam proses tahkim, wakil Ali yaitu Abu Musa al-Ashari dan wakil Muawiyah, Amr bin al-As, bernegosiasi.
Riwayat populer menyebut putusan arbitrase justru melemahkan posisi Ali dan memperkuat klaim Muawiyah. Sejak saat itu, umat Islam terbelah menjadi tiga arus besar:
-
Kelompok Khawarij yang keluar dari barisan Ali karena menolak tahkim,
-
Kelompok pendukung setia Ali yang kemudian dikenal sebagai Syiah,
-
Kubu Muawiyah yang kelak mendirikan Dinasti Umayyah di Damaskus.
Perpecahan semakin dalam ketika sebagian Khawarij memberontak dan dikalahkan Ali di Nahrawan. Namun seorang anggota Khawarij, Abd al-Rahman bin Muljam, akhirnya berhasil membunuh Ali pada 661 M.
Kematian Ali membuka jalan bagi Muawiyah untuk mengukuhkan kekuasaan dan mendirikan Dinasti Umayyah, sekaligus mengubah sistem kepemimpinan dari model musyawarah menjadi monarki turun-temurun.
Dari Politik ke Teologi: Perpecahan Kelompok dalam Islam
Peristiwa era Usman dan Ali tersebut memicu fenomena Islamic sectarianism. Ini adalah fenomena munculnya kelompok-kelompok (firqah) dalam Islam yang memiliki perbedaan pandangan, baik dalam soal kepemimpinan, teologi, maupun praktik keagamaan.
Berikut golongan-golongan utama yang muncul dalam fenomena Islamic sectarianism beserta gambaran singkatnya:
Fitnah al-Kubra sebagai perang saudara pertama dalam sejarah Islam menjadi titik pemicu pergeseran konflik politik menjadi perpecahan teologis. Dari peristiwa inilah lahir fragmentasi yang dampaknya bertahan berabad-abad hingga hari ini.
Padahal Islam secara tegas mengingatkan agar tidak terpecah belah. Perintah ini terdapat di Al-Quran surah Ali Imran ayat 103.
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ وَكُنْتُمْ عَلٰى شَفَا حُفْرَةٍ مِّنَ النَّارِ فَاَنْقَذَكُمْ مِّنْهَاۗ كَذٰلِكَ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَكُمْ اٰيٰتِهٖ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ ١٠٣
wa'tashimû biḫablillâhi jamî'aw wa lâ tafarraqû wadzkurû ni'matallâhi 'alaikum idz kuntum a'dâ'an fa allafa baina qulûbikum fa ashbaḫtum bini'matihî ikhwânâ, wa kuntum 'alâ syafâ ḫufratim minan-nâri fa angqadzakum min-hâ, kadzâlika yubayyinullâhu lakum âyâtihî la'allakum tahtadûn
Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara. (Ingatlah pula ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.
(mae/mae) Add
source on Google