Ranjau Laut Iran: Mengapa Senjata Ini Sangat Ditakuti di Selat Hormuz?
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran dilaporkan mulai menanam ranjau laut di Selat Hormuz, yang menjadi salah satu jalur pelayaran energi paling penting di dunia.
Langkah ini menimbulkan kekhawatiran besar bagi perdagangan global, terutama karena sekitar 20% pasokan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut.
Bahkan sejak konflik memanas, sekitar 15 juta barel minyak mentah per hari serta 4,5 juta barel bahan bakar olahan dilaporkan tertahan di kawasan Teluk karena risiko keamanan di jalur tersebut.
Presiden Amerika Serikat (S) Donald Trump meminta Iran segera mencabut ranjau yang mungkin telah ditempatkan di Selat Hormuz. Ia memperingatkan bahwa Teheran akan menghadapi konsekuensi besar jika tidak melakukannya.
Sementara itu, militer AS menyatakan telah menghancurkan sejumlah kapal angkatan laut Iran, termasuk 16 kapal penebar ranjau, di sekitar Selat Hormuz.
Â
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) sebelumnya juga memperingatkan bahwa kapal yang melintas di kawasan tersebut dapat menjadi target serangan, membuat jalur pelayaran itu digambarkan sebagai "death valley" karena tingginya risiko bagi kapal yang melintas.
Menurut Robert Strauss Center for International Security and Law, ranjau dapat berisi bahan peledak mulai dari sekitar 100 pon hingga lebih dari 2.000 pon, dan dapat digunakan baik untuk tujuan pertahanan maupun serangan.
Apa Itu Ranjau Laut?
Ranjau laut adalah alat peledak yang ditempatkan di bawah air untuk merusak atau menghancurkan kapal yang melintas. Mirip dengan ranjau darat, perangkat ini dipasang dan dibiarkan di tempat hingga terpicu ledakan, baik karena kontak langsung dengan kapal maupun karena kapal berada di dekatnya.
Ranjau laut dapat dipasang dengan berbagai cara. Selain itu, ada juga ranjau dasar laut yang dapat mendeteksi kapal melalui sinyal akustik atau elektromagnetik sebelum meledak.
Beberapa jenis bahkan lebih canggih, seperti ranjau TE-1 buatan China yang dimiliki Iran, yang dapat menembakkan muatan peledak bertenaga roket saat kapal melintas di atasnya.
Ancaman ini semakin signifikan di Selat Hormuz. Pada titik tersumbatnya, selat ini hanya sekitar 33 kilometer, sementara jalur pelayaran utama bahkan lebih sempit, sekitar 3 kilometer di setiap arah, sehingga relatif mudah untuk menempatkan ranjau laut di jalur kapal tanker yang melintas.
Keunggulan Ranjau Laut
Ranjau laut sering dianggap sebagai senjata strategis karena biaya pembuatannya relatif murah, tetapi dampaknya sangat besar.
"Salah satu keunggulan utama ranjau laut adalah biayanya yang rendah dibandingkan sistem persenjataan angkatan laut lainnya. Satu ranjau yang hanya bernilai beberapa ribu dolar dapat menenggelamkan atau merusak parah kapal sipil maupun kapal perang yang nilainya mencapai jutaan bahkan milyaran dolar." tutur Komodor Srikant Kesnur mengatakan kepada India Today Digital.
Di sisi lain, proses mendeteksi dan membersihkan ranjau laut justru lambat, mahal, dan berisiko.
Proses ini dapat memakan waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan, sehingga jalur pelayaran bisa terganggu lama bahkan setelah konflik mereda. Karena itu, NATO menyebut ranjau laut sebagai senjata perang ekonomi sekaligus militer.
Ancaman ini juga berdampak pada sektor perdagangan. Ketika risiko ranjau meningkat, perusahaan asuransi dan reasuransi dapat menaikkan premi atau bahkan menarik perlindungan bagi kapal yang melintas. Akibatnya, pengiriman komoditas seperti minyak dan gas menjadi lebih mahal atau terhambat.
Strategi ini dinilai menjadi bagian dari tekanan ekonomi yang ingin diciptakan Iran dengan mengumumkan rencana penempatan ratusan ranjau laut di Selat Hormuz.
Ranjau Laut Pernah Digunakan pada 1987
Ranjau laut pernah digunakan di kawasan Teluk Persia selama "Tanker War" pada 1980-an, bagian dari konflik Iran-Irak. Pada periode tersebut, ranjau laut merusak sejumlah kapal komersial dan memaksa Amerika Serikat serta sekutunya melakukan operasi besar untuk mengawal tanker dan membersihkan ranjau di jalur pelayaran.
Salah satu insiden terkenal juga terjadi pada 1987 ketika supertanker Bridgeton yang dikawal kapal perang AS menabrak ranjau Iran di Teluk Persia, yang merusak lambung kapal tersebut dan menunjukkan betapa sulitnya melindungi jalur pelayaran dari ancaman ranjau laut.
CNBCÂ INDONESIA RESEARCH
[email protected]
source on Google