MARKET DATA

Menang di Berbagai Perang, Kenapa Wall Street Takluk oleh Perang Iran?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
11 March 2026 10:55
Ilustrasi Wall Street. (AP/J. David Ake)
Foto: (AP/J. David Ake)

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik global dan eskalasi militer antarnegara kerap menjadi salah satu faktor utama yang memicu kekhawatiran serta aksi jual secara masif di kalangan pelaku pasar modal.

Pasca pecahnya konflik pada 28 Februari 2026 lalu di Iran, pasar saham global merespons dinamika tersebut dengan pergerakan yang fluktuatif termasuk pasar modal di Indonesia.

Kemampuan S&P 500 Menahan

Indeks S&P 500, yang menjadi acuan utama pasar saham Amerika Serikat sekaligus barometer global, mencatatkan drawdown yang cukup signifikan. Terhitung sejak Senin (2/3/2026) hingga kemarin Selasa (10/03/2026), indeks tersebut telah mengalami pelemahan sekitar 3,15%.

Penurunan ini mencerminkan kehati-hatian investor dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik yang sedang berlangsung karena dapat memicu kenaikan harga komoditas global dan potensi naiknya angka inflasi secara menyeluruh.

Secara psikologis, investor institusional maupun ritel cenderung merelokasi portofolio investasi mereka ke instrumen safe haven pada masa-masa awal terjadinya krisis.

Tinjauan mendalam terhadap data historis sejak tahun 1979 justru menunjukkan bahwa indeks S&P 500 memiliki data historis kemampuan bertahan dan pemulihan yang sangat konsisten. Namun, cerita berbeda terjadi tahun ini di tengah perang Iran vs Israel-AS.

Sejak invasi Irak ke Kuwait pada 2003, sepekan setelah perang, Wall Street selalu menguat. Berbeda dengan tahun ini di mana Wall Street jeblok setelah perang Iran.

Gejolak perang antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat langsung mengguncang pasar saham global, termasuk Wall Street. Indeks utama seperti Dow Jones, S&P 500, dan Nasdaq biasanya tertekan ketika ketegangan geopolitik meningkat.

Salah satu pemicunya adalah lonjakan harga minyak. Konflik yang melibatkan Iran memicu kekhawatiran terganggunya pasokan energi global, terutama jika jalur strategis seperti Selat Hormuz terdampak. Padahal sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati jalur tersebut.

Kenaikan harga minyak membuat biaya produksi meningkat, memicu inflasi, dan menekan keuntungan perusahaan sehingga investor cenderung melepas saham.

Seperti diketahui, harga minyak melonjak ke US$ 119 pada Senin (9/3/2026) atau rekor tertinggi sejak Juni 2022.

Pasar juga khawatir konflik dapat meluas menjadi perang regional yang lebih besar. Jika itu terjadi, perdagangan global, rantai pasok, hingga transportasi internasional berpotensi terganggu.

Di sisi lain, lonjakan harga energi juga dapat mendorong inflasi sehingga Federal Reserve kemungkinan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama. Kondisi ini biasanya tidak menguntungkan bagi pasar saham, terutama sektor teknologi.

Berdasarkan data kuantitatif, dampak pecahnya suatu konflik terhadap bursa saham umumnya bersifat sementara dan jarang mendisrupsi tren pertumbuhan jangka panjang. Berikut adalah ringkasan pergerakan persentase S&P 500 terhitung dari tanggal dimulainya berbagai konflik global:

Volatilitas Terbatas pada Fase Awal Krisis

Merujuk pada metrik historis di atas, pergerakan indeks S&P 500 pasca meletusnya konflik menunjukkan hasil yang fluktuatif namun masih cukup moderat. Untuk konflik Iran saat ini, indeks mencatatkan koreksi sebesar -2,02% pada minggu pertama perdagangannya.

Reaksi negatif yang lebih signifikan pernah terjadi saat invasi Irak ke Kuwait pada Agustus 1990 atau Perang Teluk, di mana indeks melemah -4,4% pada minggu pertama dan terkoreksi lebih dalam hingga -9,3% pada bulan pertama.

Hal ini sangat dipengaruhi oleh guncangan pasokan minyak global yang memicu lonjakan harga energi secara drastis pada masa itu, sehingga langsung mengancam margin keuntungan korporasi.

Sebaliknya, pada beberapa kasus modern, pasar justru tidak mencatatkan koreksi yang berarti. Ini mengindikasikan bahwa kepanikan awal di bursa saham sering kali lebih didorong oleh sentimen ketidakpastian jangka pendek daripada perubahan fundamental ekonomi yang riil.

Dominasi Faktor Makroekonomi pada Jangka Panjang

Tren kinerja pasar menunjukkan pola yang jauh lebih terarah dan stabil ketika diamati dalam rentang waktu 12 bulan setelah konflik dimulai.

Dari delapan peristiwa besar yang tercatat dalam sejarah modern, enam di antaranya sukses mencetak imbal hasil positif dalam satu tahun. Konflik Perang Gaza (Oktober 2023) mencatatkan kenaikan tertinggi dengan pertumbuhan S&P 500 sebesar 32,2%.

Penurunan tajam justru terjadi pada periode invasi AS ke Afghanistan (2001) dengan koreksi -26,7% dalam 12 bulan. Namun, jika dibedah lebih lanjut, pelemahan ini secara fundamental didorong oleh dot-com bubble dan resesi ekonomi yang menekan valuasi saham di AS, bukan semata-mata karena dampak invasi militer.

Demikian pula dengan penurunan -6,1% pasca invasi Rusia ke Ukraina (2022), yang secara kronologis bertepatan dengan siklus pengetatan kebijakan moneter oleh Federal Reserve.

Fokus pada Fundamental dan Valuasi

Mencermati data historis tersebut, sejarah mengkonfirmasi satu prinsip krusial dalam dinamika pasar modal, yaitu peristiwa konflik geopolitik sangat jarang menjadi katalis tunggal yang merubah arah tren jangka panjang.

Perhatian pasar pada akhirnya akan selalu kembali berfokus pada prospek pertumbuhan laba emiten, ketersediaan likuiditas di pasar, dan arah kebijakan suku bunga bank sentral ketika merespon kejadian-kejadian yang ada.

Kondisi fundamental inilah yang terbukti memiliki pengaruh jauh lebih dominan dalam membentuk valuasi dan pergerakan indeks saham dibandingkan fluktuasi sementara akibat sentimen geopolitik.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular