Newsletter

Harga Emas "Bertarung" di Tengah Dua Kekuatan Besar: Semua Waspada!

mae, CNBC Indonesia
Rabu, 11/03/2026 06:45 WIB
Foto: Pexels/Steinberg

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dan perak akhirnya bangkit setelah sempat terpuruk. Harga membaik setelah harga minyak dan dolar Amerika Serikat (AS) melandai.

Merujuk Refinitiv, harga emas ditutup di posisi US$ 5193,93 per barel atau melesat 1,06% pada perdagangan Selasa (10/3/2026).

Kenaikan ini menjadi kabar baik setelah harganya jatuh 0,64% pada Senin.

Harga emas masih naik pada hari ini. Pada Rabu (11/3/2026) pukul 06.18 WIB, harga emas menguat 0,05% di US$ 5193,93 per troy ons.

Harga emas membaik setelah harga minyak melandai pada Selasa. Pelemahan harga minyak ikut menekan dolar AS. Indeks dolar ditutup di posisi 98,89 pada Selasa, dari sebelumnya di posisi US$ 99,18.

Harga emas sedang "bertarung" antara dua kekuatan pasar yakni ketegangan geopolitik yang mendorong naik vs penguatan dolar yang menahan kenaikan

Harga emas biasanya naik saat krisis geopolitik karena dianggap aset safe haven. Namun, dolar AS yang kuat bisa menekan harga emas, karena membuat emas lebih mahal bagi pembeli yang menggunakan mata uang lain.

Indeks dolar terbang ke level 99 pada Senin sehingga harga emas pun ambruk. 

Harga emas mulai pulih setelah pidato Presiden AS Donald Trump pada Selasa kemarin yang mengindikasikan bahwa konflik akan segera berakhir.

Pidato ini langsung menekan harga minyak. Dengan harga minyak melandai maka inflasi AS diharapkan bisa ditekan. Kondisi ini berimplikasi pada adanya potensi pemangkasan suku bunga The Fed. Dengan potensi makin besar maka dolar AS pun dijual investor sehingga indeks melemah. Emas pun akhirnya bisa naik kembali.

Penurunan suku bunga biasanya mendukung aset seperti emas yang tidak memberikan imbal hasil.

 

Sebelum pidato Trump, pelaku pasar memperkirakan The Fed mungkin akan mempertahankan atau bahkan menaikkan suku bunga untuk menahan tekanan inflasi dari kenaikan biaya energi.

Para analis mencatat bahwa meskipun harga minyak turun, levelnya masih relatif tinggi. Hal ini menunjukkan inflasi kemungkinan tetap berada pada tingkat tinggi, namun tidak cukup besar untuk mencegah bank sentral menurunkan suku bunga dalam tahun ini. Kondisi tersebut memberikan sedikit ketenangan bagi investor terkait arah kebijakan moneter.

Meski demikian, para analis juga menekankan bahwa jalur pelayaran utama masih terganggu dan harga energi masih jauh lebih tinggi dibandingkan sebelum konflik dimulai, yang menandakan risiko masih tetap ada.

Terlepas dari perdagangan yang volatil dan perlambatan momentum kenaikan sejak penurunan dari rekor tertinggi pada akhir Januari, harga emas tetap mencatat kenaikan signifikan sepanjang tahun ini.

"Bagi para trader emas, harga minyak yang turun tetapi masih tetap tinggi berarti inflasi akan meningkat, namun tidak cukup tinggi untuk mencegah bank sentral AS menurunkan suku bunga tahun ini," kata Bart Melek, kepala strategi komoditas global di TD Securities, kepada Reuters.

"Para investor mulai merasa lebih tenang bahwa perdagangan berbasis pelemahan nilai mata uang (debasement trade) bisa kembali menguat seiring berjalannya waktu," imbuhnya.

Hari ini investor emas menunggu kabar inflasi AS. Jika inflasi naik maka potensi pemangkasan menjauh sehingga emas bisa jatuh lagi.


(mae/mae) Add as a preferred
source on Google
Pages