MARKET DATA

Dari F-35 hingga Drone AI, Begini Taktik AS & Israel Menggempur Iran

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia
05 March 2026 14:55
Perang AS-Israel VS Iran
Foto: Cover Topik/ Perang AS-Israel VS Iran/ Aristya Rahadian

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang Iran sejauh ini dinilai menjadi keberhasilan operasi militer yang sangat besar bagi Amerika Serikat dan Israel. Di tengah alasan politik perang yang kerap berubah-ubah, operasi militernya justru terlihat sangat terencana, memiliki daya hancur besar, dan menunjukkan dominasi kuat di medan tempur.

Dominasi Sejak Awal Perang

Pada Rabu (4/3/2026) seorang pilot Angkatan Udara Israel menjadi orang pertama di kesatuannya yang mencatat kemenangan udara ke udara dalam lebih dari 40 tahun. Namun, pertarungan itu jelas tidak seimbang. F-35 yang diterbangkannya, salah satu pesawat tempur paling canggih di dunia, menembak jatuh Yak-130 Iran yang awalnya dirancang sebagai pesawat latih.

"Kami menghajar mereka saat mereka sedang terpuruk," ujar Pete Hegseth, menteri perang Amerika, dikutip dari The Economist. "Dan memang begitulah seharusnya," lanjutnya.

Pertempuran yang timpang itu dianggap mencerminkan keseluruhan kampanye Amerika dan Israel.

Di level politik, para pejabat Amerika dinilai menyampaikan alasan perang yang meragukan, kadang bertentangan, dan tujuan yang terus berubah dari hari ke hari. Sebaliknya, dari sisi militer, kampanye ini menunjukkan perencanaan yang rapi, kekuatan tembak yang besar, dan hasil yang sangat dominan.

Dalam video yang dirilis pada 3 Maret lalu, Laksamana Brad Cooper, komandan CENTCOM Pentagon yang mengawasi operasi militer di Timur Tengah, mengklaim bahwa dalam empat hari Amerika telah menyerang hampir 2.000 target, termasuk 17 kapal, salah satunya kapal selam.

Masih pada hari yang sama, sebuah kapal selam Amerika juga tampaknya menyerang dan menenggelamkan fregat Iran di dekat perairan Sri Lanka, sekitar 3.000 km dari Iran. Itu menjadi penggunaan torpedo pertama oleh Amerika sejak 1945.

Cooper mengatakan hari pertama perang hampir dua kali lebih besar dibanding serangan "shock and awe" Amerika ke Irak pada 2003. Sementara itu, serangan Israel bahkan lebih intens.

Menurut Pasukan Pertahanan Israel atau IDF, Israel menyerang sekitar 1.000 target per hari. Tingginya intensitas serangan ini dimungkinkan oleh pesawat tanker Amerika yang mengisi bahan bakar jet-jet tempur Israel.

Peluang Menyerang Khamenei

Keputusan Amerika dan Israel memulai perang secara terbuka pada 28 Februari disebut dipengaruhi oleh peluang untuk membunuh Ayatollah Ali Khamenei, pemimpin tertinggi Iran. Keberanian itu juga menunjukkan bahwa pertahanan udara Iran berada dalam kondisi buruk, setelah sebagian besar dilumpuhkan dalam perang 12 hari tahun lalu.

Setelah gelombang serangan pertama, yang demi menjaga unsur kejutan dilakukan dengan rudal jarak jauh dari pesawat siluman dan kapal perang dari kejauhan, Amerika dan Israel kini bisa menerbangkan pesawat mereka langsung di atas target.

Kondisi ini membuat mereka dapat memakai bom berpemandu yang lebih murah, tanpa terlalu bergantung pada amunisi stand-off yang mahal dan terbatas. "Kami memiliki persediaan yang nyaris tak terbatas" untuk jenis senjata ini, kata Hegseth.

Perang yang Disusun Bersama

Para perwira Israel bahkan bercanda bahwa konflik kali ini adalah "perang dalam bahasa Inggris", berbeda dari serangan-serangan sebelumnya terhadap Iran, karena seluruh rencananya dibuat sangat sejalan dengan Amerika. Pembahasan dimulai pada musim panas tahun lalu setelah perang 12 hari, tetapi rencana serangan gabungan baru benar-benar dikembangkan setelah kepala staf IDF, Eyal Zamir, mengunjungi Pentagon pada Januari.

Kedua negara kemudian membagi Iran ke dalam zona-zona besar yang mereka sebut ballistic-missiles operation areas atau BMOA.

Israel menangani Iran bagian barat dan tengah, termasuk Teheran, ibu kota negara itu. Amerika menangani Iran bagian selatan dan perairan di sekitarnya. Israel sebagian besar terbang melintasi Suriah, sedangkan Amerika banyak beroperasi dari pangkalan di Yordania serta dari USS Abraham Lincoln di Laut Arab dan USS Gerald Ford di Mediterania.

Meski keduanya sama-sama menyerang peluncur rudal, yang jumlahnya disebut mencapai "ratusan" menurut Cooper, pembagian tugas ini menjadi salah satu alasan mengapa Israel lebih fokus ke target-target rezim.

Target itu mencakup pertemuan Assembly of Experts, badan yang bertugas memilih pemimpin tertinggi berikutnya, pada 3 Maret, serta pasukan paramiliter Basij pada 4 Maret. Di sisi lain, Amerika lebih banyak memusatkan serangan pada angkatan laut Iran.

Pembagian ini juga mencerminkan perbedaan tingkat keberanian mengambil risiko. Martin Sampson dari IISS, sebuah lembaga pemikir, mengatakan Israel bersedia menerbangkan jet bermesin tunggal jauh ke dalam wilayah Iran, meski jika ditembak jatuh, tim pencarian dan penyelamatan akan sangat sulit mengevakuasi pilotnya.

Masuk ke Fase Baru

Rencana perang ini terdiri dari beberapa fase, dan dua di antaranya sudah dijalankan. Fase pertama adalah serangan pembuka pada 28 Februari. Fase kedua adalah 100 jam berikutnya, saat Israel menyerang target-target paling prioritas karena khawatir Presiden Donald Trump bisa sewaktu-waktu menghentikan perang lebih cepat.

Kini fase ketiga sedang berlangsung, dengan sasaran target-target yang prioritasnya lebih rendah. Para perencana mengatakan masih ada cukup target Amerika dan Israel untuk perang selama empat atau lima pekan, jangka waktu yang juga pernah disebut Trump.

"Sekarang kami akan mulai memperluas operasi ke pedalaman," kata Jenderal Dan Caine, ketua joint chiefs of staff Amerika, saat berbicara bersama Hegseth pada 4 Maret. Ia mengatakan serangan akan terus bergerak makin dalam ke wilayah Iran.

Sebagian besar target nuklir dijadwalkan untuk tahap berikutnya dalam konflik ini. Salah satu alasannya, meski pejabat Amerika membuat klaim yang dinilai menyesatkan, Iran sebenarnya tidak banyak melakukan perubahan di lokasi-lokasi itu sejak perang tahun lalu, selain menimbun tanah di atas kawah bekas bom.

Meski begitu, pada 3 Maret Israel mengatakan telah menyerang kompleks Min Zadai di pinggiran timur laut Teheran, yang diklaim sebagai fasilitas rahasia terkait pengembangan senjata nuklir.

Daftar target tidak hanya mencakup lebih banyak lokasi rudal dan nuklir, tetapi juga seluruh markas Korps Garda Revolusi Islam atau IRGC di seluruh Iran. Ini menjadi tanda bahwa tujuannya bukan hanya melemahkan kekuatan militer Iran, tetapi juga mendorong runtuhnya rezim.

Sampson mengatakan kampanye ini sangat terintegrasi dan dipikirkan secara matang sebagai operasi yang disengaja. Menurutnya, perang ini bisa segera bergeser dari serangan terhadap target-target yang sudah direncanakan sebelumnya dan cenderung statis, menuju target-target "dinamis", termasuk sasaran baru yang belum teridentifikasi sebelum perang.

Senjata Baru dan Peran Diego Garcia

Keputusan Inggris mengizinkan Amerika menggunakan Diego Garcia, pangkalan udara penting di Samudra Hindia, akan sangat membantu. Dengan terbang dari sana, bukan dari daratan Amerika, AS bisa meningkatkan frekuensi penerbangan, memakai kembali kru lebih sering, dan memanfaatkan persediaan senjata yang besar di pulau tersebut.

Sampson mengatakan pembom Amerika nantinya bisa menangani target-target yang memang sudah direncanakan, sementara jet tempur dapat bergerak lebih bebas dan memiliki keleluasaan taktis lebih besar untuk menyerang sasaran yang ditemukan drone dan pesawat pengintai. Aset-aset ini kemungkinan akan mulai beroperasi lebih jauh ke timur, lebih dekat ke Iran.

Perang ini juga menjadi ajang unjuk berbagai senjata baru, eksotis, dan tidak biasa. Di level bawah, Amerika memperkenalkan Low-cost Uncrewed Combat Attack System atau LUCAS, drone serang jarak jauh yang relatif murah. Ironisnya, LUCAS disebut sebagai tiruan Amerika dari proyektil Shahed-136 rancangan Iran yang digunakan Rusia di Ukraina.

Karena itu, para pendukung konsep "precise mass", yaitu penggunaan amunisi murah dalam jumlah besar, menyambutnya dengan antusias.

Di level atas, Amerika juga menggunakan rudal balistik PrSM untuk pertama kalinya. Rudal ini memiliki jangkauan 500 km dan ditembakkan dari peluncur HIMARS di Bahrain. Rudal itu tidak akan bisa dibangun dan ditempatkan seandainya Trump tidak membatalkan Perjanjian Intermediate-range Nuclear Forces atau INF dengan Rusia pada masa jabatan pertamanya.

Dalam serangan pembuka terhadap Khamenei dan kabinetnya, Israel juga diyakini menggunakan banyak rudal balistik yang diluncurkan dari udara. Ini adalah kategori senjata yang tidak lazim dan juga hanya dimiliki China serta Rusia.

Selain itu, Amerika diduga menggunakan Claude, sebuah model kecerdasan buatan, untuk memproses intelijen, memilih target, dan menjalankan simulasi militer. Semua ini terjadi di tengah perseteruan politik yang memanas dengan Anthropic, pembuat model tersebut.

Keberhasilan Besar, Tapi Belum Menjamin Akhir Perang

Sejauh ini, Amerika dan Israel disebut menikmati keberhasilan operasional yang cukup besar. Kepemimpinan politik Iran berada dalam kekacauan. Menurut Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, calon pemimpin tertinggi berikutnya, termasuk putra Khamenei, Mojtaba, juga masuk dalam daftar target pembunuhan.

Jenderal Caine mengatakan peluncuran rudal balistik Iran turun 86% dibanding hari pertama perang, dengan penurunan 23% hanya antara 3 dan 4 Maret. Serangan drone, tambahnya, juga turun 73%. Mungkin yang paling penting, sumber intelijen Israel menunjukkan tanda-tanda bahwa tentara Iran, polisi, dan anggota IRGC mulai tidak hadir untuk bertugas.

Meski begitu, pelemahan kekuatan militer yang begitu besar dan efektif tetap tidak otomatis menjamin runtuhnya rezim Iran. Padahal, itulah tujuan utama perang bagi Israel, dan juga salah satu tujuan Trump yang terus berubah-ubah.


CNBC INDONESIA RESEARCH
[email protected]

(evw/evw) Add as a preferred
source on Google



Most Popular