MARKET DATA

Bayang-Bayang MSCI: Seberapa Buruk Jejak Keluar-Masuk Investor Asing?

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia
27 February 2026 12:50
Pekerja melintas di depan layar Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin, (1/4/2024). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar modal Indonesia baru saja melewati periode satu bulan yang penuh turbulensi. Fluktuasi ekstrim yang terjadi sejak akhir Januari lalu berakar pada krisis kepercayaan dari lembaga indeks global, Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Keputusan MSCI untuk membekukan perubahan indeks bagi sekuritas Indonesia dipicu oleh keraguan terhadap integritas pasar, khususnya mengenai free float di bawah 5% yang dinilai rentan terhadap praktik manipulasi harga.

Isu fundamental ini secara langsung mendikte arah pergerakan arus modal asing dan kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sepanjang bulan Februari.

Seperti diketahui, bursa saham Indonesia mulai terguncang oleh persoalan MSCI sejak akhir Januari 2026.

Pada perdagangan Rabu (28/1/2026), IHSG anjlok hingga terkoreksi 7,35% ke level 8.320,56 atau turun 659,67 poin pada penutupan perdagangan. Bahkan pada level terendahnya IHSG sempat ambruk lebih dari 8% sehingga otoritas Bursa Efek Indonesia (BEI) melakukan perhentian perdagangan sementara (trading halt).

Trading halt lagi-lagi diberlakukan pada 29 Januari 2026 karena IHSG jeblok. 

Dinamika Inflow dan Outflow Modal Asing

Sorotan tajam MSCI terhadap transparansi struktur kepemilikan saham langsung direspons dengan tindakan pelepasan aset secara agresif oleh para pengelola dana global. Data transaksi bursa mencatatkan net outflow dalam skala masif seketika setelah sanksi tersebut diumumkan.

Pada 28 Januari, bursa mencatat outflow sebesar Rp6,17 triliun. Arus keluar ini mengalir deras secara berturut-turut dengan nilai Rp4,63 triliun pada 29 Januari dan Rp1,53 triliun pada 30 Januari.

Tren penarikan dana ini terus mendominasi paruh pertama bulan Februari, yang puncaknya kembali menyentuh angka penarikan Rp2,02 triliun pada tanggal 13 Februari.

Namun, arah pergerakan modal mulai menemui titik balik seiring dengan langkah taktis dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang merencanakan reformasi aturan batas minimum free float menjadi 15%, serta intervensi strategis dari entitas seperti Danantara. Komitmen perbaikan struktural ini secara bertahap berhasil memulihkan kepercayaan investor asing.

Fase akumulasi atau net inflow mulai terlihat solid sejak 18 Februari, di mana bursa membukukan arus masuk dana asing sebesar Rp1,44 triliun. Momentum ini bertahan dengan sangat konsisten. Bursa berturut-turut mencatat posisi beli bersih yang tebal, termasuk Rp1,14 triliun pada 23 Februari dan Rp1,37 triliun pada 24 Februari.

Puncak pemulihan likuiditas asing ini terjadi pada 25 Februari dengan catatan inflow mencapai Rp2,74 triliun, mengindikasikan bahwa investor institusi global mulai memposisikan kembali portofolionya di pasar domestik setelah adanya kejelasan regulasi.

Sehingga dapat disimpulkan semenjak terjadi isu yang dilontarkan oleh MSCI kepada Indonesia, Bursa Efek Indonesia (BEI) masih mengalami net outflow sebesar Rp11,28 triliun dengan momentum inflow yang masih tergolong sedikit sampai dengan penutupan perdagangan kemarin pada hari Kamis 26 Februari.

Fluktuasi Kinerja IHSG Pasca Pengumuman

Tekanan yang terjadi pada arus modal asing berbanding lurus dengan kinerja IHSG. Sebelum rilis keputusan MSCI, indeks komposit berada pada posisi yang sangat kokoh di level 8.980 pada 27 Januari 2026. Sanksi pembekuan tersebut seketika menekan indeks hingga anjlok ke 8.320 pada keesokan harinya.

Tekanan jual yang persisten memaksa IHSG menembus batas psikologis 8.000, hingga menyentuh titik terendah sebulan terakhir di level 7.922 pada perdagangan 2 Februari.

Meskipun indeks sempat terlihat menguat pada beberapa hari perdagangan di minggu pertama dan kedua Februari, pergerakan tersebut bukanlah pembalikan arah yang fundamental.

Kenaikan tersebut lebih didorong oleh rebound sesaat karena koreksi yang sudah cukup dalam, mengingat secara akumulatif arus dana asing masih terus mencatatkan posisi jual bersih dari bursa pada periode tersebut.

Stabilitas indeks yang sesungguhnya baru mulai terbentuk ketika likuiditas asing kembali masuk pada minggu ketiga. Bersamaan dengan arus masuk dana pada 18 Februari, IHSG berhasil ditutup menguat di posisi 8.310. Sejak saat itu, volatilitas harian mulai mereda dan indeks bergerak secara konsisten menjauhi area rentan.

Hingga akhir periode data pada 26 Februari, IHSG mampu mempertahankan posisinya dan ditutup pada level 8.235.

Rangkaian peristiwa selama satu bulan terakhir ini menjadi indikator bahwa transparansi dan perubahan regulasi secara simultan merupakan fondasi krusial untuk menjaga stabilitas valuasi pasar secara jangka panjang maupun untuk bisa kembali menyentuh ke level 9.000.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls) Add as a preferred
source on Google



Most Popular