Diam-Diam RI Ternyata Masih Impor Cangkul dari China- Pakistan
Jakarta,CNBCÂ Indonesia-Â Isu impor cangkul pernah menjadi perdebatan hangat pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo. Sekitar 2019 hingga awal 2020-an, pemerintah menilai pembelian alat pertanian sederhana dari luar negeri sulit diterima.
Cangkul lalu menjadi contoh yang sering disebut karena identik dengan industri kecil di dalam negeri. Data perdagangan waktu itu mencatat transaksi masih cukup besar. Volume impor mencapai ratusan ton dalam beberapa tahun sehingga memicu kritik terhadap pola belanja barang pemerintah dan kesiapan industri lokal.
Perkembangan terbaru memperlihatkan situasi yang berbeda. Data Badan Pusat Statistik (BPS) PS menunjukkan impor alat tangan pertanian masih muncul, namun skalanya mengecil. Nilai perdagangan berada pada kisaran ribuan hingga puluhan ribu dolar per tahun. Angka tersebut jauh di bawah posisi awal dekade.
Â
Perubahan terlihat jelas pada kelompok sekop datar HS 82011000.
Menurut BPS, Pada 2021 nilai impor tercatat US$63.102 dengan volume sekitar 59 ton. Setahun kemudian turun menjadi US$10.432 dengan volume 3,45 ton. Pergerakan berikutnya terus menyusut. Tahun 2023 tercatat US$8.862 dengan volume sekitar 1,7 ton.
Tahun 2024 sebesar US$9.515 dengan volume kurang dari satu ton. Pada 2025 nilai impor tinggal US$3.911 dengan volume sekitar 59 kilogram. Perdagangan yang dulu diukur dalam puluhan ton kini berada pada skala kilogram.
Satu Data Kementerian Perdagangan memperlihatkan sumber impor sekop pada 2025 tersebar di beberapa negara. Pasokan datang dari Pakistan, China, Belgia, Jerman, dan Rumania. Nilai impor yang kecil menunjukkan transaksi berlangsung dalam jumlah terbatas.
Untuk cangkul HS 82013010, skala perdagangan jauh lebih kecil. Impor pada 2022 tercatat US$254 dengan volume sekitar 38 kilogram. Tahun berikutnya tinggal US$64 dengan volume 2 kilogram. Tahun 2024 sebesar US$53 dengan volume yang sama. Pada 2025 nilai impor naik menjadi sekitar US$321 dengan volume sekitar 27 kilogram.
Angka tersebut menunjukkan impor cangkul berlangsung dalam jumlah yang sangat kecil dibanding awal dekade.
Kategori lain yaitu HS 82013090 yang mencakup mattocks dan picks masih mencatat nilai lebih besar dibanding cangkul biasa. Pada 2021 nilainya mencapai US$92.435 dengan volume sekitar 120 ton.
Tahun 2022 turun menjadi US$27.103 dengan volume sekitar 23 ton. Tahun 2023 tercatat US$5.944 dengan volume sekitar 1 ton. Tahun 2024 naik menjadi US$23.866 dengan volume sekitar 2,5 ton. Pada 2025 nilai impor tercatat US$28.906 dengan volume sekitar 609 kilogram.
Sumber barang untuk kategori ini pada 2025 berasal dari beberapa negara, yaitu Jepang, Jerman, Singapura, Amerika Serikat, dan Australia. Pola asal barang berbeda dengan sekop yang lebih banyak datang dari negara produsen alat sederhana.
Pada awal dekade volume impor alat tangan pertanian berada pada skala puluhan hingga ratusan ton. Sekarang, transaksi berlangsung dalam jumlah kecil. Impor tetap ada, namun posisinya jauh lebih rendah dibanding masa ketika isu cangkul ramai dibicarakan.
CNBCÂ Indonesia Research
(emb/emb) Addsource on Google