MARKET DATA

Begini Tradisi Puasa & Makanan Khas Warga Palestina Saat Ramadan

Amalia Zahira,  CNBC Indonesia
20 February 2026 04:15
Umat Muslim di Gaza, Palestina, telah menjalani hari pertama Ramadan 1446 H kemarin. Warga Gaza harus buka puasa di tengah bangunan yang hancur akibat perang. (REUTERS/Hatem Khaled)
Foto: Umat Muslim di Gaza, Palestina, telah menjalani hari pertama Ramadan 1446 H kemarin. Warga Gaza harus buka puasa di tengah bangunan yang hancur akibat perang. (REUTERS/Hatem Khaled)

Jakarta, CNBC Indonesia - Masyarakat Palestina dikenal dengan ketangguhannya. Di tengah berbagai tantangan sosial dan politik, masyarakat Palestina tetap mempertahankan tradisi Ramadan sebagai bagian dari kehidupan kolektif sekaligus simbol ketahanan budaya.

Persiapan Ramadan: Tradisi, Dekorasi, hingga Kuliner Khas

Menjelang Ramadan, suasana kota dan permukiman Palestina mulai berubah. Rumah, masjid, hingga jalan-jalan dihiasi lampu dan lentera khas Ramadan yang menciptakan atmosfer meriah sekaligus religius.

Pedagang juga mulai ramai menjual kebutuhan khas Ramadan seperti kurma, manisan, acar, serta berbagai minuman tradisional. Tradisi membuat dan menjual lentera bahkan menjadi sumber penghasilan tambahan bagi sebagian keluarga.

Dalam urusan kuliner, hidangan untuk berbuka puasa khas Palestina terkenal beragam.

Umat Muslim di Gaza, Palestina, telah menjalani hari pertama Ramadan 1446 H kemarin. Warga Gaza harus buka puasa di tengah bangunan yang hancur akibat perang. (REUTERS/Hatem Khaled)Foto: Umat Muslim di Gaza, Palestina, telah menjalani hari pertama Ramadan 1446 H kemarin. Warga Gaza harus buka puasa di tengah bangunan yang hancur akibat perang. (REUTERS/Hatem Khaled)
Umat Muslim di Gaza, Palestina, telah menjalani hari pertama Ramadan 1446 H kemarin. Warga Gaza harus buka puasa di tengah bangunan yang hancur akibat perang. (REUTERS/Hatem Khaled)

 

Tradisi Sosial: Dari Musaharati hingga Buka Puasa Keluarga

Ramadan di Palestina juga identik dengan tradisi sosial yang mempererat hubungan masyarakat. Salah satunya adalah tradisi musaharati, yaitu penabuh drum keliling yang membangunkan warga untuk sahur, mirip seperti tradisi sahur yang ada di Indonesia.

Buka puasa bersama keluarga besar juga menjadi kebiasaan penting. Selain mempererat hubungan kekeluargaan, tradisi ini memperkuat rasa kebersamaan di tengah kehidupan sosial yang dinamis.

Ada pula tradisi takaya, yakni dapur sosial Ramadan yang menyediakan makanan gratis bagi keluarga kurang mampu, yatim, atau masyarakat yang membutuhkan. Tradisi ini menunjukkan kuatnya nilai solidaritas dalam masyarakat Palestina.

Ramadan sebagai Simbol Ketahanan Budaya

Di tengah pembatasan mobilitas dan situasi politik yang kerap memengaruhi kehidupan sehari-hari, Ramadan tetap dirayakan dengan penuh makna. Aktivitas ibadah seperti salat Tarawih tetap berlangsung, meski akses ke beberapa tempat ibadah, termasuk kawasan suci tertentu, kadang terbatas.

Dengan segala dinamika yang ada, Ramadan di Palestina menjadi contoh bagaimana tradisi keagamaan sekaligus budaya dapat bertahan, bahkan menjadi sumber kekuatan sosial bagi masyarakat.

Anak-anak Palestina yang mengungsi memegang nampan saat mereka menyiapkan manisan tradisional untuk hari raya Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan puasa Ramadan, di Khan Younis di Jalur Gaza selatan pada 29 Maret 2025. (REUTERS/Hatem Khaled)Foto: Anak-anak Palestina yang mengungsi memegang nampan saat mereka menyiapkan manisan tradisional untuk hari raya Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan puasa Ramadan, di Khan Younis di Jalur Gaza selatan pada 29 Maret 2025. (REUTERS/Hatem Khaled)REUTERS/Hatem Khaled
Anak-anak Palestina yang mengungsi memegang nampan saat mereka menyiapkan manisan tradisional untuk hari raya Idul Fitri yang menandai berakhirnya bulan puasa Ramadan, di Khan Younis di Jalur Gaza selatan pada 29 Maret 2025. (REUTERS/Hatem Khaled)
(mae/mae)



Most Popular